
"Anda Tio kan, adik tuan Abraham?" Tanya wanita cantik yang tak sengaja bertemu dengan Tio saat ini.
"Ternyata nona Rosella," kata Tio dengan datar.
"Bolehkah saya duduk di sini?" Tanya perempuan bernama Rosella itu dengan senyum manis semanis gula namun begitu terasa pahit di mata Amanda saat ini.
"Tanya saja dengan istri saya," jawab Tio karena tak ingin istrinya itu merasa tak nyaman.
"Ah anda sudah menikah?" Tanya Rosella kaget, dia tak menyangka pria tampan di depannya itu telah memiliki istri.
"Hmmm...."
Rosella pun menatap Amanda dengan intens seolah menelisik tampilan wanita di depannya, Rosella menilai apakah Amanda pantas bersanding dengan pria yang sudah lama dia impikan itu.
"Iya saya dan Tio menikah baru beberapa hari," jawab Amanda tersenyum lebar seolah menegaskan kalau dialah pemenang nya.
"Oh selamat ya, maaf saya baru tahu," kata Rosella tersebut menjabat tangan Tio maupun Amanda namun hanya Amanda saja yang menerima uluran tangan dari Rosella, sedangkan Rosella tak ambil pusing mengingat Tio sering berlaku begitu terhadap klien perempuan.
Tanpa menunggu aba-aba atau persetujuan dari Amanda, perempuan bernama Rosella itu langsung duduk di depan Tio membuat Amanda melotot menahan kesal. Tio hanya cuek tak menanggapi, dia tengah fokus memakan makanan di depannya saat ini.
'Dih muka tembok, belum di suruh duduk sudah nemplok di depan suami orang,' grutu Amanda tentunya di dalam hati.
Amanda menatap kesal ke arah wanita cantik yang tanpa tahu malu itu duduk di depan suaminya saat ini, ingin rasanya Amanda menarik tangan perempuan itu agar dia segera pergi meninggalkan mereka namun semua itu tidak Amanda lakukan mengingat perempuan itu adalah rekan bisnis sang kakak ipar.
"Apa anda sendirian di sini? Mana suami atau kekasih anda?" Tanya Amanda dengan ramah menampakkan senyum namun senyum paksa tentunya.
"Oh anda tenang saja nona, saya sendirian di sini." Jawab wanita cantik itu tersenyum tipis sambil matanya memperhatikan ke arah Tio.
Sedangkan Tio tak terganggu dengan obrolan dari kedua wanita di mejanya.
"Oh ya Tio bagaimana dengan pertemuan kita yang akan dilaksanakan tanggal 20 nanti?" Tanya Rosella tanpa memperdulikan tatapan Amanda, Rosella seolah-olah tak menghiraukan keberadaan Amanda saat ini di sana.
"Oh itu semua urusan kak Abraham," jawab Tio singkat.
"Kenapa urusan tuan Abraham, bukannya biasanya anda yang mengurus semuanya," kata Rosella sedikit tak terima.
__ADS_1
"Karena perusahaan itu milik kak Abraham jadi semua keputusan ada di tangan kak Abraham, dan anda pasti memahami semua itu. Saya juga ingin menegaskan kepada anda nona Rosella kalau saya di sana hanya sebatas membantu saja karena saya juga sibuk mengurus perusahaan milik saya sendiri," jawab Tio menjelaskan kalau semua itu bukan urusannya agar wanita di depannya mengerti dan tak lagi berbicara panjang lebar lagi.
Sedangkan Rosella diam-diam mengepalkan tangannya di bawah meja, dia begitu kesal karena pria di depannya tak pernah bersikap lembut kepadanya. Pria itu selalu menampakkan wajah datar dan dinginnya di setiap pertemuan.
Apalagi mendengar kalau Tio sudah menikah, membuat Rosella semakin kesal bercampur cemburu.
"Wah ternyata anda suka makan itu juga ya seperti saya," kata Rosella mencoba berbicara lagi dengan Tio namun mengalikan topik yang berbeda.
"Hmmm...."
'Pftttttt, rasain kamu. Emang enak di cuekin, ada untungnya juga ya punya suami es batu seperti Tio tak mudah di embat pelakor,' batin Amanda menahan tawa melihat wanita itu diacuhkan oleh suaminya.
"Ayo sayang, kita keliling lagi yuk. Mungkin kita bisa menemukan makanan yang lain di sana," ajak Amanda tiba-tiba bergelayut Maja di lengan sang suami.
Tio pun merespon dengan mengelus rambut sang istri dengan lembut. "Ayo."
"Maaf karena saya harus pergi," pamit Tio tanpa basa-basi lagi dirinya langsung mengikuti langkah kaki Amanda.
'Ha ha ha ha ha ha, emang enak di tinggalin,' batin Amanda tertawa senang di dalam hati, menertawakan wajah Rosella yang sudah masam seperti buah mangga yang belum matang.
"Tidak siapa yang tertawa," elak Amanda mencoba membohongi sang suami.
"Ck aku tahu isi otak kecil mu itu, sudah jangan pikirkan lagi perempuan tadi. Ayo kita cari makanan sampai kamu kenyang, siapa aku juga bisa puas memakan mu nanti," kata Tio tersenyum licik.
"Issssshhhh.... Dasar mesum," grutu Amanda kesal, suaminya itu setelah menikah menjadi lebih mesum dan sering menggoda dirinya berbeda dengan dulu yang jarak berbicara, kalau pun berbicara hanya seperlunya saja.
"Mesum cuma sama kamu saja, bulan depan perempuan lain,"
"Haissd awas saja kalau berani," ancam Amanda dengan tatapan tajam seolah ingin menelan Tio hidup-hidup membuat Tio langsung merinding di buatnya.
"He he he he he he, ampun sayang," kata Tio memelas, dia tak mungkin melakukan itu.
"Ayo ke sana, rame banget kelihatannya. Eh yang jual juga tampan," ajak Amanda dengan berbinar sambil menarik tangan Tio.
Saat sudah sampai di depan penjual itu, tiba-tiba Tio menarik tangan Amanda untuk menjauh.
__ADS_1
"Kenapa malah di tarik sih, kan aku mau kesana," protes Amanda melepaskan genggaman tangan Tio karena kesal.
"Aku tidak suka," jawab Tio singkat.
"Kenapa? Di sana rame pasti makanan yang di jual juga enak," jelas Amanda.
"Aku...." Kata Tio terputus karena tak melanjutkan membuatnya Amanda di buat penasaran tentunya.
"Aku cemburu," ulang Tio.
"Ha manis banget sih suami ku," kata Amanda langsung memeluk dan mencium pipi Tio.
Cup....
Tio memegang pipinya, tak menyangka Amanda akan mencium pipinya di depan orang ramai lalu-lalang.
Sedangkan di tempat 5adi, tepatnya Rosella saat ini menatap keduanya dari jauh dengan tatapan sulit diartikan.
"Kenapa dia tidak mengundang ku, apa dia tak pernah tertarik dengan ku. Apa kurangnya aku? Apa aku kira g cantik? Apa aku tidak pantas bersanding dengan nya? Kenapa harus perempuan itu,"
Rosella mengutarakan semua rasa kecewanya, padahal dia sering mencoba mengambil hati Tio namun semua itu tak pernah mendapatkan respon dari Tio. Tiba-tiba sekarang dia mendengar dari mulut pria itu kalau dirinya sudah menikah. Hati Rosella di buat hancur seketika.
"Apakah aku harus menyerah, apakah perjuangan ku harus berakhir sampai di sini," gumamnya dengan penuh kesedihan.
"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks, kenapa sesakit ini?" Monolog Rosella.
"Jangan mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah menjadi milik kita." Kata seseorang pria yang menyodorkan tisu ke arah Rosella saat ini.
"Gio?" Sungguh Rosella tak menduga dia bertemu dengan Gio di sini. Salah satu rekan bisnis nya, Gio juga mengenal Tio dengan cukup baik.
.
.
Bersambung....
__ADS_1