
Hari yang di tunggu kedua pasangan pengantin tiba, ya hari dimana Tio dan Rio akan berangkat berbulan madu.
"Apa tidak ada yang ketinggalan?" Tanya Doni melirik ke belakang, kepada Rio yang saat ini tengah duduk manis mengengam tangan Nisa.
"Sudah semua, iya kan sayang," jawab Rio menatap ke arah Nisa, mengedipkan mata nya agar Nisa juga mengiyakan atau menjawab apa yang di ucapkan oleh Rio tadi.
"I-ya sayang," jawab Nisa secara terpaksa dengan nada yang begitu kaku, entah kenapa lidahnya terasa begitu keluh rasanya sangat sulit untuk memanggil Rio dengan sebutan sayang.
Padahal Rio sudah berulang kali meminta Nisa untuk mencoba sama-sama belajar saling menerima dan mencintai, Nisa pun di minta Rio untuk mulai memanggil sayang mulai hari itu. Tetapi Nisa pun sering mengabaikan ucapan Rio, Nisa hanya memanggil Rio sayang hanya di depan keluarga dan orang-orang yang mereka kenal.
"Kita pergi bersama dengan Amanda juga, kok bisa padahal kita kan beda negara?" Tanya Nisa yang dari kemarin merasa penasaran, namun bukan dengan suara keras melainkan berbisik di telinga Rio.
Rio terkekeh gemas, dia mengelus kepala Nisa.
"Kita berangkat bersama, tentunya berbeda pesawat dengan mereka," jawab Rio tersenyum lembut.
"Berbeda pesawat, kok bisa apa kebetulan jadwal penerbangan kita sama?" Tanya Nisa dengan sedikit heran karena penerbangan berbeda negara biasanya jadwalnya tidak sama atau semua ini bisa kebetulan begini itulah yang di pikirkan Nisa saat ini.
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, bukan pesawat yang biasa kita naiki melainkan pesawat kita nanti adalah pribadi milik kak Abraham," sambung Rio dengan berbisik di telinga Nisa.
Mata Nisa langsung membulat sempurna, dia tak bisa membayangkan seberapa kaya keluarga ini.
"Sudah jangan kaget begitu, jelek tahu," ledek Rio ke arah Nisa.
Nisa langsung menatap Rio dengan sengit kemudian menggembungkan pipinya lalu dengan cepat memalingkan wajahnya ke jendela mobil karena kesal.
"Dih manisnya kalau ngambek," kata Rio mengusap gemas pipi sang istri.
Mendapatkan perlakuan manis dari pria di sampingnya itu membuat Nisa merona namun secepatnya dia mengubah wajahnya menjadi kesal lagi.
Sedangkan di mobil satunya, mobil yang di tumpangi Tio dan Amanda tentunya namun dengan supir Bimo.
"Baju kamu, sepatu, jam ataupun barang lainnya sudah tidak ada yang tertinggal kan, aku tidak mau repot-repot balik lagi," tanya Bimo melirik ke arah Tio dengan malas, ya tentunya siapa yang tidak malas kalau di suruh melihat K E B U C I N A N keduanya. Memang baik Amanda maupun Tio sering membuat siapapun yang melihat keromantisan keduanya akan terasa jengah di buatnya apalagi bagi yang jomblo atau tidak berada dekat pasangannya, bagaimana tidak keduanya tak ingat tempat mengumbar kemesraan di manapun berada.
"Pamer terus," sindir Bimo.
"Hmmm...." Jawab Tio singkat, dia masih Ayik membelai rambut sang istri dan mencium serta memainkan rambut milik Amanda sedari tadi.
"Ck dasar es batu," sinis Bimo.
"Jangan ngatain orang sebelum berkaca," jawab Tio menohok sambil melirik ke arah Bimo dengan tatapan sinis saat ini.
Sedangkan Amanda hanya melirik keduanya dengan jengah namun Amanda memikirkan sesuatu yang membuatnya ingin tertawa.
__ADS_1
"Pffffttttt...." Amanda di buat menahan tawa melihat ke arah Tio bergantian dengan Bimo.
"Kenapa?" Tanya Bimo menyergit heran melihat Amanda tertawa.
"Apa yang lucu sayang?" Tanya Tio dengan lembut.
"Om Bimo sama Tio tuh sama saja, sama-sama es batu kalau sudah berada di luar. Wajah datar kalian tuh sering membuat orang ingin kabur kalau berpapasan dengan kalian," kata Amanda meledek keduanya.
"Ck..." Bimo berdecak kesal.
Sedangkan Tio tak ingin menanggapi justru dia memilih tersenyum lembut ke arah sang istri.
"Sudah jangan ketawa terus, nanti kamu cepat haus. Simpan saja tenaga mu," kata Tio penuh perhatian dengan lembut mengusap kepala sang istri dengan lembut.
Amanda pun menurut, dia pun mendaratkan kepalanya di pundak sang suami.
Sedangkan di mobil berbeda.
"Ma om Tio kok tidak ngajak Aurel sih?" Tanya Aurel dengan cemberut.
"Mana ada bulan madu ngajak bocil," sinis Abrian.
"Ya kan Aurel juga mau jalan-jalan naik pesawat," jawab Aurel mencebikkan bibirnya.
"Ck dasar bocil," kata Abrian mengejek adiknya itu.
"Dasar tukang ngadu," cibir Abrian.
"Sttt kalian jangan berisik, kasihan papa nanti tidak konsen nyetir mobilnya nak," kata Arin mencoba melerai perdebatan kedua anaknya.
"Baik ma," jawab keduanya serempak menunduk karena kedua tahu telah melakukan kesalahan.
"Nah gini kan bagus," jawab Abraham dengan senyum mengembang melihat keduanya yang nampak manis karena tidak bertengkar terus.
"Kalau kalian mau liburan, nanti kita liburan lagi kalau papa tidak sibuk," bujuk Abraham.
"Yeee papa the best," jawab Aurel dengan girang tentu nya.
"Nanti kita liburan ke negara yang itu loh pa yang sering muncul di tv terkenal dengan permainan anak-anak," pinta Aurel dengan tatapan berbinar.
"Terserah tuan putri saja lah," jawab Abraham mengelengkan kepalanya mendengar perkataan dari putri kesayangannya.
"Kalau Abrian mau kemana?" Tanya Abraham penuh perhatian.
__ADS_1
"Oh Abrian sih terserah papa yang penting nih bocah tidak buat rusuh," jawab Abrian melirik ke arah sang adik membuat Arin dan Abraham hanya bisa menghela nafas panjang.
"Kita liburan ke pantai, pasti Ayik banyak pria tampan nya pasti apalagi bule-bule tampan," ceplos Arin membuat Abraham yang sedang menyetir melotot dan kaget.
Ckiiitt....
Duh
Duggg
Aduhhhh...
Ketiganya pun mengusap keningnya karena terpentuk.
"Ishhh sakit pa," kata Aurel dengan cemberut sambil mengusap keningnya.
"Kenapa sih pa berhenti mendadak begini, kan kening Abrian jadi sasaran," grutu Abrian panjang lebar.
"Iya mas kenapa sih berhenti mendadak, memang ada apa sih," tanya Arin sambil clingak-clinguk menatap ke arah depan. Namun Arin mengerutkan keningnya saat tak menekan apapun di depan nya, Arin berfikir ada kucing menyebrang jalan atau bebek yang nyasar ke jalan raya.
"Tidak ada apa-apa," jawab Abraham dengan datar.
Arin mengerutkan keningnya binggung saat melihat wajah sang suami yang tadi ceria berubah menjadi masam.
"Maaf ya papa tadi tidak sengaja menginjak rem," kata Abraham menoleh menatap ke arah kedua anaknya itu.
"Oh, ya sudah ayo jalan lagi pa tetapi jangan di ulangi lagi ya ngijak rem mendadak," jawab Aurel dengan polosnya menasehati sang papa.
He he he he he he he he....
Abraham yang tadi cemberut langsung terkekeh mendengar ucapan dari putrinya yang mampu membuat siapapun langsung tertawa.
Abraham pun menjalankan mobilnya lagi.
Arin langsung menutup mulutnya saat sudah sadar dirinya tadi keceplosan berbicara.
"Maaf Sayang," cicit Arin menatap sang suami dengan pandangan menyesal, Arin langsung memegang tangan sang suami.
Abraham memutar musik yang ada di mobilnya dengan lagi kesukaan kedua anaknya itu.
Arin masih belum menyerah saat sang suami mengabaikan dirinya.
"Sayang maaf," lirih Arin memelas.
__ADS_1
Abraham menghela nafas panjang, dia pun tersenyum. "Hmm tetapi jangan di ulangi lagi atau aku akan mengurung mu dirumah biar tuh mata tidak melirik lelaki lain," sinis Abraham dengan pelan agar anaknya tak mendengar ucapan nya.
Bersambung...