
"Eugghhhhh....." Nisa mengeluh, dengan kondisi masih menutup kedua matanya dan merentangkan kedua tangannya namun tanpa di duga tangannya menyenggol sesuatu. Nisa perlahan membuka matanya, dia menoleh ke arah samping ternyata Nisa melihat Rio yang sedang tertidur pulas di sampingnya.
"Tampan...." Lirih Nisa menatap intens wajah Rio. Wajahnya terlihat begitu damai.
Entahlah Nisa seakan tak bosan-bosan untuk menatap wajah yang sudah halal itu.
Tanpa sadar tangan Nisa terulur menyentuh wajah pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu. Tangan itu bergerak menelusuri wajah Rio mulai dari hidung, alis, mata dan turun ke bibir.
"Kenapa bulu matanya begitu lentik," guman Nisa dengan suara kecil namun masih bisa di dengar oleh Rio karena jarak keduanya begitu dekat.
"Meskipun dia tertidur tetapi wajahnya masih saja terlihat begitu tampan," kata Nisa tersenyum kecil masih menatap intens,tak henti-hentinya Nisa mengagumi ketampanan pria di depannya itu.
Greeppp....
Tangan Nisa di cekal Rio.
"Ehh...." Nisa memekik kaget, mata jernih itu langsung bertatapan dengan mata Rio, dengan cepat Nisa menarik tangannya karena malu ketahuan mengangumi ketampanan sang suami. Namun sia-sia saja Nisa tak akan bisa menarik tangannya karena tangan Nisa di genggam erat oleh Rio.
"Sudah puas menyentuh wajah tampan ku ini?" Kata Rio dengan suara seraknya khas bangun tidur.
"Ti-dak kok," elak Nisa.
"Ayo kita tidur lagi, aku masih mengantuk," ajak Rio dengan cepat memeluk tubuh Nisa dengan erat.
"Ini sudah malam, kamu tidak ingin mandi terus makan malam," tanya Nisa memalingkan wajahnya kesamping agar tidak bersentuhan dengan wajah Rio karena jarak keduanya begitu dekat.
"Tadi sore aku sudah mandi saat kamu tidur," jawab Rio.
"Ya sudah aku mau mandi dulu terus menyiapkan kamu makanan," kata Nisa mencoba memberontak melepaskan pelukan Rio yang erat itu.
"Stttt..... Diamlah, kamu tidak perlu memasak karena di sini banyak pelayan," kata Rio semakin mengeratkan pelukannya.
Nisa pun hanya bisa pasrah karena Rio tak mau melepaskan dirinya.
"Kamu tak ingin melepaskan pelukanmu, aku ingin mandi. Lihatlah jam berapa sekarang," kata Nisa menunjuk ke arah jam yang terdapat di dinding kamar itu.
"Nanti saja, aku masih ingin memelukmu. Kamu juga tidak perlu khawatir, kamu bisa mandi air hangat nanti," kata Rio tanpa bantahan.
Kring....
Kring....
" Tuh ponsel kamu berbunyi," kata Nisa.
"Biarkan saja nanti juga berhenti sendiri," jawab Rio dengan cuek masih tak perduli ponselnya berbunyi berkali-kali, Rio seakan tak ingin melepaskan pelukannya itu.
Kring....
__ADS_1
Kring....
"Cepat angkat, siapa tahu penting," bujuk Nisa saat melihat Rio malah memejamkan matanya ingin kembali tertidur.
"Ck menganggu saja," kesal Rio. Rio pun dengan malas menoleh kesamping mengambil ponselnya.
Dia mengerutkan keningnya saat melihat nama kembarannya terpampang di layar.
Tut...
"Halo...." Jawab Rio saat menjawab panggilan dari Tio.
Ya yang meneleponnya adalah Tio.
Nisa melihat itupun langsung mengambil kesempatan, dia bergegas bangun dari tidurnya lalu berlari menuju ke arah kamar mandi tentunya tak lupa membawa baju ganti karena di dalam kamar mandi sudah tersedia handuk.
Rio hanya mengelengkan kepalanya melihat tingkah laku istrinya yang begitu mengemaskan itu.
"Ha ha ha ha ha ha, lucu banget sih," guman Rio terkekeh lucu.
"Hei kamu kenapa ketawa, ada yang lucu?" Tanya Tio di sebrang sana.
"Tidak kok," elak Rio.
"Oh ya kenapa malam-malam kamu menghubungiku?" Tanya Rio.
"Ck dasar, tanya apa jawabnya apa," grutu Rio memutar bola matanya malas.
"Maksudku kenapa kamu menghubungiku?" Tanya Rio berusaha bersabar menghadapi kembarannya yang sebelas duabelas dengannya itu sama-sama menjengkelkan.
"Aku ingin bertanya, apa kamu yang sudah mengacak-acak perusahaan milik Ansel?" Tanya Tio terus terang.
"Bukan," elak Rio mencoba membohongi kembarannya itu.
"Ck jangan berbohong, aku tahu kamu meskipun selama ini kamu menyembunyikan semua itu kepada kami," kata Tio dengan tenang.
"Kalau iya kenapa?" Tanya Rio penasaran, mengapa pagi-pagi Tio menghubungi dirinya dan cuma menanyakan itu saja.
"Sebenarnya tadi malam aku sudah mengirim pesan sama bang Bimo dan mungkin pesan itu juga sudah sampai kepada kak Abraham. Jadi pagi ini aku ingin menyelidiki dan membuat usaha Ansel itu gulung tikar tetapi aku kalah start dari mu ternyata kamu sudah membuat perusahaan besar itu kacau dalam hitungan jam saja," jelas Tio panjang lebar kepada Rio tak lupa Tio juga mengungkapkan pikirannya saat ini.
"Hmmm....! Aku cuma ingin memberikan terapi jantung buat tuh orang, yang seenaknya saja menganggu istriku," jawab Rio menyeringai lebar.
"Kenapa kamu tidak bergabung saja di perusahaan ku dan kak Abraham," ungkap Tio ingin Rio bergabung dengan keduanya.
"Tidak, aku sudah nyaman dengan semua ini. Kamu lupa ya aku juga punya restoran, toko kue dan pabrik kue juga dan beberapa cafe kecil. Itu saja aku sudah kerepotan mengurus semuanya," jawab Rio entah pamer, mengeluh atau sekedar memberitahu.
"Ck ternyata aku kalah dengan mu, usahamu banyak sedangkan aku cuma punya satu perusahaan," kini justru Tio yang masam mendengar jawaban dari kembarannya itu.
__ADS_1
"Ha ha ha ha ha," tawa Rio menggema membayangkan wajah masam kembarannya itu.
"Ya sudah, kalau begitu aku tutup dulu. Ingat kalau ada apa-apa jangan lupa menghubungi ku," kata Tio mengingatkan Rio agar selalu menghubungi dirinya dalam keadaan terdesak.
"Tentu aku akan meminta bantuan mu kalau aku malas atau bosan," jawab Rio.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha," keduanya pun tertawa bersama.
"Ya sudah salam buat Amanda, jangan buat dia lelah," kata Rio di akhiri sindiran.
"Hmmm..." Jawab Tio masam.
"Jangan buat Nisa lemas juga," balas Tio tersenyum lebar.
Tuttttt...... Panggilan pun di putus Tio sepihak.
"Dasar saudara gak ada akhlak, salam dulu lek. Main tutup aja," kesal Rio.
"Siapa??" Tanya Nisa saat keluar dari kamar mandi dan melihat Rio mengomel tak jelas.
"Apa?" Tanya Rio mengerutkan keningnya.
"Tadi yang telephon?" Tanya Nisa kepada Rio.
Entahlah kenapa Nisa ingin tahu siapa yang sudah menelpon Rio tadi.
"Tio," jawab Rio singkat.
"Ohhh....." Nisa mengangguk setuju.
Nisa pun melangkahkan kakinya menuju meja rias. Disana sudah ada berbagai merek makeup yang berjejer rapi di sana.
Nisa menoleh menatap Rio, Rio mengerti arti tatapan itu.
"Itu semua aku yang siapakan," jawab Rio.
Nisa heran bagaimana Rio bisa tahu mengenai makeup.
"Aku tak tahu merek apa yang sering kamu gunakan, aku hanya meminta kepada kepala pelayan untuk menyiapkan semuanya. Ya semoga kamu suka itu saja pikiranku," jelas Rio panjang lebar.
Nisa mengangguk dan tersenyum, dia bisa melihat semua makeup itu bukan merek biasa.
"Terima kasih," kata Nisa dengan tulus.
Rio pun mengangguk. " Syukurlah kalau kamu suka," kata Rio.
Bersambung....
__ADS_1