
''I-ya...'' Jawab LIlis dengan suara terdengar gemetar.
''Siapa?'' Bentak Rio dengan suara yang terdengar menggelegar di liputi dengan amarah yang
''Sa-ya...'' Belum selesai LIlis meneruskan ucapannya itu, Rio sudah memotong ucapan Lilis dengan cepat di sertai dengan suara gebrakan begitu keras berasal dari suara kursi yang sengaja Rio tendang dengan begitu keras.
''Kamu kira aku bodoh dan dengan mudah kamu bisa membohongiku untuk kedua kalinya seperti itu," sinis Rio berbicara dengan tatapan tajam ke arah Lilis.
"Saya tidak berbohong, hiks hiks hiks hiks hiks hiks. Saya dan teman saya yang mengantarkan mu ke dalam kamar hotel dalam keadaan mabuk waktu itu," kata Lilis mencoba menjelaskan agar pria di depannya itu percaya dengan nya.
Lilis menangis mencoba menjelaskan semuanya saat ini juga, dia hanya bebas dari sini saja, itulah keinginan Lilis, dia tak memikirkan rencana licik nya yang dia susun dari kemarin. Yang ada di otaknya hanya keinginan bebas dan janin nya selamat bagaimana pun seorang ibu tak ingin sesuatu terjadi apa-apa dengan anaknya yang ada di dalam kandungan.
"Siapa nama teman kamu?" Tanya Rio penasaran.
"Nisa...." Jawab Lilis.
'Aku terpaksa harus jujur, ini semua demi kebaikan ku sendiri. Yang penting sekarang aku harus menyelamatkan nyawaku,' batin Lilis saat ini.
'Hmm semakin menarik,' guman Rio di dalam hati nya.
'Ternyata benar perempuan itu bernama Nisa,' guman Rio di dalam hati begitu senang.
"Sekarang coba jelaskan padaku bagaimana kejadian waktu itu," perintah Rio.
Lilis pun dengan sesegukan menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir. Sedangkan Rio hanya mengangguk mencerna semua ucapan dari wanita di depan nya itu.
...----------------...
Sedangkan Tio saat ini sedang berada di dalam kamar hotel.
"Bunda tidak apa-apa kan?" Tanya Tio dengan khawatir.
Bunda hanya menggelengkan kepalanya, Tio melirik ke arah bundanya itu namun Tio tahu kalau saat ini bunda pasti sedih melihat kejadian tadi entahlah apa yang di pikirkan bunda saat ini, Tio tak bisa menebaknya.
Tio melirik ke arah Amanda.
__ADS_1
"Apa kamu sudah makan?" Tanya Tio dengan perhatian.
Amanda mengelengkan kepalanya membuat Tio menghela nafas berat.
Tio pun menghubungi seseorang dan meminta mengirimkan makanan ke dalam kamar yang di tempati oleh bunda, makanan itu untuk 3 orang.
"Kamu mandi dulu setelah itu kita makan, biar bunda saya temani dulu," kata Tio mendekati Amanda dan mengusap tangannya.
Sebenarnya Amanda masih binggung, di dalam pikirannya ada begitu banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan kepada Tio namun Amanda tak tahu harus mulai dari mana.
"Percaya padaku," kata Tio meyakinkan karena dia seakan tahu isi pikiran sang istri.
Amanda mengangguk patuh.
"Terus bagaimana dengan baju ganti ku?" Tanya Amanda.
"Pakailah ini dulu, nanti setengah lagi akan ada orang yang datang untuk membantu mu merias wajah dan membawakan baju untuk mu," jelas Tio membuat Amanda yakin.
Setelah itu Amanda pergi ke kamar mandi tak membawa baju ganti yang di sediakan oleh Tio tadi, namun sebelum pergi ke dalam kamar mandi tak lupa Tio membantu Amanda melepaskan hiasan di rambut Amanda, Amanda bersyukur karena hiasan di rambut nya cukup simpel jadi tak perlu lama-lama untuk melepaskannya meskipun Amanda tak berniat untuk menguyur rambutnya dengan air, Amanda cuma ingin membersihkan tubuh dan wajahnya yang sudah terasa lengket.
Sedangkan di aula pesta, tamu yang masih hadir di sana di sambut oleh Bram dan Hendra namun kedua orang itu cukup kerepotan mengingat saat terdengar kasak-kusuk membicarakan masalah tadi. Tiba-tiba senyum ke duanya terbit kala melihat kedatangan tuan nya yang tak lain adalah Abraham.
...----------------...
Di dalam kamar...
"Bunda percayalah orang itu hanya ingin menipu keluarga kita karena keluarga kita sekarang bukan keluarga sederhana seperti dulu, apalagi Tio sudah sukses dan mempunyai usaha sendiri, kak Abraham juga sudah mengurusnya jadi bunda tak perlu khawatir, Tio juga tak mungkin berbuat begitu. Bunda jangan sedih lagi ya, ayo kita makan," jelas Tio panjang lebar sambil membujuk sang bunda makan.
"Bunda masih kenyang," tolak bunda secara halus.
"Bunda, ini hari bahagia Tio jadi jangan sedih karena Tio hanya ingin melihat bunda selalu tersenyum,". Kata Tio menatap sang bunda dengan sendu.
"Tio siapin ya," pinta Tio menatap sang bunda penuh harap.
Bunda mengangguk, dia pun percaya kalau anaknya itu tak mungkin berbuat seperti itu.
__ADS_1
Tio pun menyuapi bunda dengan penuh kasih sayang membuat bunda begitu terharu menatap anak laki-laki nya yang terlihat begitu tampan dan dewasa.
...----------------...
Sedangkan Arin di kamar masih binggung karena Aurel mulai rewel membuatnya pusing. Apalagi permintaan bocah perempuan itu yang tak ada habisnya, si mbak pengasuh pun sudah di buat lelah menuruti permintaan majikan kecilnya itu.
Arin pun menghubungi sang suami, karena Aurel merengek minta di gendong oleh papa sedari tadi. Berbeda dengan Abrian terlihat tenang memainkan game di ponsel nya setelah selesai bermain bocah laki-laki itu langsung meminta makan karena lapar.
"Ma mana Papa? kok lama sih, apa papa lupa ya sama Aurel?" Tanya si kecil itu dengan wajah cemberut.
"Iya sayang sebentar lagi papa datang kok," bujuk Arin.
Ceklek....
Dan benar saja, 10 menit kemudian Abraham sudah tiba di depannya.
Semua menoleh ke arah pintu.
"Hore papa datang," kata Aurel begitu girang melompat-lompat.
"Ayo pa, gendong Aurel. Aurel ingin turun ke bawah melihat pesta om Tio, uh mama jahat dari tadi tak memperbolehkan Aurel ikut ke sana menemui Papa,"
Benar saja mulut kecil itu tak berhenti berceloteh memberitahu sang papa atau lebih tepatnya mengaduh.
Abraham melirik ke arah sang istri. Arin pun mengangguk sebagai tanda kalau dia setuju Abraham mengajak sang putri ke bawah.
Aurel tak akan berani berbuat ulah kalau ada Abraham terlebih lagi Abraham selalu di kelilingi beberapa bodyguard setianya jadi Arin tak perlu takut Aurel hilang dari pesta.
Abraham pun merentangkan kedua tangannya untuk mengendong sang putri.
"Abrian mau ikut?" Tawar nya kepada anak laki-laki nya itu.
Abrian mengelengkan kepalanya. "Tidak pa, Abrian mengantuk," tolak Abrian karena berkali-kali dia menguap menahan kantuk.
Tak lupa sebelum pergi, Abraham mengecup kening sang istri.
__ADS_1
"Kalau ada apa-apa, kamu bisa menghubungi ku," katanya sebelum pergi.
Bersambung.....