
Rio mengelus dadanya pelan, dia terlonjak kaget mendengar pintu itu di tutup dengan kencang.
"Sabar sabar, orang sabar jidatnya lebar. Eh salah orang sabar makin subur. He he he he he.... Duh salah lagi, tau ah binggung mending aku lanjutin ngecek email dari Leo."
Rio mengatakan itu dengan cengengesan setelah itu dia fokus melihat ponselnya kembali memeriksa semua email yang dikirim Leo, salah satu orang kepercayaan nya.
Memang saat ini Rio tengah membuka cabang restoran baru, awalnya dulu Rio ingin mencoba bisnis baru yang sama di bidang kuliner, karena respon yang bagus jadilah Rio mempunyai beberapa cabang restoran di beberapa kota besar. Rio ingin membuktikan bahwa dia juga bisa mandiri seperti Tio. Meskipun kembar keduanya memiliki ke sukaan yang berbeda, Rio lebih suka dengan pemikiran santai jadi Rio memulai semua dengan memilih meneruskan usaha kue Arin dan kalau Tio suka dengan tantangan jadi memilih setuju dengan tawaran sang kakak ipar yaitu Abraham dengan bekerja membantu di perusahaan nya dan sampailah Tio bisa mendirikan perusahaannya sendiri. Keduanya bekerja berusaha sampai bisa seperti saat ini.
"Oh ya aku harus menghubungi Kak Abraham, untuk memberitahu kalau aku masih belum sampai dan singgah di negara ini agar kak Arin dan bunda tak khawatir," guman Rio.
"Em enaknya ku telepon atau kirim pesan ya? Ah kirim pesan saja takutnya kak Abraham sedang sibuk," guman Rio.
Setelah berperang dengan pikirannya itu Rio pun mengirim pesan ke pada sang kakak ipar yang tak lain adalah Abraham. Rio bernafas lega setelah mengirim pesan, bisa-bisanya dia lupa memberi kabar kepada keluarganya saat ini.
"Untung saja aku ingat, kalau tidak nanti kak Arin mengomel tak jelas karena aku melupakan pesannya kemarin,"
"Oh ya, apa aku belikan Aurel dan Abrian oleh-oleh di tempat ini saja ya, takutnya nanti di negara P aku kelupaan dan tuh bocil nanti ngambek apalagi Aurel bisa ngomel dan merengek tak jelas,"
Setelah itu Rio pun melanjutkan pekerjaannya tadi yang sempat tertunda.
Ceklek...
5 menit Nisa akhirnya keluar.
Rio pun membereskan semua barang yang dia keluarkan tadi dan memasukkannya ke dalam koper kembali. Tak lupa Rio mengambil dompet dan tak lupa ponselnya jangan sampai tertinggal.
Rio pun melangkah berjalan menuju ke arah pintu.
"Ayo cepat lelet banget sih," kesal Rio karena Nisa yang tak kunjung mengikuti langkah kaki nya keluar dari kamar.
Nisa menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal.
__ADS_1
"Ish sabar dong, aku mau dandan dulu," kata Nisa mencebikkan bibirnya.
"Tidak perlu dandan, kamu mau sarapan bulan ngerayu laki-laki, ayo cepat jangan banyak alasan." Kata Rio enteng.
"Ish dasar es batu. Apa kamu tidak sadar semua gara-gara kamu. Kamu sih enak sedangkan aku masih kesakitan, seharusnya kamu tanggung jawab." grutu Nisa pelan namun dengan nada kesal.
Puk... Rio menepuk keningnya pelan, dia telah melupakan sesuatu yang penting untuk saat ini.
"Hehe maaf aku lupa," kata Rio cengengesan, dia langsung berbalik menatap ke arah Nisa.
Dan....
Hap....
Tubuh Nisa melayan karena di bopong Rio. Nisa pun langsung memekik kaget karena tanpa banyak bicara Tio mengendong dirinya. "Aaahh...."
Tak lupa Rio juga menutup pintu kamar.
"Ish kamu buat aku kaget saja, ayo turunin aku," pinta Nisa.
"Kan tadi kamu bilang masih sakit jadi aku tanggung jawab dengan gendong kamu biar kamu tidak kesakitan dan kita cepat sampai di restoran," jawab Rio singkat seolah menjelaskan kepada Nisa.
"Turunin! Aku malu," kata Nisa menyembunyikan wajahnya di dada Rio karena beberapa orang yang mereka lewati menatap keduanya heran. Namun Rio memilih cuek tak menanggapi karena Rio merasa tak melakukan salah apapun jadi kenapa harus malu itulah yang Rio pikirkan.
"Kenapa harus malu, kita suami istri yang halal dan mereka pasti akan bilang ini wajar kalau tahu kita adalah pengantin baru," ucap Rio menatap Nisa dengan menyeringai membuat Nisa merinding di buatnya.
Akhirnya sampailah Rio di depan restoran. Rio pun memasang wajah datar andalannya.
"Maaf tuan apa bisa saya bantu?" Tanya salah satu bodyguard menghampiri Rio karena melihat Rio membopong tubuh Nisa saat ini.
"Tidak, aku hanya tak ingin istriku kelelahan," jawab Rio mengibaskan tangannya agar bodyguard itu pergi.
__ADS_1
"Saya permisi tuan," bodyguard itu menunduk dan segera pergi meninggalkan Rio.
"Kamu mau turun di sini atau...." Belum sempat Rio meneruskan ucapannya Nisa dengan cepat menjawab.
"Di sini saja," jawab Nisa cepat karena dia tak ingin bertambah malu, apalagi Nisa sempat mengintip melihat pengunjung restoran itu cukup ramai. Nisa tak ingin menjadi bahan tontonan mereka.
Rio pun menurunkan Nisa. Setelah mengedarkan pandangannya melihat meja kosong tak jauh dari sana.
"Kita ke sana." Kata Rio menunjuk ke tempat kosong.
Nisa pun mengekori di belakang Rio, Nisa bersyukur Rio berjalan dengan sedikit pelan untuk mengimbangi langkah Nisa yang pelan menahan sedikit rasa tak nyaman.
Rio juga menarik kursi dan mempersilahkan Nisa untuk duduk, perlakuan manis itu membuat perempuan yang berada di sana dibuat iri olehnya.
Rio memangil pelayan untuk mencatat pesanannya.
"Kamu diam saja, biar aku yang pesan. Aku tak mau kamu meminum minuman itu lagi dan berakhir dengan konyol," kata Rio merebut buku menu dari Nisa membuat Nisa cemberut dibuatnya.
"Apa kamu tidak tahu kalau gara-gara minuman itu kamu mabuk dan ah sudahlah..." Grutu Rio kesal mengingat saat di restoran kemarin Nisa meracau tak jelas bahkan membuat ulah dengan membuka 2 kancing kemeja milik Rio di depan beberapa pengunjung, Rio sedikit bernafas lega karena pengunjung kemarin malam tidak terlalu banyak.
"Ma-af aku kan tidak tahu, ku kira itu minuman biasa, tetapi rasanya memang sedikit aneh sih," guman Nisa dengan suara kecil namun masih bisa di dengar oleh Rio.
"Jangan bilang kalau kamu tidak tahu kalau itu adalah wine minuman yang alkohol nya cukup tinggi?" Tanya Rio menatap ke arah Nisa penuh selidik.
"Aku tidak tahu, kan aku tidak pernah minum minuman begitu. Paling sering juga cuma jus sama teh manis saja," ungkap Nisa dengan jujur membuat Rio menghela nafas panjang.
Pantas saja Nisa tak tahu minuman yang di minumnya.
"Lain kali kalau pesan makanan atau minuman harus yang kamu ngerti, jangan pernah untuk meminum minuman seperti kemarin lagi, kalau tidak aku akan menghukum mu dengan tidak boleh keluar kamar seharian," perintah Rio tentunya diakhiri dengan ancaman agar istrinya itu tak melakukan kecerobohan lagi.
Bersambung.....
__ADS_1