
Arka berkali-kali menepuk dadanya, entah apa yang terjadi dia merasa sangat sesak saat ini seperti ada yang meremas jantungnya.
Sandy melihat tingkah Arka dari kaca spion, "Kenapa Ar? bentar lagi kita sampai di kampus istrimu"
Pria yang ditanya itu tidak menjawab, dia lebih memilih menurunkan kaca mobil dan mengambil udara luar sebanyak-banyaknya, nafasnya terasa sangat sesak.
"Pak Arka Sakit?" tanya wanita yang duduk disebelah Sandy, wajahnya tampak sedikit khawatir.
"Tidak apa, aku hanya merasa sesak" jawab Arka masih dengan menepuk nepuk kecil dadanya.
"Pasti sesak lah, punya istri cemburu sekali, saya juga kalo diposisi kak Arka pasti bakal merasa sesak" sindir wanita itu.
"Meli! Jaga bicaramu!" Ancam Sandy dengan nada sinis.
"Aku tidak masalah dia cemburu, aku malah senang, dan wajar jika dia cemburu, karmaku sangat besar, dan aku tidak pernah menyalahkan Hani atas kecemburuan nya padaku" Arka menjawab sindirian Gadis itu dengan santai.
5 menit kemudian mobil mereka sampai di depan pintu gerbang kampus Hani.
"Kita sudah sampai, apa yang akan kau lakukan sekarang arka?" tanya Sandy setelah menghentikan mobil.
"Sebentar" Arka berkali-kali menelpon Hani. Namun tidak terdengar jawaban dari sana.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
Satya berlari mendekati mobil Hani, Dilihatnya truk yang baru saja menabrak mobil Hani hendak kabur, pandangan Satya beralih pada Mike yang juga sudah keluar dari mobilnya.
'Cepat kejar truk itu' seolah mengerti arti dari tatapan Satya Mike dan Chika kembali masuk kedalam mobil mengejar truk yang baru saja menabrak Hani.
Dengan tangan bergetar Satya memaksa membuka pintu mobil Hani, dengan dua kali hentakan pintu mobil itu terbuka.
Didalam sana Satya melihat wajah Hani sudah penuh dengan darah, pandangan Satya beralih pada jalanan sekitar yang terlihat sepi, tidak akan ada yang bisa membantunya.
Lalu Satya melihat Hana yang keluar dari mobil dengan tertatih. tubuhnya bergetar hebat, air mata sudah membanjiri wajahnya.
Satya kembali melihat Hani, dengan pelan Satya melepas seftbelt yang dipakai Hani, perlahan dia menggendong Hani.
"D-dek... " panggilan Hana bergetar melihat Hani yang penuh dengan darah.
"Hana tenang kita bawa Hani ke rumah sakit sekarang" ujar Satya berusaha menenangkan Hana.
"Dek bu-buka matamu" lirih Hana lagi.
Satya sangat tau sekarang Hana sedang ketakutan, dan kondisi Hani akan semakin parah jika mereka lebih lama ke rumah sakit. Satya berlari mendekati mobilnya.
"Hana! buka pintunya sekarang!" Mendengar teriakan Satya, Hana mulai tersadar, dia tidak boleh berdiam diri, dia harus membawa Hani ke rumah sakit secepatnya.
__ADS_1
Hana segera berlari membuka pintu belakang mobil Satya, wanita itu masuk lebih dulu, setelah itu Satya meletakkan tubuh Hani bersandar padanya.
Ketika badan Hani menyentuh tubuh Hana, tangis Hana kembali pecah, tubuh itu terlihat sangat lemah. Hana sangat takut dia kembali kehilangan saudara kembarnya.
.
Setelah menyerahkan Hani pada Hana, Satya segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Hana semua akan baik-baik saja" gumam Satya pada Hana yang terus terisak sambil memanggil 'dek, adek' Panggilan yang sejak beberapa minggu ini menjadi panggilan yang paling Hani sukai.
"Sat, c-cepat" suara Hana masih bergetar, tangannya terus berusaha menekan luka pada kepala Hani. Kini mata Hana beralih pada kaki Hani yang juga mengeluarkan darah.
Tangis Hana kembali pecah, ketika melihat darah itu mulai mengaliri kaki mulus Hani.
"Sat.. kakinya berdarah" lirih Hana.
"Tenang semuanya akan baik-baik saja" Satya berusaha menenangkan Hana, walau sebenarnya dia sangat takut dan resah, ini pertama kalinya dia melihat kecelakaan didepan matanya, dan orang yang mengalami itu adalah orang yang paling dekat dengan dia.
Satya kembali melirik Hana dari kaca spion, wanita itu masih terus menangis memanggil adik kembarnya. Satya tau Hana saat ini sangat rapuh, ini pertama kalinya Hana menangis seperti itu, seolah-olah separuh dunianya hilang.
.
Sepuluh menit waktu yang dibutuhkan Satya untuk sampai di rumah sakit.
Ketika sampai Satya segera berteriak meminta pertolongan. beberapa Staf rumah sakit dengan cepat membantu Satya untuk segera melakukan pertolongan pada Hani.
.
Hani segera dilarikan kedalam ruang UGD, disebelah nya Hana masih menangis mengikuti Hani.
"Dek ber-tahan ya, maafin ka-kak" lirih Hana sambil terus berlari.
'Triinggg trinnggg'
Ponsel Hana yang sejak tadi berbunyi tidak digubris nya, gadis itu sibuk memegang pipi Hani yang penuh dengan dara
"Maaf anda tidak bisa masuk" ujar salah seorang suster didepan ruang masuk UGD.
"Ta-tapi adik sa-ya__" Hana tidak dapat melanjutkan kata-kata nya dia hanya bisa menangis didepan UGD.
__ADS_1
Seluruh badan Hana begetar, dia memegangi pintu UGD yang sudah tertutup rapat. Lampu didepan ruangan UGD menyala, menandakan sedang ada pasien yang sedang ditangani.
Hana terduduk didepan UGD, tangisan nya sejak tadi tidak bisa berhenti, darah yang ada di tangannya membuat gadis itu semakin menangis kencang.
"Ini salah ku, semua salahku!" gumamnya terus, menyalahkan dirinya atas kejadian yang telah menimpa saudara kembarnya.
"Dek bertahanlah, aku mohon bertahan, jangan meninggalkan ku lagi" Lirih Hana sambil tertunduk.
.
Satya berlari hingga sampai UGD dia telah menyelesaikan segala administrasi, dan telah memberikan keterangan pada polisi mengenai kecelakaan itu. tadi juga dia sempat dihubungi Mike, tentang supir yang telah menabrak Hani.
Langkah kaki Satya berhenti ketika sampai didepan pintu UGD yang tertutup, disana dia melihat Hana yang terus menangis tanpa henti, pria itu sangat yakin Hana pasti menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang terjadi pada Hani, saudara kembarnya.
Bisa Satya bayangkan bagaimana rasa sakitnya melihat saudara sendiri dalam keadaan berdarah ditangan kita, itu pasti akan menjadi trauma yang sangat besar bagi Hana.
Satya perlahan mendekati Hana memeluknya erat, membiarkan gadis itu terus menangis dan menyalahkan dirinya, yang bisa Satya lakukan saat ini Hanya memeluk Hana dan menenangkannya.
"Semua pasti akan baik baik saja" Bisikan Satya mencoba memenangkan.
'triinggg tringgg' dering ponsel Hana membuat Satya tersadar, dia harus mengabarkan kondisi Hani pada suaminya, Satya meraih ponsel didalam tas Hana.
'Arka Calling' tertera nama Arka dilayar ponsel Hana.
Melihat itu Hana semakin keras menangis, sedangkan Satya kembali merengkuh Hana dalam pelukannya untuk meredam suara tangisnya.
Satya mengambil nafas panjang baru mulai mengangkat telepon Arka.
📱"Halo ar, ini aku Satya" Sapa Satya berusaha setenang mungkin.
📱"Kenapa kamu yang angkat?" tanya Arka terdengar suaranya sedikit bingung.
📱"Kau sedang menyetir?" Satya tidak menjawab dia lebih ingin bertanya apa yang sedang Arka lakukan.
📱"Tidak, yang menyetir Sandy" jawab Arka dari sebrang.
📱"Kalau begitu kau bisa ke rumah sakit xxx sekarang" tanya Satya lagi berusaha tenang.
📱"kenapa harus ke rumah sakit xxx? apa yang terjadi?" Suara Arka sudah mulai terdengar gelisah.
__ADS_1
📱"Istrimu kecelakaan" Ujar Satya sepelan mungkin.
...☘️☘️☘️☘️☘️...