
Malam hari....
Nisa yang tertidur beberapa jam pun akhirnya sadar.
Nisa mencoba membuka matanya, meskipun terasa berat namun Nisa berusaha membuka matanya, silau cahaya yang masuk ke dalam matanya tak membuat Nisa menyerah. Pandangan matanya yang awalnya buram berubah menjadi terang, Nisa menyergit heran saat melihat ternyata dia berada di ruangan yang asing namun saat Nisa melihat sekeliling dia menemukan seseorang yang duduk di di kursi 5ak jauh dari ranjang miliknya.
"Kamu sudah sadar?" Tanya pria yang sudah berdiri menghampiri Nisa saat mengetahui perempuan cantik itu sudah membuka matanya.
"Em...." Nisa mengangguk menampakkan senyum lemah.
"Terima kasih," lirih Nisa.
Nisa masih menatap wajah pria itu, wajahnya terasa tak asing di matanya.
Pria itu hanya mengangguk, pandangan matanya menatap ke arah Nisa. Tatapan mata itu terlihat sendu entah apa yang ada di pikirannya saat ini.
"Apa kamu mengenalku?" Tanya Nisa dengan tatapan penuh selidik karena mendapati wajah sedih pria tadi seketika rasa penasaran menyeruak di dalam hati Nisa saat ini.
"Apa kamu tidak mengenalku?" Justru laki-laki di depannya berbalik bertanya kepada Nisa dengan wajah yang semakin sedih entahlah hanya itu yang mampu Nisa tangkap.
Nisa terdiam sejenak, memandang wajah itu dengan penuh teliti. Nisa seakan mengenali sorot mata itu, senyuman manis dengan lesung pipi semakin menambah ketampanan pria di hadapannya saat ini.
"Kak Ansel tunggu Nisa," sekelebat bayangan muncul di pikiran Nisa saat ini.
__ADS_1
"Ayo berdiri, dasar pendek," suara Ansel masih kecil samar-samar terlintas di pikirannya.
Nisa mengelengkan kepalanya dengan cepat, dia tak percaya pria di hadapannya itu adalah Ansel yang dia kenal, Ansel yang dia kenal dulu berkulit sedikit gelap sedangkan pria di depannya saat ini berkulit bersih dan terlihat begitu tampan.
"Nisa ini aku..... Ansel," kata Ansel Harvis memperkenalkan dirinya, ah lebih tepatnya sekarang dia meyakinkan Nisa bahwa dia adalah Ansel Harvis, bocah yang dulu sering menemani Nisa bermain.
D E G....
"Kak Ansel," lirih Nisa dengan bibir bergetar.
"Iya aku kak Ansel mu," kata pria itu dengan sedikit berbinar karena berfikir kalau perempuan yang dia cintai itu telah mengingat dirinya.
"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks, kak Ansel," tiba-tiba Nisa menangis tersedu-sedu memanggil nama Ansel, entahlah mungkin karena hormon kehamilan yang membuat Nisa menjadi melow.
Ansel dulu berfikir Nisa terpaksa menikah dengan pria itu dan Ansel dengan mudah merebut Nisa namun semua itu hanya angan-angan Ansel untuk menjadikan Nisa istrinya, miliknya sepenuhnya.
"Kak Ansel kenapa dulu tega ninggalin Nisa," lirih Nisa.
"Sekarang kak Ansel ada di sini," kata Ansel menenangkan Nisa.
Nisa mendongak menatap ke arah pria tampan itu, dia teringat ucapan Rio kala itu. Rio bilang kalau orang yang ingin menculik dirinya saat itu adalah orang suruhan Ansel, apakah Ansel yang sama.
Meskipun ragu, Nisa ingin tahu yang sebenarnya. "Emm apakah kak Ansel pernah menyuruh orang-orang untuk menculik ku?" Tanya Nisa dengan sedikit keraguan di hatinya.
__ADS_1
D E G.....
Ansel terdiam, dia tak pernah berfikir Nisa akan menanyakan itu kepadanya.
Ansel memejamkan mata nya sesaat. " Iya aku memang yang menyuruh mereka," jawab Ansel singkat.
D E G....
"Kenapa kak Ansel lakuin itu?" Tanya Nisa dengan penuh kekecewaan.
"Nisa, aku tidak berniat buruk kepada mu. Justru aku ingin menyelamatkan mu. Aku tahu kamu terpaksa menikah dengan pria itu jadi aku berfikir untuk menculik mu agar kamu bisa terbebas dari pria itu," jelas Ansel dengan cepat agar Nisa tidak salah paham.
"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks," Nisa merasa ingin menangis untuk kesekian kalinya mengingat Rio dengan penuh kelembutan memegang tangan perempuan cantik yang terbaring lemah di rumah sakit waktu itu.
"Hei kenapa kamu menangis lagi? Aku tahu aku salah, maafkan aku," lirih Ansel merasa bersalah sehingga membuat Nisa menangis itulah pikiran Ansel.
Nisa mengelengkan kepalanya.
"Bukan karena kak Ansel, aku sedih mengingat Rio menemani perempuan di dalam ruangan rumah sakit tadi," jawab Nisa sesenggukan.
Ansel mengepalkan tangannya begitu kuat mendengar ucapan dari Nisa. Ansel sungguh tak rela kalau pria itu menyakiti Nisa. Seketika Ansel ingat perkataan dokter Reno tadi, yang mengatakan Nisa hamil. Apakah Ansel harus berbohong dan menutupi semuanya atau berbicara dengan jujur dan membiarkan Nisa kembali bersama pria itu. Ansel dilema....
Bersambung.....
__ADS_1