
Ceklek.... Suara pintu terbuka terdengar kala Rio membukanya.
"Ayo masuk," ajak Rio menoleh ke arah Nisa saat pintu kamar telah terbuka.
Nisa pun mengikuti langkah kaki Rio dengan pelan untuk masuk ke dalam kamar hotel itu.
"Bagaimana? Apa kamu suka?" Tanya Rio menatap ke arah Nisa.
"Wah bagus sekali," kata Nisa tersenyum lebar saat dirinya melihat suasana kamar ini yang begitu indah karena memang kamar ini sengaja di desain untuk pengantin yang baru menikah, kamar sengaja di sediakan untuk pasangan yang sedang honeymoon.
"Ini sepertinya aku pernah lihat," guman Nisa pelan tangannya menunjuk ke arah ranjang. Saat ini memang diatas tempat tidur itu ada hiasan handuk yang menyerupai angsa.
Nisa menutup mulutnya, dia baru ingat ini semua seperti angsa yang sering Nisa lihat saat mendekorasi kamar untuk pasang pengantin baru. Nisa justru merasa malu, dia tak menyangka sekarang dia yang menjadi tamunya dan itu artinya mereka (para pegawai hotel) itu menganggap kalau Nisa datang kef sini untuk melakukan honeymoon.
Rio menaikkan alisnya melihat Nisa yang memerah, entah saat ini istrinya sedang memikirkan apa?
"Kenapa hmmm?? Apa kamu tidak suka?" Tanya Rio pelan.
"Bukan ...." Jawab Nisa cepat, dia tak ingin Rio berfikir macam-macam.
"Aku dulu pernah bekerja di sebuah hotel dan dulu aku sering membantu teman ku menghias kamar seperti ini, eh sekarang justru aku yang berada di posisi sebagai pengunjung. Ya terasa aneh aja he he he he he....! Benar kata orang dunia itu berputar," Jelas Nisa terkekeh lucu.
"Ayo kita istirahat, kamu jangan bicara terus karena jujur aku merasa lelah ingin segera tidur," jelas Rio.
Nisa yang mendengar itu pun mengerutkan keningnya binggung padahal ini belum malam, ini bisa di katakan masih sore.
"Baru juga jam 5," guman Nisa.
"Sudah jangan berisik, aku mau mandi terus tidur sebentar," kata Rio berlalu menuju ke arah kamar mandi.
"Padahal aku ingin jalan-jalan berdua menikmati suasana sore hari di sekitar sini," kata Nisa dengan cemberut.
Tak sampai 15 menit Rio pun keluar dari sana dan sudah berpakaian, Rio saat ini memakai kaos berwarna putih dengan celana pendek selutut.
"Hoaaaaammmm...." Nisa yang mendengar itupun langsung melirik ke sebelah.
Rio yang sudah tak tahan rasa kantuk pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur tanpa membereskan bunga yang ada di sana.
"Apa kamu tidak takut kalau bunga itu ada semut nya atau lebih parahnya ada ulat kecil," tanya Nisa menatap ke arah Rio membuat Rio langsung ingat.
"Hoaaammm....! Tolong kamu bantu aku singkirkan bunga ini, jujur aku sudah tak tahan rasa kantuk yang menyerang ini." Pinta Rio.
__ADS_1
"Oh ya kalau kamu bosan, kamu bisa pergi keluar tetapi tinggalkan pesan untuk ku agar aku ketika bangun tidak binggung harus mencari mu kemana," kata Rio yang masih sedikit memejamkan mata nya menahan rasa kantuk ini.
Rio yakin kalau Nisa tidak mungkin keluar dari kamar, kalaupun Nisa terpaksa keluar pasti ada bodyguard yang memantau bisa dari jauh, itulah yang di pikirkan oleh Rio saat ini.
"Hoammm.... Aku tidur dulu ya, nanti malam tolong bangunkan aku," pinta Rio diangguki oleh Nisa.
Tak lama Rio pun terlelap dalam mimpi indahnya.
"Apa dia segitu lelahnya sampai bisa tidur secepat ini," guman Nisa membelai wajah tampan suami nya saat ini.
Nisa yang merasa lapar pun langsung turun tanpa membersihkan tubuhnya terlebih dahulu saat ini. Tak lupa Nisa juga meninggalkan secarik kerta berisi pesan untuk Rio agar dirinya tak mencarinya, Nisa pun keluar membawa tas kecil berisi dompet, ponsel. Nisa bersyukur karena Rio tadi sudah memberikan dirinya mata uang negara ini dan tak lupa ATM juga takutnya Nisa ingin berbelanja sendiri.
Rio tak khawatir karena dia sudah tahu kemanapun dia dan Nisa pergi pasti ada bodyguard yang mengawasinya dari jauh, ya memang tugas mereka untuk menjaga keselamatan Rio dan Nisa selama berada di sini namun mereka tak menunjukkan nya secara terang-terangan dengan mengawal di samping, agar tak menimbulkan rasa tak nyaman apalagi mengundang perhatian publik.
Nisa clingak-clinguk, dia binggung harus melewati lorong yang mana secara tadi dia tak memperhatikan jalan karena sibuk dengan lamunannya sendiri.
"Ada yang bisa saya bantu nona?" Tanya salah satu pria bertubuh tegap berpakaian santai.
"Maaf saya binggung harus lewat mana," lirih Nisa merasa tak nyaman karena berbicara dengan orang asing.
"Maaf kalau saya lancang, anda mau pergi ke mana?" Tanya pria itu dengan sopan.
Nisa binggung, matanya bergerak ke kanan kiri dengan gelisah harus berbicara jujur atau memilih diam.
"Nona jangan takut, saya adalah bodyguard yang di tugaskan untuk menjaga keselamatan nona dan tuan Rio," jelas pria itu agar wanita di depan tidak merasa takut.
"Tetapi...." Ucap Nisa menggantung.
"Kamu semua sengaja berpakaian biasa seperti ini, agar tidak mengundang perhatian orang lain," jelas pria depannya itu.
"Bagaimana aku bisa membedakan atau tahu kalau kalian itu bodyguard yang di tugaskan untuk menjaga kamu?" Tanya Nisa dengan tatapan menyelidik.
"Nona tenang saja, kamu semua mempunyai lencana khusus yang terpasang di baju kamu. Seperti ini," jelas pria itu menunjukkan lencana yang ada di bajunya kepada Nisa agar perempuan di depannya percaya.
"Apa nona sudah percaya. Kalau begitu ijinkan saya mengawal anda," pinta pria itu dengan menunduk hormat.
Nisa pun mengangguk percaya.
"Saya lapar, adakah restoran atau tempat makan yang terdekat?" Tanya Nisa.
"Bagaimana kalau anda memesan makanan saja, anda bisa menghubungi resepsionis hotel meminta untuk mengirimkan makanan ke kamar anda," usul pria itu.
__ADS_1
"Hmm...! Itu bagus juga, kenapa aku bisa lupa?" Nisa mengangguk setuju dengan usulan yang pria di depannya itu.
"Apa di sini ada makanan asal negaraku?" Tanya Nisa dengan suara pelan terdengar ragu.
"Maaf nona, sepertinya tidak ada. Apa anda mau saya antar ke restoran terdekat," tawarnya dengan ramah.
"Boleh juga, mohon tunjukkan jalannya," kata Nisa pelan merasa tak enak merepotkan orang lain.
"Anda jangan merasa sungkan,"
"Terima kasih,"
Setelah itu Nisa pun mengikuti langkah kaki pria yang dia ketahui adalah bodyguard bayangan istilah kerennya mungkin....
Nisa menoleh ke kanan kiri mengingat jalan yang dia lalui, sepanjang perjalanan Nisa tak henti-hentinya merasa takjub apa yang di lihatnya saat ini. Bangunan hotel terasa mewah dan begitu ramai orang berlalu lalang.
Sampailah Nisa di loby hotel.
"Mari nona, sebaiknya kita memakai mobil agar anda tidak lelah," ajak pria tadi.
"Bagaimana kalau kita jalan kaki saja," pinta Nisa.
Pria itu clingak-clinguk memperhatikan sekitarnya.
Tanpa di duga, pria tadi menarik Nisa dengan paksa masuk ke dalam mobil.
"Kenapa anda memaksa saya,"
"Ayo cepat masuk,"
"Lepaskan saya, tolong,"
"Diammmm....."
"Tolong....."
Buggghhhhh.....
Tubuh pria itu tersungkur.
.
__ADS_1
Bersambung....