Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 53


__ADS_3

Dor dor dor dor....


Dor dor dor dor ....


Aurel kesal melihat rumah pamannya ternyata pintunya masih tertutup rapat jadi tangan kecil itupun menggedor pintu depan keras agar pintunya segera terbuka, namun sedari tadi pintu masih sama membuat Aurel kesal dan kembali memukul pintu itu. Aurel tak henti-hentinya menggedor pintu itu karena tak kunjung terbuka dari dalam.


"Hei sayang, jangan di gedor-gedor terus pintunya nanti tangan kamu sakit," kata Arin mengingatkan anaknya itu agar tak mengetuk pintu depan keras. Arin tak ingin tangannya anaknya nanti lecet.


"Kalau tidak di pukul pintunya tidak akan terbuka ma, pintunya kan nakal," jawab Aurel asal dengan bibir mengerucut sebal.


"Ih dasar pintu nakal, kalau gak mau terbuka nanti ku suruh papa buat bakar nih pintu," rengek Aurel menghentak-hentakkan kakinya karena kesal.


Arin mengelus dada mendengar ucapan sang anak yang ingin membakar pintu rumah Tio karena kesal.


'Sabar sabar,' guman Arin di dalam hati nya saat ini.


"Kok pintunya di bakar sih nak, nanti rusak dan om Tio marah loh?" Tanya Arin binggung mendengar ucapan putrinya itu.


"Ya kan pintunya yang salah ma, dari tadi di pukul-pukul masih saja tidak mau terbuka," grutu gadis kecil itu dengan kesal.


"Hu...." Arin menghela nafas panjang mendengar ucapan dari sang anak yang marah-marah kepada pintu.


"Nak mama dengar dari tadi kamu kok nyalahin pintu terus sih, sebenarnya pintunya itu tidak salah apa-apa nak?" Tanya Arin binggung karena anaknya yang mengomel dan menyalahkan pintu yang benda mati dan tentunya tak salah apapun.


Sungguh Arin tak heran dengan kelakuan gadis kecilnya yang suka aneh-aneh itu.


"Mau salahin siapa ma, masa Aurel yang salah," jawab gadis itu dengan polos.


"Ah sudah lah, terserah putriku saja yang penting kamu senang," guman Arin pelan karena sudah pusing mendengar ocehan sang anak yang makin lama makin tak jelas itu.


Dor dor dor dor dor...


"Om Tio, cepat buka Aurel capek berdiri terus," teriak gadis kecil itu kembali menggedor pintu rumah Tio.


Sedangkan Arin memilih diam memperhatikan saja, kepalanya sudah pusing mendengar ocehan sang putri tercinta.


Dor dor dor dor....


"Om Tio buka pintunya,"


"Om jelek buka,"


Dor dor dor dor...


"Dasar om Tio nakal, jelek,"

__ADS_1


"Om buka pintunya,"


Karena kesal sedari tadi anaknya tak berhenti menggedor pintu dan semakin membuat Arin pusing, Arin pun mendorong pintu itu dan ternyata.....


Ceklek....


"Eh pintunya tidak di kunci," kata Arin saat pintu sudah terbuka karena dorongan Arin tadi dengan kedua tangannya.


Sedangkan Aurel tak menanggapi ucapan sang mama, gadis kecil itu memilih masuk kedalam tak lupa untuk berteriak memanggil nama sang om.


"Om Tio....."


"Om Tio yuhuuuu."


"Om Tio, Aurel datang,"


"Om Tio jelek keluar...."


Gadis kecil itu berteriak menyebut nama Tio membuat Arin yang sudah duduk di sofa ruang tamu pun memijit pelipisnya merasa pusing tiba-tiba.


'Duh kapan anak ku berubah bar-bar begini,' batin Arin.


Sedangkan orang yang di cari saat ini tengah berada di dapur.


Tio pun berdecak kesal mendengar suara gadis kecil yang teriakannya pun sampai terdengar dari penjuru rumah.


Dengan sangat terpaksa, Tio pun melepaskan tangannya yang sedari tadi asyik bertengger di pinggang ramping sang istri.


"Hus sudah jangan ngomel-ngomel, Aurel imut begitu kok di bilang bawel sih, ayo kita ke depan kasihan kalau mereka berdiri lama di depan pintu, ayo cepat kita sambut kak Arin," kata Amanda mencoba menarik tangan Tio. Amanda heran bagaimana sang suami bisa menyebut Aurel bawel karena yang Amanda tahu kalau dia bertemu dengan Aurel jarang berbicara banyak atau merengek tak jelas kepadanya.


"Ck kamu belum tahu saja aslinya," grutu Tio.


"Ya sudah ayo," ajak Amanda menarik tangan Tio menuju ke arah ruang tamu.


"Terus makan nya bagaimana?" Tanya Tio.


"Ya sudah bagaimana kalau aku pesan aja, bentar aku pesan dulu ya. Kamu mau apa sayang?" Tanya Amanda sambil menyalakan ponselnya dan mencari aplikasi pesan makanan.


"Terserah saja," jawab Tio cuek.


"Ok."


Keduanya pun berjalan menuju ke arah ruang tamu.


"Hai kak Arin," sapa Amanda langsung memeluk kakak iparnya itu.

__ADS_1


"Bagaimana apa kamu suka?" Tanya Arin setelah melerai pelukannya.


"Iya Manda suka, jujur ini di luar yang ku bayangkan selama ini. Ini keren, bagus banget malahan," jawab Amanda dengan begitu senang terpancar dari raut wajahnya saat ini.


"Om rumahnya bagus nanti jangan lupa kasih tempat bermain untuk ku ya," pinta gadis kecil itu.


"Iya bocil," jawab Tio mengacak rambut Aurel dengan gemas.


"Ish om jangan di gini'in nanti Aurel jadi jelek," bibir Aurel mengerucut dengan gemas.


"Halaaaah biarin jelek." Tio bukannya minta maaf justru dia semakin menggoda Aurel.


"Ish kalau nanti Aurel jelek, si Gio nanti gak suka lagi sama Aurel,"


Arin melotot mendengar ucapan putrinya yang polos itu berbeda dengan Amanda justru terkekeh melihat kelucuan Aurel. Kalau Tio jangan tanyakan lagi, dia begitu penasaran bagaimana si bocil ini bisa dengan entengnya berbicara seperti itu.


"Cie kak Arin dah mau punya mantu," goda Tio namun justru mendapatkan tatapan tajam dari sang kakak.


Tio memilih mengalihkan pandangan ke Aurel, Tio tak ingin tanduk sang kakak semakin keluar kalau dia salah berbicara.


"Gio siapa?" Tanya Tio penasaran.


"Gio itu, teman baru Aurel. Dia baru pindah terus dia itu selalu belain Aurel kalau Aurel di jahati sama teman-teman. Yang paling penting Gio itu ganteng dan sering bilang kalau Aurel cantik," jawab Aurel menatap Tio dengan polos.


"Duh kecil-kecil tahu namanya cowok cakep," grutu Tio mencubit gemas pipi tembem Aurel.


Tok tok....


Mereka semua menoleh, meskipun pintu terbuka namun terdengar suara ketukan kecil dari pintu.


"Maaf apa benar ini alamat nona Amanda? Saya datang kesini mau mengantarkan pesanan makanan." Tanya seorang pria dengan ramah menenteng sebuah boks yang mungkin berisi makan.


"Iya benar," jawab Amanda menghampiri kurir makanan tersebut. Setelah itu dia membayar semua makanan tersebut.


"Makanan sudah datang, ayo kita semua ke dapur ," ajak Amanda.


"Yee makan," seru Aurel mengikuti langkah kaki Amanda dengan cepat.


"Dasar bocil, dengar makanan saja nomor satu," grutu Tio mengelengkan kepalanya.


Puk...


Arin menepuk pundak sang adik.


"Dulu kamu juga begitu, tiap hari ribut sama Rio kalau rebutan makanan pasti rebutan mainan," ejek Arin berlaku meninggalkan Tio yang masih melongo mendengar ucapan dari sang kakak.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2