Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 22


__ADS_3

Lilis yang masih tak percaya dengan apa yang di alaminya saat ini pun di buat binggung tak mengerti, bagaimana tidak harusnya setelah dia berbicara seperti itu di hadapan semua orang, terus reaksi mereka pasti akan bertanya tentang apa yang terjadi dan tentunya peran Lilis adalah menangis dan seolah-olah dia adalah korban seperti yang ada di dalam drama-drama yang dia tonton. Namun reaksi berbeda di tunjukkan oleh keluarga ini justru berbeda dari yang dia bayangkan. Ingin rasanya Lilis berteriak dan bilang saja tadi di hadapan semua tamu kalau dia hamil tentunya anak dari mempelai laki-laki itu namun semua tinggal khayalannya saja.


Bbbbraaaak.....


Bughhhhh.....


Tubuh itu langsung tersungkur di lantai, saat tadi tubuhnya sengaja di tarik ke ruangan ini namun sampai di depan ruangan ini tubuhnya langsung di dorong di hempas kan secara paksa ke dalam ruangan yang seperti kamar karena di sini terdapat kasur namun cukup kecil.


Lilis mengiba menatap ke semuanya, semua orang yang berada di sana.


Bunda yang melihat semua itu terjadi di depannya berusaha meraih LIlis untuk menolongnya, namun Abraham tentu tak akan membiarkan itu terjadi.


''Aku tak akan membiarkan bunda membantu perempuan itu, bunda jangan tertipu dengan wajah polosnya saat ini,''jelas Abraham menatap sinis ke arah perempuan itu.


''Nak bunda tak tega melihatnya,'' lirih bunda menatap Lilis dengan rasa kasihan saat ini.


''Bunda sebentar lagi tak akan berbicara seperti itu setelah tahu niat buruk wanita ular ini, percayalah dengan saya bunda karena saya bisa tahu mana ular dan kelinci,'' kata Abraham dengan begitu jelas bahkan mengumpamakan mereka dengan kelinci sebagai wanita yang polo cenderung baik apa adanya dan ular seperti perempuan licik yang punya sejuta cara untuk mencapai keinginannya.


Lilis ingin rasanya menangis saat tak ada satu orang pun yang berusaha untuk menolong dirinya saat ini juga. Apalagi pria tampan penuh dengan kharisma di depannya saat ini justru mendominasi keadaan di sekitarnya.


''Hei lepaskan aku, aku yang seharusnya berada di pelaminan saat ini karena aku lebih pantas berada di sana dengan Tio," teriak Lilis dengan marah membuat bunda, Tio maupun Amanda terkejut di tempat nya saat ini.


Amanda menatap ke arah Tio dengan pandangan yang rumit, seolah ingin meminta penegasan dari ucapan wanita itu kepada Tio.


Bunda langsung lemas, namun dengan cepat bodyguard yang berada di dekat bunda langsung sigap memberikan kursi yang berada di luar dan menarik nya untuk di duduki Bunda.


"Terimakasih," lirih bunda tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha, aku saja tidak kenal kamu dan kamu seenaknya berbicara seperti itu," sinis Tio tertawa namun bukan tawa bahagia melainkan tawa yang terdengar marah.


Tio sengaja tak membalas tatapan mata Amanda dengan penjelasan, dia tahu kalau suasana hati istrinya itu tak baik-baik saja karena ucapan dari wanita yang tak tahu asal usulnya.


"Cih..."

__ADS_1


Abraham menatap sinis nan tajam ke arah Lilis saat ini membuat tubuh Lilis langsung menggigil ketakutan.


'Siaaaaal kenapa aku bisa-bisanya tidak memprediksi semua ini, aku harusnya cari tahu dulu bagaimana latar belakang keluarga pria itu dengan jelas. Dasar Beno ogeb cuma bilang kalau dia adalah pemilik perusahaan dan mempunya 2 saudara, terus siapa pria matang di depan ku ini yang punya aura begitu menyeramkan,' guman Lilis dalam hatinya merutuki kebodohannya yang percaya saja dengan penjelasan teman nya tanpa mencari tahu lagi dengan jelas.


Tio menatap Amanda dengan penuh kasih sayang.


" Sayang tolong bawa bunda ke kamar untuk beristirahat, tolong juga kamu temani bunda. Percaya padaku kalau perempuan ini berbicara bohong, biar aku dan kak Abraham yang mengutus semua ini," jelas Tio panjang lebar sambil meminta sang istri menjaga bunda, perempuan yang sudah melahirkan dirinya dan berjuang sampai Tio bisa sampai sekarang.


Amanda mengangguk terus membantu bunda berdiri.


"Ayo bunda kita ke kamar, biarkan Tio dan kak Abraham yang mengurus semuanya," kata Amanda meraih tangan sang bunda untuk membantu nya berdiri.


"Tetapi bagaimana dengan wanita itu?" Tanya bunda yang masih tak tega.


"Biarlah saya yang urus semuanya, bunda ke kamar saja tetapi tolong jangan beritahu Arin agar dia tidak berfikir aneh-aneh," saut Abraham tak lupa meminta bunda untuk merahasiakan semuanya dari istrinya.


Setelah kepergian bunda dan Amanda, tinggallah Tio, Abraham, Bimo dan 2 bodyguard yang mendorong Lilis tadi.


"Tidak aku tidak salah, dia adalah orang yang merebut kesucian ku malam itu," raungan Lilis dengan begitu keras karena saat ini dia sedang memberontak dari 2 bodyguard yang hendak mengikat tangan dan kaki nya tak lupa Lilis juga menunjuk ke arah Tio tanpa ada keraguan sedikit pun.


"Apa kamu tidak lagi bermimpi, bahkan aku saja tak mengenalmu," sinis Tio.


"Tidak, aku tahu itu kamu," kata Lilis mengelengkan kepalanya menolak Tio tak mengakui nya.


"Diam..." Bentak Abraham membuat suasana langsung hening seketika.


Abraham pun mengambil kursi dan duduk dengan menyilangkan kakinya. Abraham melirik Tio agar dia diam.


Tio pun patuh karena tak ingin membuat marah sang kakak ipar namun Tio sedikit tak suka saat melihat wanita di depan nya itu masih kekeh dengan pendiriannya.


Abraham dengan santai mengeluarkan ponsel di saku jas mewahnya.


Tut....

__ADS_1


"Cepat kamu datang ke kamar 139," kata Abraham kepada seseorang di sebrang sana.


Tut....


Panggilan langsung di putus Abraham sepihak.


Tio masih terdiam menatap sang kakak ipar yang terlihat santai.


Benar saja 5 menit terdengar seperti orang yang sedang berlari.


Brakkk....


Hos hos hos hos hos hos hos...


Pintu terbuka menampilkan seseorang pria dengan tampilan sedikit berantakan, karena dia harus berlari agar tak membuat kakak iparnya itu menunggu lama.


"Kak..."


Tio dan Abraham langsung menoleh.


"Urus perempuan ini, perempuan ini saksi kejadian di hotel waktu itu," jelas Abraham membuat Tio semakin binggung dengan ucapan dari kakak iparnya.


Rio pun akhirnya sadar, dia menatap ke arah perempuan yang masih menatap nya dengan iba.


Lilis mendongak menatap ke arah pria yang baru datang.


Deg...


Matanya terbelalak melihat pria itu sama persis dengan Tio, bahkan tidak ada yang bisa membedakan kecuali potongan rambut dan postur tubuh saja.


Tio memilih diam, mengawasi keadaan karena dia sejujurnya masih belum paham dengan apa yang terjadi terus apa hubungannya dengan dia dan Rio.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2