Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 61


__ADS_3

Setelah melakukan kegiatan panas itu Rio tak henti-hentinya mencium wajah Nisa yang sudah tertidur akibat kelelahan, Rio begitu senang sampai mengucapkan terima kasih berkali-kali dengan senyum yang begitu lebar kala membayangkan kejadian tadi yang baru saja dia lakukan.


~Flash back off~


Rio tersenyum tanpa henti sedari tadi kala mengingat kejadian malam itu.


'Seharusnya aku memberi pelayan itu bonus karena rekomendasi dari nya, sehingga Nisa dan aku bisa melakukan semua itu lebih cepat dari yang ku perkiraan sebelumnya, aku berfikir butuh berbulan-bulan untuk meluluhkan hatinya dan membuat Nisa bisa menyerahkan diri nya secara sukarela,' batin Rio.


'Dan tentunya atas kecerobohan Nisa yang membuat semua kejadian malam itu terjadi,' sambung Rio di dalam hati nya.


'Benar ya kata orang kalau hal itu bikin nagih, hi hi hi hi,' sambung Rio cekikikan di dalam hati saat ini.


'Ah jadi pengen lagi, sabar Rio slow jangan sampai Nisa berfikir kamu mesum atau macam-macam, bisa-bisa besok-besok dia tidak akan memberikan mu lagi,' batin Rio mengingatkan dirinya sendiri.


Sedangkan Nisa rasanya sudah tidak bisa menahan rasa malu.


"Ehemmm..." Rio berdehem, membuat Nisa yang tadi menutup wajahnya dengan kedua tangan itu mulai menurunkan tangannya dengan cepat dan menoleh ke samping, dimana Rio tepatnya menatap ke arahnya.


"Terima kasih," kata Rio tak lupa dengan senyuman manis Rio yang mampu membuat semua wanita yang menatapnya akan langsung jatuh hati di buatnya, untung saja cuma Nisa yang melihat itu saat ini.


'Duh makin ganteng kalau tersenyum begitu,' batin Nisa sesaat mengangumi pria tampan di depannya saat ini yang sudah resmi menjadi suaminya, tentunya Rio sudah menjadi milik Nisa.


"Ha.... Terimakasih? Maksudnya?" Tanya Nisa yang sudah sadar mendengar Rio mengucapkan kata terima kasih.


"Ya terima kasih karena kamu sudah memberikan nya kepada ku," jawab Rio mengingatkan Nisa kejadian kemarin malam.


"Ah iya," jawab Nisa kikuk.


Nisa mau jawab apalagi kalau bukan iya, mengingat kejadian samar-samar di ingatannya saat itu, bukan Rio yang memaksa justru dirinya yang sudah merayu Rio dan keduanya pun tidak dalam kondisi terpaksa melakukan itu semua.


Keduanya di liputi rasa canggung, Rio tak tahu harus bilang apa begitupun dengan Nisa, keduanya diam membisu menunggu salah satu dari mereka ada yang memulai pembicaraan lagi namun itu sia-sia tak ada yang berani berbicara untuk waktu yang cukup lama sampai Nisa memberanikan berbicaralah terlebih dahulu.


"Em aku mau ke kamar mandi," pamit Nisa lalu membuka selimut dan hendak turun dari tempat tidur.


"Sssttt aaa sakit," lirih Nisa menahan rasa sakit dia area pribadinya saat ini.


"Kamu kenapa? Apa yang sakit?" Tanya Rio dengan khawatir saat mendengar Nisa merintih kesakitan. Rio ingat malam saat dia melakukan juga terdengar suara Nisa menahan kesakitan.

__ADS_1


"Itu emmm anu, itu ku sakit kalau aku bergerak." Jawab bisa entah binggung harus bilang apa, masa dia bilang sesungguhnya. Bisa-bisa Nisa langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut karena malu.


"Itu anu apa?" Tanya Rio menggaruk kepalanya tak gatal karena jujur Rio tak paham apa yang di bicarakan oleh Nisa.


Nisa tak menghiraukan lagi, dia memilih turun dari ranjang dengan bersusah payah sambil menarik selimut untuk menutup tubuhnya. Rio melihat kondisi Nisa yang meringis menahan sakit membuat Rio baru sadar apa yang dimaksud Nisa tadi. Dengan sigap Rio turun dari ranjang, untung saja Rio sudah memakai celana pendeknya berbeda dengan Nisa yang menutup tubuhnya dengan selimut.


Hap....


Rio membopong tubuh Nisa ke dalam kamar mandi.


"Aaa..." Nisa berteriak karena kaget tubuhnya melayang ternyata Rio membopong tubuh nya membawa sampai ke dalam kamar mandi.


"Kenapa kamu masih di sini?" Tanya Nisa heran melihat Rio yang masih berada di dalam kamar mandi itu.


"Aku mau membantu kamu," kata Rio takut Nisa masih kesakitan dan berniat membantu memandikan Nisa.


"Ishhh dasar mesum, keluarrrr...." Kata Nisa kesal bercampur malu, bisa-bisanya Rio menawarkan bantuan untuk mandi.


"Hehe...."


Rio langsung kabur melihat Nisa yang sudah murka.


Rio mencari kaos di dalam koper, dia memakainya dengan cepat karena tak ingin Nisa merasa tak nyaman seperti tadi.


Rio pun memilih duduk di sofa tak jauh dari sana dan melihat ponsel miliknya, memastikan kondisi toko kue berserta cafe miliknya baik-baik saja.


15 menit berlalu....


"Kenapa dia lama sekali, apa terjadi sesuatu dengan dirinya?" Guman Rio berbicara sendiri sambil matanya tak lepas dari pintu kamar mandi.


"Apa aku dobrak saja ya, ah tidak tidak jangan sampai nanti Nisa tambah marah,"


Ceklek....


Pintu kamar mandi terbuka menampilkan sosok cantik yang terlihat segar dengan balutan handuk berbentuk kimono. Berjalan dengan pelan menuju ke ranjang di mana disampingnya tergeletak koper milik Nisa yang belum dia bereskan.


"Syukurlah kamu sudah keluar kalau tidak mungkin aku sudah dobrak tuh pintu," kata Rio membuat Nisa mendelik ke arahnya.

__ADS_1


Bisa-bisanya Rio berfikir begitu. Sungguh Nisa tak bisa bayangkan kalau saja dia masih berada di dalam kamar mandi dan Rio mendobrak pintu itu.


"Kamu tidak mandi?" Tanya Nisa mengalihkan pembicaraan, agar Rio segera masuk ke kamar mandi dan dia bisa berganti pakaian dengan santai.


"Tidak, aku masih menunggu email dari teman ku," jawab Rio santai.


'Bagaimana aku bisa berganti pakaian kalau dia masih ada di sini,' grutu Nisa di dalam hati.


Rio merasa aneh karena sedari tadi Nisa diam namun berkali-kali melirik ke arahnya.


"Kalau mau ganti baju, kamu bisa di kamar mandi tetapi kalau kamu tidak suka kamu bisa berganti di sini, aku akan dengan senang hati melihatnya," kata Rio dengan terkekeh kecil.


Blusshhhh....


Nisa tak bisa menyembunyikan wajahnya yang merah merona karena malu.


Rio melihat wajah Nisa yang merona semakin di buat gemas karenanya.


"Ayo cepat setelah itu kita turun cari sarapan," kata Rio berpura-pura fokus ke ponsel miliknya.


"Kamu turun ke bawah tidak mandi dulu?" Tanya Nisa heran.


"Tidak," jawab Rio singkat.


"Kok bisa ada manusia jorok seperti kamu," grutu Nisa tak habis pikir sambil memilih pakaian yang nanti akan dia kenakan, Nisa memilih berganti pakaian di kamar mandi sesuai dengan perintah suami nya itu.


"Ck, aku sudah mandi tadi subuh. Maaf aku tidak membangunkan mu karena kamu tidur seperti kebo,"


Nisa melotot mendengarnya.


"Sudah jangan pasang wajah jelek begitu, cepat ganti terus kita turun ke bawah bersama-sama. Ku tunggu 15 menit kalau kamu belum selesai nanti ku tinggal," kata Rio di sertai ancaman agar sang istri tidak berlama-lama di dalam kamar mandi.


"Iya-iya bawel," ejek Nisa menjulurkan lidahnya sebelum masuk.


Bruaaak...


Pintu kamar mandi pun tertutup. Membuat Rio mengelengkan kepalanya tak habis pikir tingkah Nisa yang menghibur dirinya sedari tadi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2