
Ceklek.....
Pintu kamar mandi terbuka menampilkan sosok tampan hanya berbalut handuk sepinggang.
Siapapun yang melihatnya pasti terpesona dengan pandangan pertama, tubuh atletis Tio terlihat menggoda apalagi dalam keadaan basah bahkan masih ada sisa-sisa air yang menetes di tubuhnya. Apalagi perut itu begitu enak di pandang dengan
Amanda yang mendengar suara pintu terbuka pun menoleh dan tatapan nya tertuju kepada pria tampan yang tak lain adalah suaminya saat ini.
Amanda di buat tersipu, wajahnya berubah menjadi merah karena malu. Sungguh untuk pertama kalinya Amanda baru melihat dengan jelas tubuh Tio yang seperti ini, memikirkannya membuat Amanda bisa gila, apalagi tubuh itu sudah halal untuk di sentuh atau di lihat sepuasnya saat ini.
"Ehemmm.... Apakah kamu tidak ingin mencoba memegang nya," goda Tio saat melihat sang istri masih terbengong-bengong menatap ke arahnya saat ini.
"Hah...." Amanda langsung tersadar karena dia kepergok memandang ke arah suaminya tanpa berkedip sama sekali.
"Tidak...." Elak Amanda dengan cepat saat ini, dia tak mungkin mengakui kalau dia tengah terpesona melihat suaminya itu.
"A-ku mau mandi," kata Amanda mengalihkan pembicaraan itu meskipun dengan suara sedikit tergagap.
Belum sempat Tio berbicara, Amanda dengan cepat menyerobot masuk ke dalam kamar mandi. Karena posisi Tio masih berada di depan pintu kamar mandi.
Tio sedikit oleng saat bahu Amanda menyenggol dirinya, bukan nya marah justru karena ulah dari Amanda justru Tio terkekeh di buat nya.
Brak....
Pintu kamar mandi tertutup dengan cukup keras membuat Tio terlonjak kaget di buat nya.
Namun sesaat kemudian, Tio justru terkekeh lucu melihat wajah malu Amanda.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha......"
Tawa itu menggema di seluruh penjuru kamar.
Tio yang bosan menunggu Amanda mandi pun memilih duduk di atas ranjang sambil memainkan ponsel miliknya.
Tio sungguh di buat penasaran dengan saudaranya.
Tio pun mengirim pesan untuk Rio menanyakan keberadaan Rio saat ini.
Tring....
Belum ada satu menit pesan itu sudah di balas oleh Rio.
"Di kamar hotel menemani Nisa," jawaban dari Rio.
Tio pun mengerutkan keningnya binggung.
"Ngapain tuh anak di kamar hotel bersama tuh perempuan, ah jangan-jangan kembaran ku kebelet nikah," kata Tio kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
Tring..... Satu pesan masuk ke dalam ponsel Rio.
"Ha... Ngapain kamu di sana? Pergi dari sana takutnya kamu khilaf lihat perempuan cantik apa lagi kamu baru patah hati," kata Tio kepada Rio melalui pesan.
Tring....
"Ck santai saja, gampang kalau khilaf tinggal bawa ke KUA," seloroh Rio membalas candaan Tio.
Tio pun tak membalas pesan dari saudara nya yang tak berfaedah itu.
"Dasar.... Ck punya saudara gini amat, habis putus cinta jadi eror tuh otak," grutu Tio mengumpat saudara kembarnya yang tak lain adalah Rio.
Tio pun memilih berselancar di dunia Maya, bukan untuk mencari hiburan atau mencari teman melainkan untuk belajar cara menaklukkan hati wanita, untuk diajak melakukan tugas nya sebagai seorang istri (malam pertama).
"Ck masa aku harus melakukan seperti yang ada di sini, ck ini apaan lagi harus merayu nya dengan gombalan aneh seperti ini," grutu Tio saat membaca berbagai macam rayuan yang terdengar menggelikan di telinganya.
Ceklek.....
Tio menatap ke arah Amanda.
G L E E K K...
"Saat nya mempraktekkan semua nya ," guman Tio dengan suara kecil kepada dirinya.
Sedangkan di tempat berbeda ....
"Ha ha ha ha ha ha ha ha," Rio tertawa sendiri membaca pesan dari kembarannya.
'Apa pria itu setengah miring ya, masa dia tertawa sendiri,' batin Nisa bergidik ngeri.
Rio melirik ke arah Nisa yang terlihat aneh menurut nya.
"Apa kamu berfikir kalau aku 9ila, ck aku masih waras," kata Rio menatap tajam ke arah Nisa.
Jlebbb....
Nisa kaget, bagaimana tidak kenapa Rio bisa tahu apa yang selalu dia pikirkan.
"Ck jangan berfikir macam-macam, aku orang biasa. Wajah kamu menunjukkan semuanya, tuh ada tulisan di jidat kamu mana gede banget,"
Nisa terbelalak mata nya mendengar ucapan dari Rio. Dengan cepat dia menuju ke arah cermin.
Nisa menelusuri wajahnya, dia melihat tidak ada apa-apa di wajahnya saat ini.
Nisa menghampiri Rio dengan cepat, dia ingin protes karena tak menemukan apapun.
"Ish mana tidak ada kok," sungut Nisa memprotes ucapan dari Rio tadi yang mengucapkan ada tulisan besar di kening nya.
__ADS_1
"Ha ha ha ha ha ha, lucu banget sih kamu pengen ku gigit," kata Rio terkekeh tak lupa tangan nya mencubit pipi Nisa membuat Nisa semakin kesal.
"Pergi sana," usir Nisa merasa kesal melihat pria itu sering muncul di hadapannya dan membuatnya kesal.
"Kamu ngusir aku?" Tanya Rio memastikan.
"Iya aku ngusir kamu, masa kamu gak ngerti sih," jawab Nisa cepat.
"Harus nya tuh kamu yang sadar, ini kamar aku," kata Rio dengan telak cukup membuat Nisa terdiam.
'Eh iya ya, kan dia yang bawa aku ke sini harusnya kan aku pergi dari sini,' batin Nisa.
Nisa pun terdiam, dia berjalan menuju ke arah pintu.
Ceklek ceklek.....
Namun pintu itu masih tak bisa terbuka, Nisa lupa kalau pintu itu terkunci.
Sedangkan Rio binggung, dia terdiam melihat tingkah laku wanita itu, Rio membiarkan nya karena ingin melihat apa yang akan di lakukan perempuan itu.
Nisa kembali ke arah rio, tangan nya mengadah ke arah Rio.
"Mana kunci nya?" Tanya Nisa.
"Buat apa?" Tanya Rio mengerutkan keningnya.
"Ya buat buka pintu lah, kan tadi kamu bilang kalau ini kamar punya mu jadi aku mau pulang dan tidur di kosan aku yang nyaman," kata Nisa dengan enteng, dia melupakan sesuatu yang penting saat ini.
"Apa kamu lupa pesan ku hah, kita besok akan menikah jadi aku harus menjaga kamu agar tidak kabur," jawab Rio menyeringai lebar.
"Aku kan belum setuju, mana ada orang nikah mendadak," protes nya.
"Ada nih kita buktinya, tenang nanti kamu tinggal dudu manis," kata Rio dengan enteng nya.
"Tetapi....." Nisa belum selesai berbicara namun perkataan nya di potong oleh Rio dengan cepat.
"Sudah cepat kamu tidur di ranjang, aku akan tidur di sofa," perintah Rio.
Nisa masih terdiam engan mendengarkan ucapan dari Rio saat ini.
"Atau kamu mau aku menyeret mu ke tempat tidur dan ME NI DUR KAN MU baby," kata Rio menekan kan kata.
Nisa melotot, dia tahu apa arti ucapan dari pria itu.
"Dasar pria mesum...."
Nisa mengomel dan tak lupa menghentakkan kakinya ke lantai karena kesal, mau tak mau Nisa pun naik ke tempat tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1
Rio memperhatikan Nisa dengan senyum kecil di wajahnya, setelah itu dia pun membaringkan tubuhnya di sofa, Rio bersyukur karena sofa itu cukup besar untuk dirinya.
Bersambung.......