Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 76


__ADS_3

"Apakah kamu kenal Ansel Harvis?" Tanya Rio secara tiba-tiba menatap ke arah Nisa yang sedang mengoleskan cream di wajahnya.


"An sel Asel Harvis....." guman Nisa mengerutkan keningnya, dia mencoba mengingat nama itu, nama itu terasa begitu familiar di telinganya.


Deg....


Nisa tertegun sejenak, dia ingat nama itu. Nama yang sering dia panggil saat dia kesulitan sewaktu kecil, nama yang sering membantunya di saat dia dibully oleh anak-anak nakal. Nama yang setiap hari selalu dia sebut sampai keduanya berpisah karena orang tua Ansel pindah keluar negeri.


Flash back on Nisa....


''Kak Ansel kejar aku," teriak Nisa kecil berumur 7 tahun.


"Nisa tunggu kakak," teriak Ansel yang sudah berumur 12 tahun.


"Ha ha ha ha kak Ansel lamban seperti siput," ejek Nisa kecil.


Keduanya berlari di pinggir pantai.


"Maaa kak Ansel nakal," teriak Nisa kecil saat Ansel berhasil mengendong Nisa dan memutar-mutar tubuh kecil itu.


"Ha ha ha ha ha ha ha," tawa Ansel maupun Nisa pun pecah.


🍭🍭🍭


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks, kak Ansel mereka jahat," kata Nisa kecil menunjuk ke arah beberapa anak laki-laki, saat itu Nisa kecil sedang di ganggu teman-teman laki-laki sekelasnya.


Ansel datang menolong Nisa dan mengendong Nisa kecil untuk di antarkan pulang ke rumah.


🍭🍭🍭


"Kak Ansel jangan pergi, jangan tinggalin Nisa," teriak Nisa kecil sambil berlari mengejar mobil Ansel.


Ansel hanya menatap Nisa yang berlari, Ansel melambaikan tangannya sambil berteriak. "Nisa tunggu aku pulang."


Nisa kecil berhenti, dia mengatur nafasnya kala dirinya tak kuat lagi mengejar laju mobil yang semakin cepat.


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks, kenapa kak Ansel pergi."


Flash back off....


Sekelebat bayangan itu muncul.


"Di-dia...." Nisa tak berani meneruskan ucapannya.

__ADS_1


"Kamu kenal?" Tanya Rio memicingkan matanya, pandangannya begitu tajam menatap lurus ke arah Nisa.


"Dia...." Belum selesai Nisa meneruskan ucapannya, Rio sudah menyela dengan cepat.


"Orang yang berniat menculik mu kemarin adalah orang suruhan Ansel Harvis," jelas Rio agar Nisa tahu apa yang sebenarnya.


Nisa mengelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang Rio katakan, Nisa tahu orang yang bernama Ansel itu bukan orang seperti itu dan untuk apa dirinya menculik Nisa.


"Aku tak tahu apa hubunganmu dengan pria yang bernama Ansel itu, tetapi aku tidak akan pernah melepaskan mu sampai kapanpun. Yang sudah menjadi milikku akan tetap menjadi milikku sampai kapan pun," batin Rio menatap Nisa dengan pandangan begitu rumit.


"Aku tidak berbohong," sambung Rio menegaskan ucapannya tadi di dasarkan pada kebenaran.


"Tidak mungkin," lirih Nisa mengelengkan kepalanya, masih menyangkal semuanya.


"Dia bukan orang seperti itu," Nisa begitu tak percaya dengan ucapan Rio, dia mengenal Ansel waktu kecil, pria itu begitu baik kepadanya.


"Terus orang yang bagaimana? Orang yang kamu anggap baik itu telah menyuruh orang untuk menculik mu," geram Rio.


"Dia teman masa kecilku, mana mungkin dia mau menculik ku terus untuk apa," lirih Nisa.


"Mungkin dia tak rela aku menikah dengan mu," kata Rio dengan sinis menatap ke arah Nisa.


Nisa tertegun mendengar ucapan dari Rio.


Nisa masih terdiam karena dirinya masih memikirkan semua yang diucapkan Rio tadi.


"Sudah jangan bahas sesuatu yang tidak penting," kata Rio.


"Karena aku telah mengatasinya sampai dia tak akan berani muncul dihadapan mu atau memikirkan mu sekalipun," sambung Rio di dalam hatinya saat ini.


"Ayo kita makan malam," ajak Rio menyadarkan Nisa dari lamunannya.


"Iya," jawab Nisa menyudahi merias wajahnya.


Rio mengandeng tangan Nisa secara tiba-tiba tentu hal itu membuat Nisa kaget namun itu hanya sesaat, Nisa langsung tersenyum karena Rio seperti memperlakukan dirinya secara sepesial. Rio selalu menunjukkan sikap romantisnya kepada Nisa meskipun hal kecil mampu membuat Nisa tersentuh.


Keduanya pun berjalan beriringan ke dalam meja makan.


Berbeda dengan Rio dan Nisa yang semakin romantis meskipun akan ada kerikil yang akan menghambat perjalanan cinta mereka, saat ini Tio sedang menenangkan sang istri yang merajuk karena hal kecil menurutnya.


"Sayang jangan ngambek lagi ya, kamu salah paham," bujuk Tio saat ini sedang memeluk Amanda erat.


"Lepaskan aku," Amanda meronta-ronta mencoba melepaskan pelukan Tio.

__ADS_1


"Tidak mau, aku tidak akan melepaskan mu sebelum kamu mau mendengarkan ucapan ku,"jawab Tio masih menguatkan pelukannya .


Amanda melirik sinis ke arah Tio.


"Sayang please," pinta Tio memelas.


"Baiklah, tetapi lepaskan aku dulu. Sesak tau," grutu Amanda mengerucutkan bibirnya.


"He he he he he, maaf," kata Tio baru sadar memeluk tubuh sang istri dengan begitu erat karena takut sang istri marah dan keluar pergi meninggalkan dirinya sendirian.


Tio melepaskan pelukannya dan menarik tangan sang istri untuk duduk di sofa yang tak jauh dari tempat tidur.


Saat Amanda sudah duduk, tiba-tiba Tio merebahkan kepalanya di atas pangkuan sang istri.


Amanda hanya bisa melotot menatap ke arah sang suami.


"Perempuan tadi menabrak ku, terus minuman yang dia bawa tumpah di kemeja ku," kata Tio menjelaskan kejadian tadi.


"Terus kenapa dia peluk-peluk kamu," sinis Amanda.


"Dengarkan dulu aku sampai selesai berbicara," pinta Tio sedikit kesal karena dia belum selesai menjelaskan kejadian tadi, namun sang istri sudah menyela ucapan nya itu.


"Hmmm lanjutkan...." Kata Amanda.


"Minuman wanita itu tumpah mengenai kemeja ku jadi dia berinisiatif mengusapnya dengan tisu, aku berkali-kali menolak saat tangan perempuan itu mengusap baju ku tetapi perempuan itu tidak menghiraukan ku jadi karena kesal aku mendorongnya dan membuang kemeja ku ke tempat sampah. Saat kamu datang tiba-tiba perempuan itu memelukku erat, aku sempat melotot karena kaget di buatnya dan mencoba melerai pelukan perempuan gila itu namun kamu langsung pergi begitu tanpa menghiraukan pembelaan dari ku. Aku bersumpah aku tak tahu siapa perempuan itu dan kenapa tiba-tiba dia memelukku," jelas Tio panjang lebar menjelaskan semuanya, dia tak ingin sang istri merajuk.


"Oh.....! Benar begitu, tidak ada yang kamu tutupi kan?" Tanya Amanda dengan pandangan menyelidik.


Tio mengelengkan kepalanya sambil menunjukkan 2 jari berbentuk V.


"Jadi aku boleh ya tidur di sini," kata Tio mengedipkan mata nya lucu.


"Hmmm...." jawab Nisa malas.


"Terima kasih sayang," kata Tio berbinar.


Emuaccccchhhh


Emuahhhhh


2 kecupan mendarat di pipi Amanda. Amanda berpura-pura melotot ke arah Tio, melihat reaksi sang istri, Tio dengan cepat berlari ke atas tempat tidur dan berpura-pura tidur.


Tanpa Tio ketahui ternyata Amanda terkekeh lucu mengingat kepanikan pria yang telah menjadi suaminya itu. Namun dengan cepat Amanda menormalkan wajahnya berpura-pura cuek dan naik ke tempat tidur.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2