Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 94


__ADS_3

Tak terasa kandungan Nisa sudah mencapai 3 bulan, Rio begitu perhatian dengan sang istri bahkan Rio memilih menemani Nisa di mansion setiap hari, Rio mengerjakan semua pekerjaan nya di rumah.


Untuk keluarganya baik Arin, bunda, Amanda ketiganya sering menghubungi Amanda sedangkan Tio juga sering membahas pekerjaan dengan Rio, ya Rio sengaja meminta Tio untuk mengecek hasil pekerjaan yang tak bisa Rio pantau. Untuk Abraham, dia sering memantau keadaan keduanya mengingat masa lalu kedua orang itu sering datang untuk mengusik kehidupan tenang suami istri itu. Abraham juga menempatkan seseorang untuk menyusup dan memantau Ansel dan Renata terutama sahabat Renata yang mempunyai motif dan kebencian kepada Rio. Abraham tak akan membiarkan mereka mengusik keluarganya walaupun sekecil apapun.


Abraham memang diam namun dia memiliki pemikiran yang mampu membuat musuh hancur dalam hitungan detik.


"Sayang, aku ingin makan nasi goreng sama telur ya," pinta Nisa yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.


Rio terdiam menatap ke arah Nisa dengan kening mengkerut lalu beralih menatap ke arah jam dinding yang ada di dalam ruang kerja yang saat ini dia tempati.


"Sayang ini masih jam 9, apa kamu sudah lapar lagi?" Tanya Rio dengan hati-hati takut bumil itu salah paham dan berakhir dengan Rio yang harus tidur di luar dan diabaikan oleh istri tercintanya itu untuk beberapa hari. Oh Rio tak akan mengulanginya lagi, dia sudah kapok.


"Ish bilang saja kalau kamu tidak ingin membuat kan ku nasi goreng," kata Nisa cepat dengan nada sedih. Wajah Nisa yang tadi cerah cepat berubah menjadi mendung dan siap memuntahkan air yang mampu membuat banjir seisi hati Rio. Ha ha ha ha ha.....


Entah bumil itu sering sedih tak jelas padahal Rio hanya bilang jam 9 namun bumil itu berfikir Rio tak ingin membuatkan dirinya nasi goreng itu. Ingin rasanya Rio menangis dalam hati.


"Apa dulu bunda juga begini saat mengandung aku ya?" Tanya Rio di dalam hatinya tentunya kepada dirinya sendiri (Wkwk nikmatin aja Rio).


"Bu-bukan begitu, aku mau kok," jawab Rio dengan cepat sebelum Nisa berbicara semakin ngelantur dan memojokkan dirinya.


"Eh tunggu-tunggu nasi gorengnya aku yang buat?" Tanya Rio memastikan dia tak salah dengar.


"Tentu dong," jawab Nisa dengan penuh keyakinan dalan berbicara.


Tio pun mengangguk, dia mengerti mungkin ini keinginan anaknya itulah pikiran Rio saat ini.


Rio bergegas menutup laptop miliknya dan menarik tangan sang istri keluar dari ruangan itu.


"Ayo sayang aku buatkan basi goreng spesial penuh dengan cinta buat istriku tercinta," kata Rio dengan senyum semanis mungkin sambil menarik tangan sang istri.


Beberapa pelayan yang melihat senyum Rio pun bergidik ngeri.

__ADS_1


"Jangan senyum-senyum begitu. Memang kamu mau narik perhatian siapa disini? Yang ada cuma bodyguard itu saja." Kata Nisa dengan melirik sinis ke arah Rio.


Entahlah Nisa tak suka sang suami (Rio) tersenyum di depan orang lain. Nisa merasa cemburu apalagi Nisa masih sering cemberut mengingat dia pernah melihat Rio mengengam tangan Renata saat di rumah sakit.


G L E E K....


"Salah lagi, nasib-nasib," Giman Rio di dalam hatinya saat ini.


"Sabar Rio, sabarrrrrr..... Ini semua demi kecebong kamu sedang dalam masa pertumbuhan, jadi jangan biarkan istrimu sedih kalau tidak bisa ngambek tuh enaknya kecebong dan kabur, ah bisa gawat apalagi banyak buaya yang berkeliaran di sekitar istri mu itu," batin Rio menguatkan dirinya agar sabar menghadapi istrinya yang tengah hamil dan moodnya berubah-ubah.


"Senyum ini cuma buat kamu saja kok sayang," rayu Rio dengan cepat agar istrinya itu tidak berfikir macam-macam.


"Ck yang benar, bukan untuk Renata juga," sindir Nisa membuat Rio harus menghela nafas panjang, kesabaran Rio benar-benar di uji.


Tio mendekatkan diri ke arah Nisa, semakin mengikis jarak di antara keduanya. Semua yang melihat keduanya pasti berfikir, terlihat begitu serasi.


"Tidak sekarang senyum ini bahkan semua yang ada di hati ku milikmu termasuk jiwa dan tubuhku ini," bisik Rio dengan menggoda di telinga sang istri.


Sampailah keduanya di dapur.


Rio mengusir beberapa orang yang sedang berada di dapur, Rio ingin Nisa merasa nyaman dan tak merasa canggung.


"Silahkan duduk tuan putri," kata Rio mempersilahkan Nisa duduk di kursi yang di tarik Rio tadi.


Dengan begitu lincah Rio membuatkan nasi goreng untuk istrinya.


Nisa dengan setia menunggu Rio beraksi di dapur sendirian.


"Duh tampan nya suamiku," guman Nisa menatap Rio yang sedang memasak untuk dirinya itu.


Setelah masakan Rio matang dan menaruhnya di piring, Rio menghiasnya begitu cantik dan menaruh di depan Nisa.

__ADS_1


"Silahkan ratu ku," kata Rio dengan membungkuk seperti yang Nisa lihat di film-film.


Melihat nasi goreng itu tampilannya begitu cantik membuat Nisa tak tega memakannya . Aroma nasi itu masuk ke dalam hidung Nisa membuat Nisa yang tadinya ingin tiba-tiba tidak merasa tidak berselera, tiba-tiba dia membayangkan makan bakso.


Namun Rio lagi-lagi harus kesal bercampur gemas karena kelakuan sang istri yang sering berubah-ubah.


"Em aku sudah tidak ingin nasi goreng lagi, aku ingin bakso," kata Nisa mengedipkan matanya ke arah Rio membuat Rio menghela nafas panjang. Mau marah tetapi sayang, jadi Rio mencubit pipi Nisa dengan gemas.


"Sayang di mana kita mencarinya? Kita di negeri orang," Tanya Rio binggung sekaligus mengingatkan sang istri kalau keduanya masih berada di negeri orang.


"Entahlah sayang, tetapi aku ingin makan bakso," rengek Nisa yang kekeh ingin makan bakso.


"Benar kamu ingin bakso? Tidak berubah lagi?" Tanya Rio mematikan sang istri tidak berubah pikiran lagi.


"Iya benar, janji," jawab Nisa dengan begitu yakin bahkan mengangkat dua jari nya membentuk huruf V.


"Hmmm.... Bagaimana kalau minta koki buatkan?" usul Rio.


Namun Nisa mengelengkan kepalanya menolak.


"Ya sudah ayo kita pergi ke restoran kita, di sana ada menu bakso sepertinya," kata Rio yang baru ingat menu di restoran yang baru di bukannya di negara ini.


Keduanya pun berjalan menuju kamar, namun baru beberapa langkah Mr Albert menghentikan langkah Rio.


"Tuan bagaimana dengan nasi goreng ini?" Tanya Mr Albert menunjukkan ke arah nasi goreng buatan Rio.


"Kamu makan saja," kata Rio setelah itu dia pergi menuju kamarnya.


10 menit berlalu .....


Nisa dan Rio sudah berganti pakaian, keduanya siap menuju restoran milik Rio.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2