
Tok tok tok tok tok tok....
Mendengar seseorang mengetuk pintu, Arin bergegas bangun dan membenahi rambutnya.
Ceklek....
"Eh Rio kenapa?" Tanya Arin penasaran kenapa sang adik bisa muncul di depan nya saat ini.
"Em apa aku boleh masuk kak?" Tanya Rio dengan ragu, bukannya menjawab pertanyaan dari sang kakak Rio justru meminta untuk masuk ke dalam.
"Ayo," Arin menarik tangan sang adik.
Saat ini keduanya duduk di atas sofa saling berhadapan.
"Ada apa?" Tanya Arin menatap ke arah sang adik.
"Kak...." Rio terdiam binggung harus menjelaskan dari mana.
"Bicaralah, kakak akan mendengarkan nya," pinta Arin yang tahu adiknya tengah tak baik-baik saja, entah ada masalah apa namun sebagai kakak dia harus bisa memberikan sang adik kenyamanan.
"Tetapi aku mohon kakak jangan menyalahkan ku, aku ingin kakak mendengarkan semuanya tanpa memotong ucapan ku nanti," pinta Rio.
Arin menghela nafas panjang lalu mengangguk setuju.
"Kak kemarin saat aku pergi untuk memantau toko cabang kita yang baru dan bernegosiasi dengan beberapa orang yang ingin bekerja sama dengan kita, kak tentu ingat kan waktu itu?" Tanya Rio membuat Arin mengangguk.
"Saat itu aku sempat mampir menemui Renata, ternyata aku memergoki Renata jalan bersama laki-laki yang ku tahu itu adalah sahabatnya. Saat itu aku juga sempat mendengar desas-desus yang mengatakan kalau keduanya berpacaran terlebih lagi keduanya sering jalan bareng. Saat ku konfirmasi semuanya kepada Renata, Renata mengakuinya kak.... Hiks hiks hiks hiks hiks hiks, aku orang yang paling bodoh sampai tak tahu semuanya," kata Rio sesenggukan menahan kesedihannya apalagi mengingat saat Renata mengatakan semuanya itu benar dengan wajah tak bersalah.
Arin terdiam, langsung duduk di samping sang adik merengkuh sang adik yang tengah rapuh itu kedalam pelukannya.
"Mungkin Renata bukan jodoh mu," hanya itu yang Arin mampu ucapkan sambil mengelus punggung sang adik dengan penuh kasih sayang.
Tangis Rio pun berhenti, mungkin benar apa yang dikatakan oleh sang kakak kalau Rena bukan jodoh nya.
"Saat itu aku sedih dan terpukul sampai ketika kembali ke hotel, aku berpapasan dengan teman ku dan salah satu rekan usaha kita jadi saat mereka menawariku tuk minum di club' aku mengiyakan saja," jelas Rio membuat Arin melepaskan pelukannya dan menatap ke arah Rio.
__ADS_1
Arin bisa tebak setelah itu, Arin berfikir sang adik pasti melakukan one night stand dengan perempuan dan sekarang perempuan itu hamil.
'Ah semoga semua itu tidak seperti yang ku pikirkan, aku tak ingin kejadian yang menimpaku terjadi kepada adikku,' guman Arin di dalam hatinya memohon.
"Jangan bilang kalau perempuan itu hamil?" Tebak Arin.
Rio mengelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Fyuuuhh....." Arin bernafas lega.
"Terus...."
Arin sudah tak sabar mendengarkan sang adik melanjutkan ucapannya tadi.
"Saat itu aku mabuk parah dan untungnya teman ku itu membawa ku kembali ke hotel, tetapi....."
Arin awalnya merasa lega namun setelah mendengar lanjutan cerita Rio, Arin semakin cemas apalagi sang adik menjeda ucapannya dan membuat Arin takut.
Rio menatap ke arah sang kakak, berat untuk melanjutkan nya namun Rio sudah setengah jalan jadi Rio harus jujur, apalagi hanya sang kakak nanti yang mampu meyakinkan sang Bunda.
Arin memijit keningnya yang tiba-tiba merasa pusing.
"Saat ku tinggal mandi, wanita itu pergi dan ku cari kemana pun tak menemukannya sampai aku meminta bantuan kak Abraham namun hasilnya sama. Perempuan itu seakan hilang di telan bumi,"
"Ha jadi suami kakak sudah tahu hal ini?" Tanya Arin dan Rio mengangguk.
'Dasar suami ku itu, kenapa tidak memberitahukan semuanya,' grutu Arin di dalam hati.
Glekkk....
'Aduh perang dunia nih,' batin Rio saat sadar sang kakak pasti kesal dengan kakak iparnya itu.
"Aku meminta kak Abraham merahasiakan semuanya dari kalian termasuk Tio juga belum tahu," kata Rio.
"Terus mau kamu apa? Kan perempuan itu kabur," tanya Arin.
__ADS_1
"Em aku sudah menemukan wanita itu, meskipun menurut penjelasannya kita belum sempat melakukan apa-apa karena malam itu aku langsung tertidur mungkin efek mabuk berat. Tetapi aku ingin menikah dengan nya," jelas Rio dengan menunduk.
Tio tak menjelaskan semuanya, tentang Lilis yang berniat menjebaknya. Rio tak ingin sang kakak khawatir.
"Apa benar kamu ingin menikah dengan wanita itu, kakak takut itu semua karena rasa bersalah mu saja atau sekedar pelampiasan karena putusnya kamu dengan Renata. Pernikahan itu suci dan harus ada pondasi yang kuat, kakak takutkan nanti rumah tangga mu akan berakhir karena kamu terburu-buru mengambil keputusan, pikirkan lagi dari hati mu," kata Arin mencoba menasehati dan membuka pemikiran sang adik tentang hatinya.
Rio tertunduk namun tiba-tiba senyum Nisa muncul di depan nya membuat Rio binggung dengan perasaan nya saat ini.
"Apakah perempuan itu mau menikah dengan mu?" Tanya Arin penuh selidik.
Apalagi mendengar dari cerita Rio tadi kalau perempuan tadi sempat kabur dan mungkin bersembunyi.
"I-ya kak," jawab Rio dengan gugup.
"Benar..." Arin menatap sang adik penuh selidik.
"Apa kamu ancam dia?" Tanya Arin sekali lagi.
Rio terdiam gugup tak tahu harus menjawab apa.
"Ck dasar kamu, kebiasaan kamu lama-lama mirip dengan kakak ipar kamu suka memaksa," grutu Arin.
"Pokoknya kak cuma minta kamu jangan pernah sakiti perempuan itu dan cintai dia dengan tulus karena kita tidak tahu kedepannya bagaimana," jelas Arin memberikan nasihat.
"Besok aku akan menikah dengan Nisa," kata Rio membuat Arin mendelik kesal.
"Terus persiapannya bagaimana?" Kata Arin memijit keningnya merasa pusing permintaan sang adik yang terkesan begitu tergesa-gesa.
"He he he he he, kan ada kak Abraham," jawab Rio cengengesan membuat Arin melotot.
"Ya sudah, cepat sana bilang ke bunda nanti bunda kaget kalau besok kamu nikah tetapi bunda gak tahu," grutu Arin mendorong sang adik keluar dari kamarnya.
"Ck pusing aku," keluh Arin melihat kelakuan sang adik yang bisa-bisa nya memaksa perempuan menikah.
Bersambung.....
__ADS_1