Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 92


__ADS_3

"Oh ya nak, tadi kamu mau bilang kalau kamu ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan. Apa?" Tanya sang bunda menatap keduanya bergantian. Ada rasa haru karena melihat keduanya rukun dan baik-baik saja, bunda pun tersenyum lebar penuh kasih sayang.


Semuanya pun menatap ke arah Rio maupun Nisa, mereka semua ikut penasaran.


"Iya memang apa yang ingin kamu katakan," sahut Arin yang juga di buat penasaran.


Sedangkan Abraham dan Tio keduanya tengah sibuk di ruang kerja meninggalkan ketiga perempuan yang asyik bertelepon dengan Nisa dan Rio tadi.


Saat ini Rio maupun Nisa saling berpandangan, Nisa menaikkan sudut alisnya ke arah Rio seolah bertanya siapa yang harus memberitahukan kabar bahagia ini.


"Kamu saja yang kasih tahu," kata Nisa menatap ke arah Rio.


Rio mengelengkan kepalanya tanda tak setuju. " Harusnya kamu saja kan," kata Rio menolak.


"Aku maunya kamu yang jawab," grutu Nisa.


"Kamu saja kan kamu yang merasakan," Rio masih kekeh menolak.


"Ish itu semua gara-gara kamu, jadi kamu yang harus bilang," tolak Nisa yang masih ingin Rio berbicara kepada mereka.


"Kamu...."


"Tidak, pokoknya kamu,"


"Ahhh kamuuu...."


Arin melihat keduanya sibuk berdebat di sebrang sana pun ikut menepuk keningnya.

__ADS_1


"Hei kalian berdua mau saling lempar kata sampai kapan hah, sampai hujan duit," grutu Arin menegur kedua orang itu karena mereka sibuk berdebat dan semakin membuat yang orang-orang yang berada di sebrang telephon justru bertambah penasaran.


"He he he he he he, maaf kak," kata Rio yang baru sadar kalau perdebatan mereka berdua di saksikan oleh Arin, bunda, Amanda bahkan si bawel Aurel pun ikut melongo.


"Ish ma kan seru ngapain di pisahin, Aurel ingin tahu siapa yang menang lomba debat," protes Aurel yang tak terima sang mama menghentikan aksi perdebatan Nisa dan Rio saat ini.


Rio maupun Nisa melotot menatap Aurel yang masih santai memakan es krim di depan telepon.


Nisa yang melihat Aurel di buat ngiler, dia juga ingin makan es krim seperti Aurel.


Rio melihat itu pun mengelengkan kepalanya.


"Duh punya istri jadi bocil gini," grutu Rio di dalam hatinya saat ini.


"Rio kamu cepat bilang ingin bicara apa tadi, kami semua di sini dari tadi penasaran tetapi kamu malah sibuk berdebat," kata Arin meminta Rio untuk segera berbicara.


"He he he he he he, maaf kak," jawab Rio cengengesan.


"Sebentar lagi bunda akan segera punya cucu," kata Rio mampu membuat bunda mematung masih kaget, apakah yang di dengarnya itu benar atau tidak.


"Maksud kamu apa Rio?" Tanya bunda dengan bergetar.


"Nisa hamil Bun," jelas Rio dengan senyum lebarnya.


"Ha-mil? Nisa hamil? Alhamdulillah," kata bunda meneteskan air matanya.


"Wah selamat ya, bentar lagi Andra punya teman main," kata Arin dengan senang.

__ADS_1


Sedangkan Amanda tersenyum ikut bahagia meskipun hati nya sedikit iri karena dia belum juga di karuniai anak namun Amanda juga ikut berbahagia untuk sang adik.


"Selamat ya Nisa," kata Amanda.


"Terimakasih semua," jawab Nisa dengan senang.


"Nak jaga istri mu dengan baik, bunda jadi tak sabar ingin bertemu dengan kalian tetapi usia kandungan Nisa masih muda jadi tidak baik dia menaiki pesawat jadi tunggu sampai kandungannya kuat baru kalian pulang," jelas bunda dengan penuh rasa khawatir.


"Iya Bun, lagian Nisa juga sepertinya betah di sini," jelas Rio.


Kruk kruk kruk....


Terdengar suara dari perut Nisa membuat Rio menatap ke arah Nisa.


"Kamu belum makan?" Tanya Rio dan di jawab gelengan kepala oleh Nisa.


"Ya sudah kalian makan saja," kata bunda.


"Jaga diri kalian baik-baik, kalau ada apa-apa kabari kami," kata bunda dengan sedih tak bisa mendampingi keduanya apalagi Nisa sedang hamil.


"Iya Bun," jawab Rio.


"Kalian sering-seringlah telepon kita, setiap hari biar bunda bisa melihat kalian setiap hari," kata Arin.


"Iya kak nanti kita usahakan," jawab Rio.


"Da kak Arin, bunda, Amanda. Assalamualaikum," kata Nisa melambaikan tangannya sebelum panggilan itu terputus.

__ADS_1


Tut.....


Bersambung.....


__ADS_2