
"Biar aku diantar oleh pak supir saja," kata Nisa menolak usulan dari pria bertubuh tegap di depannya itu.
"Kalau begitu kita akan mengikuti nona dari belakang takutnya nanti ada sesuatu yang tidak di inginkan," pria di depannya itu masih kukuh untuk mengawal Nisa karena takut kejadian seperti kemarin akan terulang lagi.
Nisa menghela nafas berat, dia menatap pria di depannya dengan sedikit kesal. Mau tak mau Nisa hanya bisa mengangguk setuju meskipun dengan berat hati.
"Kalau begitu silahkan nona tunggu sebentar, saya akan memanggil supir untuk mengantarkan nona," kata pria itu sebelum akhirnya bergegas untuk pergi meninggalkan mereka menuju ke arah paviliun belakang tempat di mana semua pelayan, supir, tukang kebun dan para bodyguard tinggal.
Tak butuh waktu satu jam cuma 15 menit semua sudah siap di depan mansion.
"Silahkan nona," kata pak supir dengan ramah mempersilakan Nisa masuk ke dalam mobil.
"Maaf nona kalau saya lancang, kita mau kemana nona?" Tanya supir itu dengan sopan.
Semua pekerja yang ikut Tuan Abraham adalah orang-orang pilihan jadi dari tutur kata maupun sikap dan perbuatannya pun selalu di pantau Abraham, memalui orang-orang suruhan nya dan di setiap tempat terpasang cctv dan tidak ada satu tempat yang luput dari pantauan Abraham, kecuali tempat-tempat yang privasi.
"Ke alamat ini ya pak," kata Nisa memberikan selembar kertas berisi alamat yang akan dia tuju.
"Baik nona."
Nisa menatap kaca mobil melihat pemandangan yang ada di luar. Jalanan terlihat lancar bahkan mata Nisa tak berhenti menatap ke arah jalanan yang dia lalui, banyak toko dan pedangan kecil menjual berbagai makanan maupun cemilan.
Nisa tak menapakkan senyum sama sekali, dia hanya melihat semua itu dengan datar untuk mengalihkan isi hatinya yang sedang dalam keadaan yang tak baik-baik saja.
20 menit mobil berhenti di depan gedung berlantai 4 yang terlihat begitu ramai.
Nisa menghela nafas panjang sebelum turun dari mobil. Nisa menyiapkan hatinya kalau benar saja semua itu seperti yang ada di pikirannya nanti.
"Aku harus siap dengan semua yang ku lihat nanti," lirih Nisa di dalam hati nya menyakinkan dirinya agar kuat.
"Nona sudah sampai," kata supir saat membuka pintu.
Nisa segera turun. "Terima kasih pak,"
"Saya tunggu di tempat parkir atau ikut nona ke dalam?" Tanya supir.
__ADS_1
Nisa terdiam berfikir. " Bapak pulang saja, nanti saya pulang naik taksi saja," tolak Nisa.
"Tetapi nona, saya tidak bisa meninggalkan nona sendirian nanti tuan Rio bisa marah kepada saya," jawab supir itu menolak karena merasa takut tuan mudanya (Rio) marah.
"Ha ha ha ha ha, marah. Bahkan dia (Rio) saat ini mungkin masih menemani mantan kekasihnya, ah atau lebih tepatnya kekasih," guman Nisa di dalam hatinya saat ini dengan miris menertawakan nasibnya saat ini ataupun nanti.
"Bapak pulang saja, nanti kalau urusan saya sudah selesai saya akan meminta bapak untuk menjemput saya," bujuk Nisa agar pria paru baya itu segera pergi.
"Baik nona," jawab sang supir dengan berat hati meninggalkan Nisa sendirian masuk ke dalam mobil, namun sang supir masih tidak melajukan mobilnya.
Nisa berjalan dengan langkah pasti menuju ke dalam sedangkan sang supir menatap punggung Nisa yang berjalan menjauh dengan pandangan rumit.
"Sebenarnya apa yang dilakukan nona di rumah sakit ini," guman sang supir dengan pikiran yang rumit. Setelah itu sang supir menyalakan mobil dan melaju pergi meninggalkan tempat itu.
"Nona tunggu," cegah salah satu bodyguard yang tiba-tiba muncul di depan Nisa.
"Kenapa?" Tanya Nisa heran, mereka masih mengikuti Nisa dan masih belum pergi.
"Ijinkan saya menemani nona masuk ke dalam," pintanya.
Dengan sedikit tak rela, bodyguard itu menangguk.
Nisa pun masuk, dia berjalan menuju lorong-lorong rumah sakit.
Saat tanpa sengaja Nisa berpapasan dengan suster, Nisa pun bertanya dimana letak ruangan yang di tuju. Pria asing itu sempat mengirimkan pesan tempat/kamar di mana Renata di rawat.
Sampailah Nisa di depan pintu itu.
Nisa terdiam membeku, dia menatap ke arah kaca rumah sakit itu dengan tatapan nanar.
Hatinya terasa sesak, membuat air matanya mengalir tanpa dia minta. " Ternyata semua itu benar," lirih Nisa mengusap wajahnya kasar dan berbalik pergi namun tanpa di duga Nisa.
Brakkkk....
Dia tanpa sengaja menabrak suster yang membawa beberapa peralatan medis dan bunyi peralatan yang berbenturan dengan lantai cukup keras mengundang perhatian orang yang ada di dalam ruangan.
__ADS_1
Deg....
"Nisa...." Guman Rio dengan lirih.
Rio bergegas keluar dari ruangan, sedangkan Nisa berulangkali meminta maaf sebelum pergi dengan cepat meninggalkan tempat itu saat tahu Rio sudah melihat dirinya.
"Nisa tunggu...." Teriak Rio berusaha mengejar langkah kaki Nisa namun Nisa berlari cukup cepat.
Tiba-tiba di belokan kepala Nisa berdenyut nyeri, pandangannya sedikit kabur. Tubuh Nisa ambruk namun belum sampai menyentuh lantai tubuh Nisa di topang seseorang.
Pria itu awalnya kaget namun dengan cepat dia membopong Nisa menuju ke ruangan dokter. Saat pria itu baru saja membuka pintu ruangan dokter tanpa sengaja melihat Nisa berlari dan pria itu pun berjalan menghampiri Nisa saat melihat Nisa memegang kepalanya, pria itu khawatir dan mempercepat langkah kakinya.
Rio berlari namun dia di buat binggung harus memilih jalan yang mana saat dia sudah sampai di belokan terdapat jalan ke kiri dan kanan. Rio menatap ke arah keduanya namun tidak melihat Nisa hanya melihat pria membelakangi dirinya seperti tergesa-gesa mengendong seseorang.
Rio menjambak rambutnya kasar.
"Nisa di mana kamu? Mungkin dia pulang ke mansion, mau kemana lagi kan dia tidak punya teman dan tidak begitu hafal jalan di sini!" Lirih Rio.
Rio bergegas pergi meninggalkan rumah sakit, dia begitu khawatir dengan keadaan Nisa apalagi Nisa mungkin salah paham dan berfikir macam-macam mengingat tadi Nisa pasti melihat dirinya mengengam erat tangan Renata.
Sesampainya di parkiran.
"Tuan," seseorang bergegas menghampiri Rio saat melihat dirinya.
"Kalian masih di sini?" Tanya Rio menyergit heran.
"Iya tuan, kami masih menunggu nona Nisa," jawab bodyguard tadi.
Wajah Rio langsung berubah muram.
"Kalian di sini, cari keberadaan istri saya masi di dalam. Saya mau pulang ke mansion takutnya dia sudah pulang tanpa sepengetahuan kalian," jelas Rio dengan raut wajah tegas.
Bodyguard itu memilih diam meskipun dia heran bercampur binggung. "Sebenarnya apa yang terjadi?" Guman bodyguard tadi tentunya di dalam hati saja.
Bodyguard itu mengangguk patuh, Rio pun bergegas menuju ke arah mobilnya dan melakukan dengan kencang.
__ADS_1
Bersambung.....