
Rio menjabat tangan sang paman, setelah itu paman dari Nisa mengucapkan dengan perasaan gugup Rio mengucapkan janji suci pernikahan di depan semua orang.
"Saya terima nikahnya Anisa Arsyila binti Abdullah dengan maskawin tersebut tunai,"
"Bagaimana para saksi?" Tanya pak penghulu menatap ke arah para saksi.
"Sah..."
"Sah..."
Sampai terdengar kata "SAH" membuat semua orang yang ada di sana bersorak gembira.
"Alhamdulillah"
"Alhamdulillah"
Semua teman Rio secara serempak ikut bersyukur karena sahabat itu akhirnya menemukan pasangan hidupnya.
Hari ini pernikahan Rio memang cuma di hadiri teman dari Rio, Tio dan kerabat dekat saja.
Di sudut tempat....
Saat sang bunda yang mendengar sang putra dengan lancar mengucapkan ijab qobul di buat terharu, sampai menitikkan air mata nya.
'Ayah akhirnya Rio juga ikut menyusul Tio menikah, hiks hiks hiks hiks andai ayah bisa menyaksikan semuanya di sini bersama bunda lebih bahagia,' batin bunda.
Sedangkan Nisa juga ikut meneteskan air mata nya.
'Hiks hiks hiks hiks hiks, Pa Ma putri mu telah menikah, andai kalian masih di sini pasti aku tidak akan sedih,' batin Nisa mengingat kedua orang tua nya yang sudah tiada.
Muncullah semua kenangan indah saat dia dan kedua orang tua nya berbincang, bercanda di ruang tamu. Air mata semakin deras mengalir, berkali-kali Nisa mengusap air matanya.
Puk...
Tepukan halus di pundak menyadarkan bunda.
"Bun, ayo sudah saatnya kita membawa pengantin perempuan keluar," kata Arin menyadarkan sang bunda dari lamunannya.
"Eh iya," jawab bunda sambil mengusap sudut mata nya yang basah.
"Ayo nak," bunda pun menghampiri Nisa yang juga tengah melamun mengingat semua kenangan indah bersama kedua orang tua nya.
Nisa kaget, menoleh mendapati perempuan paru baya yang mereka panggil dengan sebutan bunda, wanita itu terlihat begitu lembut dan penyabar.
"Kamu sedih, pasti kamu teringat kedua orang tua kamu," kata bunda seakan paham yang di pikirkan oleh perempuan cantik yang sudah resmi menjadi menantunya.
Nisa hanya bisa mengangguk.
Bunda pun langsung memeluk Nisa, mengelus punggung Nisa dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
"Kamu jangan sedih, sekarang ada bunda, ada Rio, kak Arin dan yang lainnya. Jadi jangan berfikir kamu itu sendirian," kata bunda menghibur.
Air mata Nisa semakin mengalir deras.
"Eh jangan sedih nanti make up nya luntur," kata Arin mendekat mencoba menghapus air mata Nisa dengan tisu dan mengambil sesuatu di dalam tasnya untuk memperbaiki riasan Nisa.
"Sudah ayo, semua sudah menunggu," ajak Arin.
Nisa pun berjalan menuju ke arah Rio di apit oleh bunda dan Arin.
Abraham mendekat ke arah si kembar.
Setelah Arin selesai membawa Nisa duduk di samping Rio, Arin pun mendekat ke arah sang suami yang sudah duduk di samping ketiga buah hatinya.
Nisa sedikit gugup, dia sampai tidak berani melihat ke samping.
"Assalamualaikum istri ku," bisik Rio dengan jahil di telinga Nisa membuat wajah Nisa bersemu merah.
Melihat gelagat kedua orang di depannya yang telah resmi menjadi suami istri itu, pak penghulu di buat mengelengkan kepalanya.
"Ehemmm ......" Pak penghulu berdehem.
"Bisa di lanjutkan," tanya pak penghulu membuat Nisa dan Rio malu.
Keduanya hanya mengangguk serempak.
Rio pun memakaikan cincin nikah di jari Nisa, cincin itu terlihat pas di jarinya membuat Nisa sedikit heran bagaimana pria di depannya bisa tahu ukuran jari nya terlebih lagi pernikahan ini dadakan.
Nisa menatap Rio dengan penasaran.
Rio pun menoleh dan tersenyum manis.
"Aku tahu semua tentang mu," bisik Rio seakan menjawab semua pikiran Nisa.
Setelah selesai acara tukar cincin, beberapa orang membawa mahar dan hantaran pernikahan yang sudah Rio siapkan.
Nisa mencium tangan Rio dengan takzim di lanjut dengan Rio yang mengecup kening Nisa dan tak lupa membacakan doa.
Acara berlangsung dengan khidmat, semua turut berbahagia apalagi Tio melihat saudara kembarnya juga ikut senang telah menemukan seseorang untuk berbagi cerita.
Rio dan Nisa saat ini duduk di pelaminan yang sudah di sediakan.
Teman-teman nya pun silih berganti mengucapkan selamat kepada keduanya.
"Cie yang ngebet nikah," kata Nino menggoda Rio.
Rio hanya melotot menatap tajam ke arah Nino.
"Ya iyalah ngebet bangeeett secara Nisa cantik bro," sahut Gre semakin membuat yang lain tertawa.
__ADS_1
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha,"
"Maklum kita kan kembar jadi nikah juga bareng, ya ngak," bukan Rio yang menjawab melainkan Tio tak lupa menaik turunkan alisnya menanggapi candaan mereka.
"Wah bisa gitu ya," kata Reza menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Bisa lah, nih kita contohnya," kata Rio.
Nisa hanya melirik mereka saja tak tahu harus bicara apa.
"Hei cepat kalian, tuh masih banyak yang antri buat ucapin selamat," tegur Bimo menatap ke arah mereka semua dengan garang.
"Iya ya om, galak amat," jawab Nino cemberut.
Setelah dapat teguran dari Bimo, semuanya pun berbalik antri mengucapkan selamat kepada Rio dan Nisa.
"Selamat ya Rio, semoga samawa dan cepat dapat anak," kata Gre singkat.
"Selamat ya bro, akhirnya nikah juga. Pacaran nya sama si onoh, eh nikah nya sama siapa si neng geulis, ck ternyata sekian lama loh salah jagain jodoh orang, ha ha ha ha ha...." Kata Nino berbisik di telinga Rio.
Rio melotot menatap tajam ke arah temannya yang paling menyebalkan itu.
"Selamat ya sob, langgeng sampai kakek nenek," kata Reza.
Setelah semua selesai kini giliran Tio.
"Selamat ya akhirnya kita Adain resepsi pernikahan bareng, ha ha ha ha ha ha," kata Tio terkekeh lucu mengingat kembarannya itu tadi malam tiba-tiba mengabarkan kalau besok pagi dia menikah.
"Selamat ya Nisa, ah gak nyangka ya padahal kemarin kamu baru ngucapin selamat ke aku. Eh sekarang kita malah jadi saudara ipar. He he he he he he he lucu ya," Amanda juga ikut terkekeh saat mengucapkan selamat kepada Nisa.
"Eh kalian nikah dadakan banget sih, ck ada apa ini. Ah kamu pasti sembunyikan sesuatu kepada ku ya sampai hal sebesar ini aku tidak tahu," grutu Amanda kesal.
"Stttt ayo, biarkan mereka berdua jangan ganggu dengan pertanyaan aneh-aneh," Tio langsung menyeret tangan sang istri menjauh dari Rio dan Nisa.
"Tetapi...." Protes Amanda.
"Ayo," Tio tak menggubris protes sang istri.
Dengan wajah cemberut, Amanda mengikuti langkah kaki Tio.
"Tuh kan banyak yang berfikir macam-macam gara-gara pernikahan dadakan ini," kata Nisa dengan cemberut.
"Sudah jangan pikirkan ucapan mereka," jawab Rio dengan cuek.
.
.
Bersambung....
__ADS_1