
Berbeda dengan Tio yang sudah sampai di negara tujuan, saat ini Rio masih berada di dalam pesawat membelai rambut Nisa meskipun dengan sedikit kecanggungan.
Rio mencoba membuat Nisa nyaman selama berada di dalam pesawat mengingat awal keberangkatan tadi Nisa merasa gugup dan mengengam tangan Rio dengan erat.
Rio menyunggingkan senyumnya mengingat tentang kejadian tadi saat pesawat tengah berangkat.
~Flash back beberapa jam yang lalu~
"Kenapa?" Tanya Rio menyergit heran.
"Aku takut," lirih Nisa mengengam tangan Rio sambil memejamkan mata nya.
"Takut kenapa? Tanya Rio penasaran.
"Aku baru pertama kali naik pesawat," jawab Nisa dengan jujur tak menutupi semuanya karena memang kenyataan begitu, bahkan saat ini tubuh Nisa bisa dikatakan tidak baik-baik saja. Keringat dingin mulai membasahi kening Nisa saat ini.
Rio tak pernah menyangka akan hal itu, dia pun paham apa yang tengah dirasakan istri nya itu.
__ADS_1
Rio bisa merasakan ketakutan yang dialami oleh perempuan di dekatnya itu, apalagi tangan Rio sedari tadi di genggam Nisa dengan erat entah untuk mengurangi rasa gugup bercampur takut.
"Pejamkan saja mata mu sebentar sampai pesawat benar-benar mengudara, setelah itu tenangkan pikiran mu karena ini tak seburuk apa yang kamu pikirkan. Ingatlah ada aku di samping mu menemani mu saat ini jadi biarkan rasa takut mu hilang dan nikmatilah perjalanan pertama mu naik pesawat dengan ku," kata Rio dengan penuh kelembutan mencoba menghibur atau mengurangi ketakutan yang ada di dalam hati Nisa saat ini.
Nisa mendongak menatap ke arah Rio, mencoba meresapi apa yang di ucapkan pria tampan yang sudah resmi menjadi suaminya itu.
Nisa memejamkan matanya sesuai dengan perintah Rio tadi. Namun rasa takut masih ada apalagi pesawat sedikit terguncang.
"Tidak apa-apa, tenang percaya kepada ku. Rileks....." Kata Rio menenangkan sambil mengusap kepala sang istri dengan lembut.
Nisa mencoba lagi yang di perintahkan oleh Rio sekali lagi.
Nisa pun akhirnya bisa tenang, mungkin karena efek ketakutan tadi membuat Nisa merasa tak bertenaga, Nisa pun memejamkan matanya agar dia bisa sedikit tenang dan benar saja Nisa malah menyenderkan kepalanya di dada Rio yang membuatnya terasa nyaman, lama-lama Nisa akhirnya tertidur mungkin dia merasa mengantuk, apalagi Rio masih setia mengelus kepala Nisa.
He he he he he he he.....
Rio di buat terkekeh melihat istrinya itu malah tertidur dengan lelap.
__ADS_1
"Kamu begitu mengemaskan, ingin rasanya aku mengigit pipi tembam ini," bisik Rio di telinga Nisa namun karena tidur Nisa yang nyenyak, suara Rio seakan tak terdengar di telinga perempuan cantik itu. Nisa tak terusik sekalipun meskipun Rio juga sempat mencubit pipi Nisa meskipun pelan.
~Flash back off~
"Apa nanti kita berhenti di negara B dulu?" Tanya Gre membuyarkan lamunan Rio saat ini.
Gre menyarankan untuk singgah dulu di negara lain dulu untuk beristirahat takutnya Nisa masih merasa takut. Gre ingin mengantisipasi agar Rio dan Nisa tidak bosan atau kelelahan berada di pesawat, apalagi jarak ke negara P cukup jauh dan membutuhkan waktu selama 16 jam lebih.
"Itu kedengarannya bagus, aku akan mengajak Nisa jalan-jalan sebentar di negara B sebentar untuk memulihkan mood Nisa yang hilang tadi," kata Rio setuju dengan usulan dari Gre.
"Baik, aku akan memberitahumu nanti kalau sudah sampai di negara sebelah, kamu bisa istirahat dulu sebentar," kata Gre melalui pengeras suara.
"Terima kasih Gre," kata Rio masih dengan senyum manisnya. Senyum sedari tadi yang tak luntur dari wajah Rio.
Gre di minta oleh Abraham untuk menjaga Rio, Gre bukan hanya bisa menjalankan pesawat terbang namun dia juga bisa menjadi bodyguard juga.
Itulah keistimewaan yang dimiliki oleh Gre.
__ADS_1
Bersambung...