
Pagi hari....
"Sayang kamu di mana?" Teriak Rio dengan keras saat tak menemukan keberadaan sang istri di sampingnya saat ini. Rio begitu panik takut sang istri tiba-tiba pergi meninggalkan dirinya. Rio tak sanggup membayangkan semua itu.
Kring .....
Kring....
Kring....
Rio bergegas turun dari ranjang. Dia mengambil ponselnya karena mengira yang mengirimkan pesan tadi adalah Nisa istrinya namun bukan nama Nisa melainkan nama Ardimas. Rio malas menanggapi bahkan membuka pesan saja dia tidak lakukan, dia tak ingin membaca pesan itu dan berlari ke arah Renata karena khawatir. Rio tak bodoh, dia tak akan melakukan kesalahan yang sama. Dia ingat cerita sang kakak ipar (Abraham) dalam mencari keberadaan Arin sang kakak dulu. Rio tak ingin Nisa salah paham lagi dan berujung Nisa kabur membawa bayi mereka, ah sungguh Rio tak bisa bayangkan semua itu.
Kring....
Ponsel berbunyi lagi, menandakan pesan masuk.
Tio lagi-lagi mengabaikan bunyi ponselnya, dia hanya meliriknya malas karena melihat nomor Ardimas lagi tertera di sana.
"Ck ganggu saja, memang aku masih khawatir dengan keadaan Renata karena bagaimana pun dia pernah menjadi seseorang yang spesial di hidup ku namun sekarang ada Nisa yang harus ku jaga perasaannya. Maaf mungkin ini pertemuan kita terakhir kalinya Renata," batin Rio menatap ponsel yang masih menyala itu.
Rio menaruh kembali ponselnya ke atas meja dan tak lupa mengunci ponsel itu setelah memblokir nomor Ardimas.
"Sayang, kamu di mana sekarang?" Teriak Rio saat berjalan keluar kamar mencari keberadaan sang istri.
Rio berpapasan dengan salah satu pelayan.
__ADS_1
"Hai kamu melihat istriku?" Tanya Rio menghentikan pelayan yang lewat.
"Nona Nisa saat ini sedang ada di taman belakang, nona meminta tukang kebun untuk memetik buah anggur," jelas pelayan tadi dengan menunduk takut melihat tuannya itu seperti sedang marah.
Semua pekerja di sini wajib mengerti bahasa dari negara Rio jadi Nisa tidak pernah kesulitan selama di sini.
Mendengar perkataan dari pelayan itu membuat Rio menyergit heran. "Ngapain dia repot-repot memetik buah, apa dia tidak tahu ya kalau itu kan belum matang," kata Rio dengan heran.
Pelan itu hanya diam, cuma bisa menjawab dalam hati. "Mana ku tahu, tanya aja tuh sama istri anda," kalau saja Rio mendengarnya pasti orang itu langsung di tendang Rio dari sini saat ini juga.
"Ya sudah kamu boleh pergi," kata Rio mengibaskan tangannya menyuruh pelayan itu pergi. Pelayan itu langsung pergi dengan jalan cepat agar dia selamat.
Rio berjalan ke arah taman belakang yang di tunjukkan oleh pelayan tadi, dia menatap ke arah taman belakang dengan kening mengkerut. Rio menatap Nisa yang sedang asyik bersantai di bawah payung sedangkan tukang kebun itu mondar-mandir di suruh Nisa. Rio mengelengkan kepalanya heran dengan kelakuan aneh istrinya itu.
Tukang kebun itu sudah protes namun Nisa bilang petik saja asal rasanya tidak pahit.
Rio melihat itupun mengelengkan kepalanya, dia juga ingat dulu sang kakak Arin pernah mengerjai kakak iparnya Abraham dengan meminum jus aneh buatan Kakaknya itu (Arin), bukannya mengerjai tetapi dengan alasan ngidam. Apa istrinya juga begitu, Rio membayangkan saja sudah bergidik ngeri.
Rio memilih berbalik, perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak. Saat Rio berbalik tanpa sengaja Nisa melihat itu dan memanggilnya.
"Sayaaaaang siniii...." Teriak Nisa dengan keras membuat Rio merinding sekaligus ngeri.
G L E E K....
"Kenapa aku merinding ya melihat senyum manisnya," batin Rio saat melihat Nisa memanggil dirinya dengan riang dan senang.
__ADS_1
"Bapak pergi saja, biar buahnya nanti di bawa suamiku," perintah Nisa.
Nisa berjalan menghampiri Rio dengan ceria, dia langsung mengandeng tangan Rio saat keduanya sudah berdekatan.
Greppp....
"Sayang ayo kita bertiga masak-masak yuk," ajak Nisa.
"Bertiga," tanya Rio menyergit heran.
"Hmmm.... Benar bertiga kenapa?" Bukannya menjawab Nisa justru mengangguk dan bertanya kembali membuat Rio semakin pusing di buatnya.
"Sabar Rio, ingat bocil di dalam perutnya," grutu Rio di dalam hatinya dengan cepat.
"Bertiga? Kita kan berdua sayang. Satunya siapa? Tanya Rio menahan rasa sabar.
"Oh..." Nisa mengangguk.
"Ayang lupa nih yang satu," tunjuk Nisa ke arah perutnya.
"Sudah jangan bawel deh, pusing aku jawabnya. Cepat bawa tuh buahnya masuk," kata Nisa menunjukkan ke arah buah anggur yang ada di keranjang.
Rio pun mengambil buah itu dan mengikuti langkah kaki Nisa yang sedari tadi menariknya dengan cepat. Rio hanya bisa pasrah.
Bersambung....
__ADS_1