
Keesokan harinya....
Sesuai dengan keinginan sang bunda, mereka semua pergi ke panti untuk berbagi kebahagiaan, ya Arin, Aurel, Abrian, Tio, Amanda dan bunda. Abraham tak bisa ikut jadi dia hanya meminta Bimo dan Gre untuk mengawal mereka semua. Pengasuh si kembar sudah sibuk ke lari ke sana-sini mengikuti si kembar yang berlari karena senang.
"Kak asyik ya banyak temannya di sini," teriak Aurel ikut bermain kejar-kejaran dengan anak-anak panti yang seumuran dengannya saat ini.
"Iya benar," jawab Abrian yang juga ikut berlarian.
"Ha ha ha ha ha, kejar aku," teriak Aurel dengan gembira.
Bunda dan yang lainnya hanya bisa mengelengkan kepalanya sambil tersenyum saat melihat si kembar yang begitu bahagia.
"Lihat mereka berdua senang sekali," kata Amanda kepada suaminya.
"Iya...."
Sementara di tempat berbeda.
"Sayang apa kamu baik-baik saja?" Tanya Rio dengan lembut kepada Nisa.
"Tidak," jawab Nisa sambil mengelengkan kepalanya.
"Apa kamu lapar atau haus, biar aku minta pramugari siapkan," kata Rio dengan penuh perhatian.
"Tidak, aku cuma mengantuk saja," jawab Nisa sedikit menguap.
"Ya sudah kamu tidur saja," saran Rio karena Rio tahu semenjak hamil Nisa bawaannya suka tidur, Rio tak melarang asal Nisa nyaman dan kondisi kandungannya sehat meskipun suka kesal kalau istrinya itu sering mengantuk tak tahu tempat.
Saat ini keduanya sedang berada di pesawat pribadi milik Abraham, untuk keamanan kehamilan Nisa bahkan Rio juga membawa dokter kandungan untuk memastikan semuanya aman.
"Hoammm....." Nisa menguap.
"Ayo aku antar ke kamar saja," ajak Rio mengandeng tangan sang istri dengan penuh kasih sayang. Untung saja di dalam pesawat itu ada satu kamar untuk istirahat.
Setelah Nisa tertidur, Rio pun keluar untuk mengambil minuman. Namun Rio justru bertemu dengan pramugari.
"Tuan pesawat baru saja memasuki negara M, apa anda ingin turun atau kita lanjutkan perjalanan?" Tanya sang pramugari.
"Tidak, istri saya baru saja tidur. Lagian jarak negara M tidak jauh dari negara kita sebaiknya kita lanjutkan saja perjalanan," perintah Rio. Dia tak ingin mengulur waktu supaya dirinya cepat sampai. Rio sudah tak sabar ingin bertemu dengan semua keluarganya terutama sang bunda.
"Baik tuan," jawab pramugari itu menunduk patuh.
"Oh ya tolong ambilkan saya 2 minuman kemasan air mineral dan 1 kotak susu coklat ukuran besar," pinta Rio.
__ADS_1
Pramugari itu langsung bergegas mengambil sesuatu yang di butuhkan oleh Rio. Pramugari itu juga tak lupa menyampaikan pesan Rio tadi.
DI PANTI ASUHAN
Setelah Tio dan yang lainnya selesai membagikan semuanya, Rio langsung bergegas menuju ke arah si kembar.
"Aurel, Abrian ayo pulang," ajak Tio.
"Nanti saja om, di sini Aurel suka banyak teman main," tolak aurel dengan polosnya.
Kini Tio berjalan menuju ke arah Abrian yang juga sedang bermain dengan seorang anak laki-laki.
"Abrian pulang yuk," ajak Tio.
"Nanti saja om lagi seru nih," tolak Abrian.
Tio menghela nafas kasar. "Kalau sudah begini bisa-bisa mereka tak akan mau pulang dan kakak Arin pun tak akan bisa membujuk kedua bocah ini," batin Tio.
.
.
Kini pesawat yang di tumpangi Rio dan Nisa sudah mendarat. Rio mengandeng tangan sang istri dengan hati-hati menuruni tangga pesawat.
"Akhirnya sampai juga," guman Nisa dengan senang.
"Tentu dong, aku sudah tak sabar bertemu dengan keluarga mu sayang," kata Nisa berbinar.
Kini keduanya sudah berada di mobil, mobil melaju dengan kecepatan sedang mengingat Nisa sedang hamil.
Akhirnya mobil sampai di mansion besar milik Abraham. Rio memilih langsung ke sini karena dia sudah merindukan semua orang yang ada di sini.
Namun saat keduanya masuk ternyata semuanya sedang tak berada di rumah.
"Ya sudah ayo masuk saja," ajak Rio.
Rio pun mengajak Nisa untuk beristirahat di kamar yang sering Rio tempati.
Awalnya semua art dan para bodyguard serta satpam kaget melihat kedatangan Rio yang tanpa di duga.
Sore hari....
Tio dan yang lainnya pulang.
__ADS_1
Tak ada yang memberitahu kedatangan Rio dan Nisa, Rio sengaja meminta mereka tutup mulut dengan alasan kejutan.
"Ah lelahnya," guman Tio merebahkan tubuhnya di sofa karena permintaan Aurel yang minta di gendong olehnya.
Arin pun meminta art nya menyediakan minum.
"Ah segarnya," guman Tio.
"Iya benar segar om, terimakasih om Rio," jawab Aurel saat melihat orang yang menyajikan minuman adalah Rio.
"Tidak ada om Rio sayang, " protes Tio karena tak melihat orang yang menyajikan minuman.
Bunda maupun Arin tak menyadari adanya Rio sedangkan Amanda melotot kaget, Rio pun meminta dirinya tutup mulut dengan cepat Amanda menutup mulutnya tak berteriak.
"Sayang kenapa mulutnya di tutup?" Tanya Tio heran.
"Hah.... Om Rio....." Teriak Aurel yang baru sadar Rio telah kembali.
Gadis kecil itu langsung berlari dan meminta gendong membuat Rio terkekeh di buatnya.
Yang lain pun menoleh melihat ternyata Rio benar-benar ada di sini.
"Surprise....." Teriak Rio membuat semuanya bahagia.
Bunda meneteskan air matanya, bunda begitu bahagia setelah sekian lama akhirnya bisa melihat putranya yang satu itu.
"Rio ...." Bunda berdiri hendak menghampiri putranya itu, Rio yang melihat itupun langsung menurunkan Aurel dan menghampiri bunda dan memeluknya erat.
"Bunda, Rio kangen," kata Rio yang masih tak melepaskan pelukannya.
Tio ikut terharu, dia sudah lama tak bertemu dengan kembarannya itu.
"Masa bunda saja yang di peluk, mbak tidak," kata Arin yang ikut terharu melihat adiknya.
"Mbak Arin nanti saja, aku masih kangen Bunda," tolak Rio mengelengkan kepalanya.
"Ck....." Arin berdecak kesal.
"Nak mana istri mu?" Tanya bunda setelah melerai pelukannya.
Bunda melihat ke samping, ke belakang juga namun tak menemukan keberadaan Nisa.
"Nisa sedang istirahat Bun, kasihan dia mungkin kelelahan," jawab Rio.
__ADS_1
"Oh pantas bunda tak melihatnya."
Bersambung....