
Dengan cepat Nisa mengelengkan kepalanya, langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan nya saat ini.
Nisa hanya bisa pasrah kemana laki-laki itu akan membawa dirinya pergi, Nisa memilih diam tak berani sekedar protes lagi mengingat ancaman tadi yang di ucapkan oleh pria itu, ancaman dari pria itu yang cukup mengerikan bagi nya. Mana mau dia di cium lagi oleh pria yang menurutnya asing, bagaimana pun Nisa tak mengenal pria di depannya dengan baik. Pertemuan mereka di awali dengan hampir hilang nya sesuatu yang berharga dari nya, yang Nisa ingat adalah hampir......
Ah Nisa jadi ikut hanyut dalam lamunannya membayangkan dulu bagaimana rasanya di cium paksa oleh pria itu, Nisa mendengus sebal mengingat ciuman pertama nya waktu itu yang diambil paksa oleh pria yang mengendong nya saat ini.
Ciuman yang harusnya dia berikan untuk suami nya nanti, ah tetapi Nisa masih beruntung, itulah pikirannya.
Untung saja dulu dia bisa selamat kalau tidak, mungkin Nisa akan menendang burung milik pria itu kalau bertemu di tempat lain, biar dia tahu rasa itulah yang di pikirkan oleh Nisa saat ini.
"Aku tahu pasti kamu sedang memikirkan sesuatu yang buruk tentang ku," kata Rio saat Nisa tengah menatapnya dengan mengelengkan kepalanya.
'Kenapa dia terlihat mengemaskan saat seperti itu,' batin Rio sesaat terpesona dengan wajah cantik Nisa yang terlihat cantik di mata nya.
Sungguh lucu menurut Rio saat ini.
'Apa dia bisa menebak pikiran orang lain,' batin Nisa bertanya-tanya saat ini.
"Jangan sok tahu, seolah-olah kamu itu tahu semua tentang ku. Atau mungkin kamu punya kemapuan untuk membaca pikiran ku ya, sepertinya iya," sinis Nisa menatap Rio kesal.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha.... Ternyata kamu begitu lucu. Aku tidak punya kemampuan itu, aku juga sama seperti kamu, aku bisa menebak semua itu karena terlihat jelas di wajahmu saat ini," jelas Rio menatap Nisa dengan terkekeh lucu.
Sedangkan Nisa hanya bisa mendelik sebal ke arah pria itu. Pria yang mampu membuat hari-hari damainya hilang seketika.
Tiba-tiba langkah kaki itu berhenti di depan sebuah pintu kamar hotel, tubuh Nisa langsung bergetar hebat, pikiran negatif pun muncul di pikirannya saat ini.
'Apa yang dia mau lakukan kepada ku sampai dia membawa ku ke sini. Ah jangan-jangan dia mau melakukan sesuatu kepada ku mengingat dia dulu tak berhasil. Aku harus turun dari gendongan pria ini dan melarikan diri secepatnya,' batin Nisa ketakutan.
Nisa mencoba meronta untuk turun dari gendongan Rio saat ini saat mengetahui kalau pria itu membawanya ke dalam kamar hotel.
Bagaimana tidak Nisa berfikir macam-macam mengingat awal pertemuan mereka yang begitu penuh dengan bayangan menyakitkan.
"Lepas....." Nisa masih meronta-ronta di pelukan Rio.
"Lepaskan aku, aku hanya ingin pulang takutnya teman ku mencari ku saat ini," pinta Nisa dengan wajah memelas, dia harus berbicara seperti itu agar pria itu tidak membawanya masuk.
__ADS_1
"Sudah jangan berisik dan kamu jangan takut karena aku tidak akan melakukan apapun kepada mu, aku cuma ingin memeriksa kondisi mu saja saat ini," jelas Rio dengan ucapan datar nya karena dia bisa menebak ke mana arah pikiran wanita di dalam gendongannya nya saat ini.
"Tolong turunkan aku," pinta Nisa.
"Tidak, nanti perut kamu sakit lagi," tolak Rio.
"Turunkan aku, lepas kan aku karena kamu bisa lihat sendiri kan kalau aku saat ini baik-baik saja," jelas Nisa meronta dari gendong Rio saat ini agar dia segera di turunkan.
"Ck dasar tak tahu berterima kasih," sungut Rio.
"Aku tidak meminta nya," sahut Nisa ikut terbawa emosi karena ucapan yang keluar dari mulut pria itu.
"Tadi kamu bilang sedang sakit jadi aku berinisiatif untuk membawa mu ke dalam sini dan memanggil kan mu dokter. Ah sepertinya kamu sudah sehat atau sehari tadi kamu tidak apa-apa dan cuma berpura-pura sakit," kata Rio menyeringai lebar membuat Nisa menelan ludah akibat ucapan dari pria di depannya itu.
Glek...
'Aduh bagaimana ini,' batin Nisa kebingungan.
'Ha ha ha ha ha ha ha ha, silahkan berfikir seribu kali untuk lolos dari ku,' batin Rio tertawa penuh kemenangan.
Ceklek...
Brug...
Tubuh Nisa di turunkan di atas kasur empuk itu, Nisa di buat kaget kala pintu kamar itu sudah terbuka dan tubuhnya saat ini juga sudah mendarat cantik di atas kasur mewah hotel ini.
Nisa mencoba bangun dari tempat tidur namun usahanya sia-sia saat melihat pintu kamar hotel ini sudah tertutup rapat.
"Kenapa kamu menutup pintu nya?" Tanya Nisa menatap ke arah Rio.
"Sengaja," jawab Rio singkat.
"Kamu ......" geram Nisa meremas tangan nya kesal.
Nisa berjalan menuju ke arah pintu.
__ADS_1
Dor dor dor dor dor dor...
"Siapa pun buka pintunya,"
"Siapapun tolong aku,"
"Buka....."
Entahlah tiba-tiba Nisa panik ketakutan melihat pintu itu tertutup seakan udara di dalam ruangan itu menipis karena Nisa begitu panik berada di dalam bersama dengan pria itu, ya pria malam itu. Yang tak lain adalah Rio.
Dor dor dor dor dor....
"Lepaskan aku," Nisa masih mencoba membuka pintu namun sia-sia saja.
"Meskipun kamu mencoba berteriak sampai tenggorokan mu putus pun, tidak akan ada yang datang. Apa kamu lupa kalau setiap kamar di hotel ini kedap suara," jelas Rio menyeringai menyeramkan saat ini.
Nisa langsung merosot ke lantai.
"Aku hanya ingin berbicara dengan mu saja," jelas Rio.
Nisa yang mendengar itu pun langsung menoleh menatap ke arah Rio.
"Aku hanya ingin tahu apa alasan kamu meninggalkan ku waktu itu,"
"Kenapa kamu pergi saat aku sedang mandi, aku bahkan belum sempat melihat wajah mu dengan jelas mengingat kejadian malam itu karena aku mabuk,"
"Aku sempat terpuruk, saat pagi itu aku melihat ada wanita di samping ku. Aku bahkan tak mengingat apapun, terus kenapa kamu pergi dan tak meminta pertanggungjawaban dari ku, kenapa justru kamu pergi menghilang,"
"Apa kamu tahu bagaimana aku merasa bersalah waktu itu, bagaimana aku mencari mu seperti orang gila, ha..... Apa kamu tahu?"
Rio berkata sambil berteriak mengungkapkan semua perasaan di hatinya saat itu.
Kata-kata Rio mampu membuat Nisa menegang sesaat sebelum dirinya bisa mengendalikan emosi dengan baik.
Nisa akhir nya bisa tahu kalau bukan dirinya saja yang sedikit terpuruk dan memilih pergi namun Rio juga di buat ketar-ketir karena Nisa menghilang. Ya meskipun malam itu Nisa baik-baik saja cuma kaget.
__ADS_1
Bersambung........