Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 24


__ADS_3

Nisa tak menghiraukan panggilan yang berkali-kali memanggil nama Nisa sedari tadi karena tak menemukan pemilik suara itu namun suara itu begitu familiar di telinga Nisa. Nisa yang di landa kebingungan akhirnya memilih pergi tak menghiraukan panggilan itu.


Di dalam ruangan tadi.


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks, Nisa tolong aku," lirih Lilis berderai air mata.


'Nisa,' batin Rio.


Seringai kecil muncul di wajah tampan itu tanpa ada yang sempat melihatnya.


'Ha ha ha ha ha ha, semakin menarik,' batin Rio.


Tiba-tiba jiwa psikopat miliknya muncul.


Sedangkan Lilis, dia hanya bisa menangis menyesali kebodohannya apalagi Rio yang sudah kesal mendengar tangisan perempuan itu pun melirik ke arah Abraham.


Abraham mengerti, dia pun memberi kode kepada kedua bodyguard yang ada di samping perempuan itu untuk mengikat tangan dan kaki Lilis membuat Lilis hanya bisa meronta paksa agar tali pengikat itu bisa terlepas namun semua sia-sia karena Lilis hanya bisa pasrah menangisi nasibnya saat ini, menangisi kebodohannya yang berfikir sempit untuk bisa mencapai tujuan dengan instan namun semua terasa sia-sia karena semua tak sesuai dengan rencana yang telah dia pikirkan sedari kemarin.


Rio melihat wanita di depan nya terlihat menyedihkan bukannya iba malah Rio tersenyum menyeringai.


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks, kumohon lepaskan aku. Aku sedang hamil," lirih Lilis.


'Aku harus berbuat apa agar aku bisa cepat kabur atau lolos dari sini,' guman Lilis di dalam hati nya karena takut.


"Ha ha ha ha ha ha, kamu bilang kalau kamu sedang hamil. Aku yakin kamu hanya berbohong, aku sudah bisa menebak akal licik wanita seperti kamu, karena bukan satu atau dua kali aku melihat trik murahan seperti ini," kata Rio dengan sinis.


Deg...


'Meskipun aku ingin kaya tetapi aku tak ingin mengorbankan anak yang ada di dalam perut ku ini,' batin Lilis tiba-tiba tergugah mengingat janin yang tak berdosa bisa saja kenapa-kenapa karena ulah dari nya saat ini.


Air mata Lilis semakin deras saat rahang nya di cengkram kuat oleh Rio dan di hempaskan kasar.

__ADS_1


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks, kumohon ampuni aku, lepaskan aku. Aku tak ingin anakku kenapa-kenapa," kata Lilis mengiba kepada pria tampan di depannya.


"Ha ha ha ha ha ha, melepaskan mu. Cih tidak akan," sinis Rio.


Sedangkan Abraham memilih diam, dia ingin melihat Rio yang biasanya slengean dan terlihat lebih kalem daripada Tio yang sering membuat onar ini bertindak. Abraham ingin melihat sejauh mana tindakan adik iparnya itu.


"Kamu sendiri yang datang mencari masalah di keluarga kami, kamu sendiri yang datang untuk mengantarkan tubuhmu ini jadi jangan salahkan aku kalau aku bertindak sesuka hati ku. Hmmm..... Apalagi kamu datang dan membuat onar sehingga membuat pesta pernikahan kembaran ku jadi kacau karena ucapan mu tadi, kamu memang sengaja ke sini berniat membatalkan pernikahan, mempermalukan keluarga ku atau meminta pertanggungjawaban ku?" Kata Tio dengan jelas, tegas bercampur sindiran dan diakhiri dengan sebuah pertanyaan.


Tenggorokan Lilis tercekat, dia tak bisa berbicara lagi karena pria di depan ini sudah bisa menebak arah tindakan nya tadi.


"Ha ha ha ha ha ha ha, kenapa diam? Kaget? Aku yakin kamu binggung mau menjawab apa. Tetapi aku juga masih penasaran bagaimana kamu bisa tahu masalah itu dan bisa sampai ke sini padahal setelah kejadian itu aku sudah mencari tahu namun kamu kenapa memilih pergi dan baru sekarang muncul?" Kata Rio dengan pedas nya.


"Aku a-ku akan berbicara sebenarnya tetapi tolong aku, aku ingin setelah aku berbicara jujur kamu harus cepat lepaskan aku," pinta Lilis akhirnya memilih untuk jujur mengingat pria di depannya itu semakin menyeramkan.


Lilis berfikir kalau dia tidak akan mendapatkan apapun, jadi dia memilih jujur agar dia dan janin dalam kandungan nya itu aman. Lilis takut semakin menyinggung pria itu semakin kecil pula harapan dia selamat atau lebih parahnya lagi dia akan mati dengan sia-sia.


Prok prok prok prok prok prok prok....


"Ha ha ha ha ha ha ha, ternyata adikku semakin dewasa ya. Sudah bisa mengaung saat ada lalat yang mencoba menganggu," kata Abraham begitu senang melihat sang adik iparnya itu sudah bisa menangani semuanya sendiri.


Tiba-tiba Abraham menghentikan langkahnya saat Bimo berniat mengikutinya.


"Bimo kamu di sini, kalau-kalau Rio membutuhkan bantuan mu. Biar Doni saja yang menemani ku nanti di sana.


"Baik tuan," kata Bimo menunduk hormat.


Ceklek....


Setelah itu Abraham pun pergi meninggalkan ruangan itu.


Sedangkan Lilis tercengang saat mendengar ucapan Bimo yang menyebut Abraham dengan sebutan tuan.

__ADS_1


'Sebenarnya mereka ini siapa, apalagi pria yang tadi itu meskipun tampan namun aura nya begitu mengerikan,' batin Lilis mencuri-curi pandangan menatap ke arah Abraham sekilas.


Rio tersenyum menyeringai saat menoleh ke arah Lilis, wajah tampan itu begitu mengerikan apalagi tatapan mata nya seolah ingin membunuh Lilis di tempat.


Glekkk....


Tubuh Lilis langsung gemetar ketakutan.


"Cepat katakan cepat karena aku tak punya banyak waktu untuk wanita seperti mu," bentak Rio.


"A a-ku," Lilis tergagap tak tahu harus mulai dari mana.


"Oh pasti kamu binggung karena kamu tak tahu harus mulai dari mana ya," sindir Rio.


Lilis mengangguk saja.


"Sekarang sebutkan secara teliti dan jelas, bagaimana kejadian yang sebenarnya?" Kata Rio dengan tegas.


Saat ini Lilis begitu takut wajahnya menunduk namun dengan keberanian Lilis pun mendongak menatap ke arah Rio.


Rio pun bisa melihat wajah Lilis dengan jelas meskipun terlihat kuyuh karena sisa-sisa lelehan air mata di wajahnya.


Rio pun mengerutkan keningnya, wajah perempuan itu terasa begitu familiar.


"Oh apa kamu resepsionis itu?" Tanya Rio yang sedikit ingat wajah wanita itu.


'Apa benar seperti yang di katakan petugas keamanan waktu itu kalau perempuan itu bernama,' batin Rio teringat perkataan dari petugas kemarin.


"I-ya," jawab Lilis sedikit gemetar.


"Berarti kamu tahu siapa yang membawa ku saat aku mabuk waktu itu," tanya Rio memicingkan mata nya menatap ke arah Lilis dengan tajam.

__ADS_1


"I-ya," jawab Lilis mengangguk pertanda memang benar dia tahu bahkan dia sendiri ingat.


Bersambung.....


__ADS_2