Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 27


__ADS_3

"Dasar saudara gak ada sopan-sopan nya sama Abang nya sendiri," grutu Tio saat Rio dengan sengaja tanpa pamit langsung memutus sambungan telepon itu.


Di sebrang sana Rio justru terkekeh membayangkan wajah Tio yang pasti kesal karena dia (Rio) dengan sengaja mematikan sambungan telepon itu secara sepihak.


Benar saja dengan wajah yang masih kesal, Tio memasukkan ponsel nya pagi ke dalam saku celana.


Tio pun kembali menghampiri Nisa dengan wajah yang masih suram karena menahan rasa kesal akibat ulah Tio tadi.


"Maaf ya.... Biasa tadi Rio telepon," kata Tio menjelaskan namun ucapan tersebut hanyalah basa-basi saja agar tak terlihat canggung.


"Oh..... Sekarang di mana tuh anak?" Tanya Denis ke arah Tio.


"Nanti dia ke sini kok, kamu tunggu saja," kata Tio berpura-pura memasang wajah datar andalan nya saat ini.


'Ha Rio, pria itu?? Aku harus segera pergi dari sini, entahlah perasaan ku kok rasa nya tak enak begini,' batin Nisa.


Nisa pun menatap sekilas ke arah Tio dan langsung memalingkan wajahnya karena takut aksinya ketahuan oleh pria itu.


"Em.... Maaf tetapi aku harus pergi," kata Nisa sedikit gugup menatap ke arah lain karena entah kenapa dia sedikit takut melihat wajah Tio yang begitu dingin dan datar itu.


"Lho kok buru-buru sih?" Tanya Amanda sedikit heran namun dari nada nya terlihat begitu ramah karena dia baru saja akrab dengan Nisa.


'Aduh bagaimana ini? Aku harus segera pergi menghindar dari pria itu,' batin Nisa mata nya bergerak gelisah ke kanan kiri mencari alasan.


Melihat gelagat yang mencurigakan dari perempuan di depan nya itu membuat Tio yakin kalau perempuan itu pasti punya sesuatu yang di sembunyikan.


Tio tersenyum menyeringai, saat wajah itu terlihat semakin yakin melihat wajah pucat perempuan itu saat dia menyebut nama Rio.


"Kalian jangan pulang dulu, Rio sedang berjalan ke sini," kata Tio agar Denis tak membiarkan perempuan di sampingnya itu segera pergi.


"Nisa tunggu sebentar ya, kamu bisa di sini sebentar ya mengobrol dengan Amanda," tawar Denis dengan tatapan memelas.


Nisa pun menghela nafas berat, dia pun beralih untuk melihat wajah dari Amanda yang terlihat sedih. Akhirnya Nisa pun mengangguk mengiyakan permintaan Denis untuk tetap berada di sini sebentar lagi.


Nisa tak punya pilihan lain selain mengangguk tanda dirinya setuju.


"Terimakasih Nisa," kata Amanda dengan senang mengengam tangan Nisa.

__ADS_1


"Terimakasih karena kamu mau mendengarkan permintaan ku," jelas Denis dengan suara lembut menatap ke arah Nisa.


Nisa hanya bisa tersenyum kecut mendengar ucapan dari Denis. Sungguh Nisa baru sadar dan baru tahu kalau Denis adalah orang yang egois menurutnya, Denis sering menggunakan mulut manis nya.


'Semoga pria itu tidak mengenali ku,' batin Nisa.


Hanya itu yang bisa Nisa ucapkan di dalam hati nya saat ini. Dia begitu takut kalau pria bernama Rio itu tahu atau sempat melihat wajahnya.


Nisa pun di tarik Amanda menuju kursi untuk duduk dan melanjutkan obrolan nya tadi. Sedangkan Denis pun duduk di samping Amanda dan berhadapan dengan Denis, ya karena kedua pria itu mengikuti gadisnya untuk duduk bersama.


Tio sesekali melirik ke arah Nisa saat mengobrol dengan Denis.


'Lumayan lah, cocok untuk Rio yang pecicilan itu,' guman Tio di dalam hati nya menilai pribadi Nisa saat ini.


'Semoga kamu bisa membuat saudaraku itu tersenyum lagi,' batin Tio yang akhir-akhir ini sedih melihat kembarannya itu sering murung tak jelas.


Tio berharap perempuan di depan nya itu bisa mengembalikkan senyum di wajah kembarannya.


...-------...


Sedangkan di tempat berbeda...


Mendengar ucapan dari pria itu membuat mendongak menatap ke arah nya untuk mencari kebohongan, namun Lilis entah kenapa begitu yakin kalau pria itu tidak lah berbohong sehingga membuat Lilis langsung tersenyum bahagia.


"Hei tunggu dulu, kamu jangan senang dulu karena kebebasan yang kamu maksud itu bukan seperti yang kamu kira, kamu akan ku tempatkan di salah satu kamar di hotel ini dan aku akan menyuruh pengawal perempuan untuk menjaga dan mengawasi mu di dalam kamar nanti.


"Aku akan pergi menemui Tio, tolong kalian urus dia ," kata nya kepada para bodyguard dan menunjuk ke arah Lilis saat ini.


Tampilkan Lilis terlihat menyedihkan, baju nya terlihat kusut, rambutnya dan wajahnya terlihat berantakan karena menangis.


Rio mempercayakan Lilis kepada para bodyguard milik sang kakak ipar, Rio yakin kalau mereka tak akan melakukan hal yang macam-macam terhadap perempuan tadi.


Rio di susul Bimo pun bergegas kembali ke pesta tak lupa Rio merapikan jas nya terlebih dahulu tentunya.


Tap tap tap tap tap tap tap....


Terdengar bunyi langkah kaki menggema di seluruh ruangan membuat kedua orang itu pun menjadi pusat perhatian, ya siapa lagi kalau bukan Rio dan Bimo.

__ADS_1


Deg....


Tatapan Nisa terpaku pada sosok pria yang terlihat gagah dan tampan, detak jantung nya berdetak begitu kencang saat melihat pria itu semakin mendekat ke arah nya saat ini.


Sungguh-sungguh Nisa harap-harap cemas melihat kemunculan pria itu.


'Mereka sangat mirip, namun aura lelaki yang bernama Tio lebih menyeramkan di banding pria itu,' batin Nisa.


"Hei maaf ya menunggu lama," Rio berbicara dengan sopan menuju ke arah Denis namun tatapan matanya melirik ke arah Nisa yang tiba-tiba menunduk menyembunyikan ke gugupan dan rasa takut nya saat ini.


Tio, Rio dan Denis pun berbincang sebentar sampai akhir nya Tio membisikkan sesuatu kepada Denis.


Rio tatapan matanya sedari tadi tak berhenti menatap ke arah Nisa membuat Nisa merasa tak nyaman di buatnya.


'Kita bertemu lagi nona,' batin Rio melirik Nisa dengan seringai kecil di wajah tampan nya itu.


Tio pun mengajak Denis untuk berbincang, Tio ingin memberikan kesempatan untuk kembarannya saat ini.


Denis pun berjalan beriringan dengan Tio, entah mereka ingin membahas apa.


Rio pun mencoba mendekat ke arah Amanda, melihat itu Nisa semakin gelisah di buatnya.


Tiba-tiba terlintas sesuatu di pikirannya Nisa agar dia bisa selamat dari pria yang sepertinya sudah curiga kepada nya saat ini.


"Aduhhh tiba-tiba maag ku kambuh," lirih Nisa memegangi perutnya.


'Maafkan aku Amanda, karena harus membohongi mu,' lirih Nisa di dalam hati nya merasa bersalah.


Namun Nisa melakukan ini demi kebaikan dirinya saat ini.


"Ha Nisa kamu kenapa?" Tanya Amanda sedikit terlihat panik karena melihat wajah Nisa yang seperti kesakitan, Amanda khawatir keadaan Nisa tidaklah baik-baik saja.


"Denis...." Teriak Amanda saat Denis sedang berbicara dengan Tio saat ini.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.....


__ADS_2