
"Kemana dia," guman Nisa dengan heran saat dia menatap ranjang sudah kosong di sampingnya itu.
Nisa pun langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan sang suami namun nihil tak ada siapapun di dalam kamar. Bahkan bayangannya pun tak terlihat.
"Ah ternyata dia tidak ada di kamar," guman Nisa dengan sedikit kecewa karena tak menemukan keberadaan sang suami. Nisa tadi berfikir Rio akan menunggu dirinya dan menemaninya sedari tadi namun Nisa harus menelan kekecewaan karena Rio tak ada di sisinya saat ini.
Nyuttttt....... Tiba-tiba kepalanya berdenyut sakit, kepalanya terasa berat dan sakit.
"Kenapa kepalaku masih terasa pusing begini," lirih Nisa memegang kepalanya terasa sakit dan terasa berputar-putar itu.
Tring.... Tring....
Terdengar bunyi dari ponsel Nisa menandakan ada pesan masuk.
"Siapa yang mengirimkan pesan untuk ku, apa itu Rio?" guman Nisa berfikir itu pesan dari suaminya.
Nisa mengambil ponselnya yang terletak diatas meja tak jauh dari sana, dia langsung terbelalak kaget melihat foto yang dikirimkan oleh orang yang tak di kenal ke nomor telepon miliknya saat ini. Hati Nisa hancur, Nisa merasa sedih, kecewa semua bercampur aduk. Ternyata suaminya tega meninggalkan dirinya yang tengah sakit demi menjaga perempuan lain. Air mata Nisa tak terasa menetes, mungkin karena rasa sakit dan kecewa yang tengah Nisa rasakan.
Nisa tertawa getir. "Ha ha ha ha ha ha ha ha, apa selama ini dia hanya bersandiwara? Dasar pria egois untuk apa dia memaksaku menikah waktu itu kalau ternyata dia sudah mempunyai wanita yang dia cintai." Raung Nisa di dalam hatinya
Nisa tertunduk lemas meratapi nasibnya saat ini, setelah dia benar-benar mencintai suaminya itu dia harus menelan kekecewaan. Apa selama ini Rio berpura-pura baik dan mencintainya? Apa semua sikap manisnya itu hanya kebohongan belaka? Apa kata cinta dan gombalan yang sering dia ucapkan juga hanya kebohongan? Nisa bertanya-tanya di dalam hatinya saat ini, dia masih belum percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.
Tak terasa air mata Nisa mengalir tanpa di minta, entah kenapa akhir-akhir ini perasaan Nisa begitu sensitif.
"Siapa dia? Apa hubungan mereka? Kenapa rasanya dadaku begitu sakit dan sesak saat melihat dirimu membelai rambut wanita itu," guman Nisa dengan lirih menatap ke arah ponsel, di mana ada foto Rio tengah berada di ruangan sepertinya berada di rumah sakit dan tangannya membelai rambut wanita yang terbaring di ranjang dengan wajah pucat dan mata tertutup.
"Ah mungkin ini hanya editan, mungkin saja orang itu ingin membuat hubungan ku dan Rio renggang?" Kata Nisa mencoba berfikir positif kepada suaminya.
__ADS_1
Tring.... Tring....
Bunyi pesan masuk ke ponsel Nisa membuat Nisa antara iya dan tidak untuk membuka pesan itu. Nisa begitu tahu karena takut hatinya akan kecewa atau tersakiti.
"Apa kamu tidak ingin tahu siapa wanita itu?" Isi pesan yang masuk ke dalam ponsel Nisa saat ini.
Membaca pesan itu, perasaan Nisa semakin campur aduk.
"Siapa kamu? Maksud kamu apa mengirim kan foto dan pesan tadi?" Jawab Nisa dengan cepat dan mengirimkan pesan yang di ketik nya tadi kepada nomor asing itu.
Tring.... Bunyi pesan untuk kesekian kalinya ke ponsel Nisa.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha, apa kamu siap menerima kenyataan ini," jawab pesan dari orang asing itu dengan ambigu membuat Nisa berfikir salah paham.
Nisa terdiam sejenak menatap ke arah ponsel dengan nanar.
"Apa Rio selingkuh, hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks, kenapa di tega melakukan semua itu kepada ku? Apa salah ku, hiks hiks hiks hiks," guman Nisa dengan suara pelan saat selesai membaca pesan balasan dari nomor tadi di sertai isakan tangis yang keluar dari mulutnya.
Nisa mengusap wajahnya yang penuh dengan air mata itu dengan kasar.
Tring.... Tring....
"Pasti kamu saat ini sedang menangis melihat foto Rio menatap wanita itu dengan sedih," ejek orang di sebrang sana melalui pesan dan mengirimkan kepada Nisa.
Nisa memilih mengabaikan pesan itu karena hatinya sudah campur aduk. Dia tak ingin membuka pesan itu namun orang itu seakan belum puas menyakiti hati Nisa. Dia masih saja mengirimkan pesan tanpa Nisa berniat membalas pesan itu.
Tring.... Tring...
__ADS_1
"Dia adalah Renata mantan kekasih Rio dan tentunya Rio masih begitu sangat mencintai Renata sampai sekarang, siapapun yang melihatnya pasti tahu," Pesan balasan dari nomor asing tadi.
Tring.....
"Aku tahu kamu pasti tak percaya, datang saja ke rumah sakit ST,"
Terdengar bunyi ponsel untuk kesekian kalinya, menandakan ada pesan masuk setelah itu ponselnya tak berbunyi lagi menandakan kalau tidak ada pesan lagi dari nomor asing itu.
Nisa pun berjalan ke arah kamar mandi membasuh wajahnya agar terlihat segar. Setelah itu Nisa beranjak ke meja rias untuk merias wajahnya yg tipis-tipis.
Nisa mengambil tas dan memasukkan ponselnya kedalam tas.
Saat Nisa berjalan keluar menuju ruang tamu tak sengaja Nisa berpapasan dengan salah satu bodyguard.
"Maaf nona Nisa mau kemana?" Tanya bodyguard itu dengan sopan.
"Aku hanya ingin keluar sebentar," jawab Nisa menatap intens pria di depannya memastikan dia tak akan tertipu lagi untuk kedua kalinya.
"Bagaimana kalau saya yang akan mengantar nona dan beberapa dari kami juga ada yang ikut mengawal nona nantinya," tanya bodyguard itu dengan sopan menawarkan untuk mengantar Nisa ke tempat tujuan.
Nisa engan diantar mereka, apalagi nanti pasti gerak geriknya nanti tak luput dari semuanya. Nisa begitu risih kalau harus kemana-mana di ikuti.
Sedangkan di sisi lain...
"Ha ha ha ha ha ha, pasti perempuan itu sedang menangis," kata pria itu tertawa.
"Maaf aku harus melakukan semua ini agar Rio juga menderita, di saat kamu terbaring sakit sendirian di temani kesedihan tetapi dia (Rio) tengah bersenang-senang dengan istrinya itu. Ah sungguh tak adil buat mu sayang," kata Ardimas menatap sendu ke arah ruang rawat di mana sedang terbaring sosok perempuan yang dia cintai dengan wajah pucat. Ya pria itu adalah Ardimas sahabat sekaligus pria yang mencintai Renata dalam diam.
__ADS_1
"Ha ha ha ha ha, Rio kamu harus ikut menderita seperti Renata. Aku tak rela kamu bahagia sedangkan Renata....."
Bersambung....