Twins Love Story

Twins Love Story
Chapter 135 S2 "Nasib"


__ADS_3

Waktu tiga puluh menit sudah berlalu, tapi masih belum ada berita mengejutkan dari ruangan Hani, ruangan itu masih tampak tenang, dan tidak terlihat ribut dan kacau.


Suster yang bekerja sebagai pembunuh bayaran itu tampak sedikit tegang, dia terus menatap pintu ruangan Hani dengan keringat yang mulai bercucuran di keningnya.


bukan hanya tiga puluh menit ini sudah menunjukkan waktu satu jam, tapi ruangan itu masih tampak tenang.


'tring tring'


Suster itu merogoh sakunya dengan cepat.


📱"Ha-halo" sapanya takut-takut.


📱"bagaimana apa wanita itu sudah mati?" selidik jesika dengan sangat senang.


📱"A-anu i-tu, a-nu hhmmm" suster itu tidak bisa menjawab apapun, karena tidak ada panggilan darurat dari ruangan yang sejak tadi dia pantau.


📱"ANU ITU ANU ITU, SEKARANG KATAKAN DENGAN JELAS!" Bentak jesika karena sudah tidak sabar mendengar berita bahagia.


Suster itu sedikit terkejut mendengar suara Jesica.


📱"Sepertinya saya gagal" jawabnya pelan namun masih dapat didengar jesica.


📱"Apa?!?! gagal?! bagaimana bisa?!! kau yakin kan sudah menyuntik wanita itu?!" pekik jesica tidak terima.


📱"i-iya tapi saya tidak tau kenapa reaksi obat itu sangat lama?" jelas suster masih dengan ketakutan nya.


📱"kamu yakin memasukkan obat yang benar ke dalam infus wanita itu?! periksa sekarang!!" perintah jesica dengan nada tinggi.


📱"Ba-baik" jawab suster itu cepat.


Baru saja dia hendak melangkah mendekati ruangan Hani, dari arah belakang nya berjalan suster dan dokter yang telah menangani Hani, dan juga kedua ayah Hani.


...☘️☘️☘️☘️☘️...


'Tok tok tok'


Hana membuka pintu ruangan itu, dan menatap bingung dokter dan suster yang berjalan masuk dengan membawa beberapa peralatan obat dan suntikan.


"Bagaimana keadaan kamu, Hani?" tanya dokter itu, dia adalah dokter Bakri, dokter keluarga Hani, dan dia yang selalu merawat Hani sejak Hani kecil.

__ADS_1


"Baik dok" jawab Hani sambil menunjukkan senyumannya.


Dokter itu menatap Hani lekat dan mendekat kearahnya, "bisakah anda mengangkat kedua tangan anda keatas?"


"untuk apa dok?" bukan Hani melainkan Hana yang menjawab, karena dia bingung kenapa Dokter itu menyuruh Hani untuk mengangkat tangannya keatas.


.


Lain Hana, lain juga Daddy dan mommy kedua orang itu segera bergerak mendekat ketika dokter keluarga nya itu memerintah kan Hani untuk mengangkat kedua tangannya.


"Sayang lakukan perintah dokter"


Hani menggeleng pelan dan masih membiarkan tangannya yang diinfus tersembunyi dibawah selimut.


"awww mommy sakit" teriak Hani sambil berusaha melepaskan cubitan Mommy di pipinya.


Pasalnya saat ini Hani telah melepas jarum infusnya. entah sejak kapan jarum infus itu Hani lepas, tidak ada yang tau.


"Kebiasaan kamu ya" omel mommy hani.


Hani malah nyengir, dan memasang tampang polos, "Sakit mom, makanya Hani lepas".


Dokter Bakri malah tertawa, " Sus tolong suntik kan obat kedalam infusnya, dan tolong pasang kembali infus itu".


Hana semakin menatap heran dokter dan suster yang sedang bekerja.


infus yang tadi di lepas Hani, akan mulai dipasang ditangannya, tapi segera Hana berlari menahan tangan suster yang hendak memasukkan kembali jarum infus pada tangan Hani.


"Ada apa ya?" suster itu bertanya pada Hana.


"Dok, apakah dosis obat untuk Hani sangat banyak? kenapa belum ada satu jam semenjak dia diberikan obat, tapi sekarang dokter memberikan obat lagi untuk adik saya".


Pertanyaan Hana membuat dokter dan juga suster itu terkejut, begitu juga dengan Daddy Hani.


"Benar juga, satu jam yang lalu Hani baru saja diberikan obat, itu obatnya" Bunda menunjuk obat yang belum Hani sentuh karena dia belum juga mau makan.


"Apa dokter tau kebiasaan Hani yang suka mencabut jarum infusnya sendiri?" tanya mommy Hani.


Dokter Bakri menggeleng, "Saya tidak pernah memerintah kan orang untuk memberikan obat pada Hani".

__ADS_1


Daddy mulai curiga pada dokter yang selama ini bekerja untuk keluarga nya, "Anda yakin?"


"Ya saya sangat yakin, Haris kau mengenal ku, aku tidak akan menyuruh orang untuk memberikan obat pada putrimu, aku akan selalu datang dan memberi obat setiap aku datang berkunjung" Dokter Bakri menghilangkan bahasa formalnya pada daddy Hani, karena sebenarnya kedua orang itu adalah sahabat baik.


Daddy Hani mengangguk mengerti, dia sangat percaya dapat dokter Bakri. "Hana bisa kamu jelaskan Apa yang terjadi?" selidik Daddy Hani.


Hana mulai menjelaskan tentang suster yang datang menggunakan masker dan suster itu juga kehilangan nametag nya, Hana berusaha menjelaskan secara detail ciri-ciri suster yang masuk sebelumnya, dari rambut, tinggi hingga suaranya, Hana memang merekam betul sosok suster itu karena dia merasa sangat ganjal dengan tingkah suster itu.


.


Setelah Hana mulai bercerita dibantu dengan bunda dan mommy, semua orang tampak cemas dan menatap Hani, khawatir.


"Maaf dok, tidak ada suster yang bernama Rani di sini tapi ciri-ciri disebutkan nona ini mirip sekali dengan Elda suster yang baru saja berhenti dari rumah sakit ini" Suter yang tadi datang bersama dokter Bakri mulai menjelaskan kepada dokter Bakri tentang informasi yang dia tau.


"Apa kamu yakin?" tanya dokter itu cepat.


Suster itu mengangguk pasti, "Saya sangat yakin, karena saya sangat mengenalnya, sudah dua hari dia tidak bekerja disini lagi dok, walau namanya tidak sama tapi dari ciri-ciri itu saya sangat yakin itu adalah Elda, dia juga memiliki tanda lahir berbentuk bulan sabit di lehernya" jelas suster itu lagi.


"Bakri, ambil infus itu dan segera uji di laboratorium, beritahu aku apa isi kandungan didalamnya, dan mulai sekarang aku tidak akan membolehkan pemberian obat pada putriku, jika kamu tidak ada" putus Daddy Hani setelah menarik kesimpulan dari semua penjelasan Hana dan suster itu.


"Baiklah, tapi sekarang aku akan melakukan ronsen pada Hani sekali lagi, aku takut Hani sudah diberikan obat lain sebelum ini" Dokter Bakri mengikuti perintah daddy Hani.


"Dan Hani" kini dokter Bakri menatap Hani yang masih diam menyimak mereka, "Kamu memang selalu beruntung, saya sangat senang dengan kebiasaan kamu yang suka mencabut infus tanpa memberitahu dokter atau suster, tapi lain kali jangan lakukan itu, ini peringatan dariku".


Hani mengangguk dan tersenyum jahil pada dokter Bakri. Memang benar, Hani kali ini beruntung, mungkin saja jika dia tidak melepaskan infus ditangannya, akan terjadi sesuatu diluar keinginan mereka.


"Itu benar, putriku memang selalu beruntung" Bangga daddy pada Hani. "Dan daddy akan menempatkan bodyguard didepan kamar Hani, dan akan di jaga 24 jam".


"Dad!" Hani hendak protes, tapi protes nya itu terhenti ketika melihat semua mata orang yang ada disana menatap Hani dengan mata membara.


"Daddy mu benar Hani, Ayah juga setuju, ayah rasa semua yang terjadi padamu saat ini ada campur tangan dari orang luar ini seperti di rencanakan" Ayah Hana mengelus lembut puncak kepala Hani.


"Tapi siapa yah? Hani merasa tidak punya musuh" Tanya Hani.


"Jika bukan musuhmu, aku rasa para pemuja Arka bisa menjadi tersangka" Hana ikut nimbrung dalam pembicaraan itu.


"Pemuja Arka?" Daddy dan ayah serentak bertanya.


"Daddy, ayah, kalian tidak tau jika menantu tersayang daddy itu banyak dipuja puja sama wanita, dan mereka sangat iri pada Hani, karena berhasil mendapatkan Cassanova nomor satu, mungkin mereka pikir, dengan menyingkirkan Hani, mereka bisa mendapatkan Arka" Jelas Hana.

__ADS_1


"Seperti aku yang dulu juga memiliki pemikiran itu" ucap Hana dalam hati nya.


...☘️☘️☘️☘️☘️...


__ADS_2