
Rio dan Nisa saat ini sedang turun dari pesawat yang mereka tumpangi tadi. Semua itu karena kondisi Nisa yang terlihat menghawatirkan membuat Rio tak tega melihatnya, Rio sadar mungkin ini pengalaman Nisa pertama kali naik pesawat. Gre sudah menyewakan sebuah hotel untuk keduanya mengingat kondisi Nisa yang baru pertama kali naik pesawat.
Jangan heran karena semua sudah diatur oleh Gre, orang kepercayaan dari Abraham. Sesaat setelah turun dari pesawat Gre sudah menghubungi beberapa anak buahnya untuk memilih penginapan ataupun hotel yang tak jauh dari bandara. Gre sudah memikirkan semuanya untuk kenyamanan Rio dan Nisa agar liburan mereka berjalan lancar.
Mobil hitam itu membawa Rio maupun Nisa memasuki sebuah hotel.
"Bukan kah kita ke negara K?" Tanya Nisa sedikit heran saat melihat Rio malah turun di negara lain bukannya tujuan mereka adalah negara p.
"Oh, kita hanya istirahat sebentar. Aku takut kamu masih gugup ataupun takut jadi lebih baik kita beristirahat di sini sebentar nanti setelah kamu merasa enak dan merasa bisa melanjutkan perjalanan kita bisa meninggalkan negara ini menuju negara P," jelas Rio agar Nisa tidak binggung karenanya.
"Oh, aku kira kamu merubah haluan ke negara ini dan membatalkan niat untuk ke negara P karena aku," kata Nisa menunduk merasa tak enak.
"Jangan berbicara seperti itu, mana mungkin aku tega melihat istriku merasa tak nyaman," kata Rio secara spontan.
Deg....
Perkata Rio yang simpel itu mampu membuat Nisa merasa dirinya begitu senang, Nisa tiba-tiba merona di buatnya.
'Duh so sweat banget sih nih cowok, suka bikin orang salting,' guman Nisa di dalam hati nya saat ini sambil menatap Rio dengan tersipu malu.
'Apakah aku jatuh cinta,' batin Nisa yang merana pipinya yang tiba-tiba memanas merasa tersentuh dengan perhatian kecil dari sang suami.
'Apakah secepat ini aku jatuh cinta, mustahil,' batin Nisa mengelak apa yang saat ini dia rasakan.
Bagi Nisa itu terlalu cepat menurutnya.
Jujur Nisa tak menyangka Rio begitu memperlakukan dirinya dengan begitu baik, Nisa sempat berfikir Rio sama seperti Tio yang dingin mengingat kemarin dia menikah dengan pria itu terpaksa. Nisa juga sempat berfikir akan mendapatkan perlakukan yang kurang baik dari pria itu atau lebih tepatnya kekerasan namun semua itu hanya ketakutan Nisa saja. Rio justru memperlakukan dirinya seperti seorang istri, tatapan Rio juga terlihat tulus saat bersamanya, apalagi perhatian-perhatian kecil yang sering pria itu berikan seperti tadi.
"Hei ayo, jangan melamun saja atau kamu mau tidur di luar," kata Rio membuyarkan lamunan Nisa saat ini.
__ADS_1
"Ha?" Nisa terlonjak kaget mendengar suara Rio.
"Ayo," ajak Rio.
"Apa?" Tanya Nisa yang masih kaget, Nisa tak menyadari kalau dirinya saat ini berada di depan pintu kamar hotel. Nisa tak memperhatikan sekitarnya, dia sibuk dengan pemikirannya sendiri sampai Rio menarik tangan nya ke mana pun Nisa tak memperhatikan.
"Ayo masuk, kita sudah sampai jadi jangan melamun terus dari tadi. Apa kamu tidak lelah dan tidak ingin tidur di kasur yang empuk?" Tanya Rio menyergit heran melihat Nisa yang terlihat binggung saat ini.
"Ah iya, maaf aku tadi melamun. Aku juga sudah lelah," lirihnya menunduk merasa malu bercampur canggung karena ketahuan melamun.
'Untung saja dia tidak bertanya, aku sedang melamun apa, bisa malu kalau aku ketahuan melamun tentang dirinya,' grutu Nisa di dalam hati nya saat ini.
"Hmmm tidak apa-apa, ayo masuk. Aku sudah meminta pelayan untuk membawakan kamu makanan takutnya kamu merasa lapar, apalagi hari sudah mulai gelap," kata Rio berjalan masuk ke dalam kamar.
"Apa kita akan tidur sekamar?" Tanya Nisa dengan suara pelan, dia takut Rio akan mata mendengar ucapan nya tadi.
"Aku kemarin sudah bilang kalau kamu harus belajar menerima ku sebagai suamimu, aku tidak ingin main-main dengan pernikahan. Bagiku kamu adalah istriku hari dan seterusnya, aku tak berniat berpisah dengan mu. Sejak aku memutuskan memilih mu, hari itu juga aku sepenuhnya menyerahkan hati ku kepada mu."
Deg...
Deg...
Kata-kata itu begitu menyentuh hati Nisa yang paling dalam.
Berkali-kali Nisa di buat terenyuh dengan perkataan dari pria tampan di depan nya yang sudah resmi menjadi suaminya itu. Perempuan manapun pasti meleleh mendengar ucapan dari Rio apalagi perhatian pria itu.
"Sudah jangan berfikiran macam-macam, otak kecil kamu tak akan bisa memikirkan semuanya. Jadi percayalah kepadaku," kata Rio mengetuk kening Nisa karena gadis di depannya itu masih begitu sulit menerima dirinya.
"Ish...." Kesal Nisa menghentakkan kakinya karena di ejek pria di depannya itu.
__ADS_1
"Masuk atau ku gendong?" Kata itu muncul dari mulut Rio dengan sedikit ancaman karena melihat Nisa masih terpaku di depan pintu saat ini.
"Ck dasar pemaksa," grutu Nisa, tiba-tiba sifat bar-bar nya muncul. Sifat yang Rio lihat saat mereka kemarin berdebat.
Rio tersenyum tipis, ya sangat tipis sampai Nisa pun tak menyadarinya. Rio merasa kalau Nisa sudah nyaman dengan nya karena Nisa sudah menunjukkan sifat dirinya sendiri.
"Dasar gadis labil," grutu Rio dengan suara kecil sambil menggelengkan kepalanya saat menatap Nisa yang terlihat kesal.
Akhirnya Nisa pun masuk ke dalam kamar.
"Kita satu kamar?" Tanya Nisa.
"Tentu, memang kamu mau pesan kamar lain? Silahkan saja," jawab Rio enteng menawarkan hal itu.
Rio tersenyum tipis melihat wajah Nisa yang seperti sedang memikirkan sesuatu.
Ya saat ini Nisa berfikir, dia tak mungkin memesan kamar lain mengingat dirinya tak membawa uang sepeser pun. Yang ada hanya ATM pemberian pria di depannya saat ini, mau memakainya untuk menyewa kamar pun Nisa sayang dengan uang nya.
'Pasti mahal nih sewa satu kamar, mending uangnya ku simpan saja takutnya nanti ada keperluan mendadak. Gak salah juga aku tidur dengan Rio, dia kan suamiku dan tak mungkin macam-macam mengingat perlakuan dia yang baik dan tak pernah memaksakan kehendak,' batin Nisa tengah berfikir.
"Tidak kok, aku bisa tidur di sini," jawab Nisa kikuk.
'Hi hi hi hi hi, lucu banget sih kalau kamu kebingungan begitu,' batin Rio.
"Aku mau mandi dulu, setelah itu kita pergi keluar mencari makanan," kata Rio sebelum berlalu pergi ke dalam kamar mandi.
"Hmm..." Jawab Nisa mengangguk.
Bersambung....
__ADS_1