Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 26


__ADS_3

"Iya, kalau Aurel buat ulah atau dia rewel nanti minta tolong bang Bimo atau bang Doni untuk mengantar Aurel ke sini," pinta Arin.


"Apa kamu tidak ingin menemaniku di bawah, kamu tidak takut kalau suami tampan mu ini di dekati gadis-gadis cantik nanti," kata Abraham menggoda sang istri.


Arin langsung melotot lucu ke arah Abraham.


" Awas saja kalau kamu berani," kata Arin melirik ke arah Abraham dengan galak.


"Ha ha ha ha ha ha, aku takut tak bisa menolak pesona gadis cantik itu nanti,"


Bukannya takut justru Abraham kembali meledek sang istri. Ya Abraham masih berniat menggoda sang istri membuatnya kesal adalah kesukaan Abraham mengingat wajah Arin tampak begitu mengemaskan.


"Tenang ma, nanti kalau ada perempuan jelek seperti boneka badut yang mendekati papa, emmm.... Aurel tak akan membiarkan nya, nanti Aurel gigit tangannya biar dia kapok tidak berani dekat Papa," kata Aurel penuh semangat.


Abraham menoleh ke arah sang anak dengan tak percaya.


"Ha ha ha ha ha ha anak mama benar-benar pintar," kata Arin tertawa senang sambil mengusap kepala sang anak.


"Dari mana Aurel tahu kalau nanti akan ada perempuan yang mendekati papa?" Tanya Abraham padahal dia hanya berniat mengerjai sang istri.


"Aurel sering lihat di tv kalau banyak perempuan yang ingin mendekati pria tampan, papa kan tampan meskipun ada uban nya satu dua tetapi papa tidak kalau keren sama pria yang ada di tv itu," jelas Aurel membuat Abrian maupun Abraham tercengang.


"Ha ha ha ha ha, sungguh ajaib kata-kata adik ku itu, pujian maupun hinaan secara bersamaan tanpa dia sadari," guman Abrian mengelengkan kepalanya melihat betapa polosnya sang adik.


Arin tersenyum meledek ke arah Abraham. Sedangkan Abraham kesal tanpa sadar sang anak mengatakan dia Tua.


'Heeuuuuhhh...'


Abraham menghela nafas panjang untuk mengurangi rasa kesal mengingat Aurel adalah putri kesayangannya.


"Besok aku akan menyuruh Bimo untuk menghilangkan semua uban di rambutku tanpa tersisa," guman Abraham memberengut kesal.


"Ayo pa, cepat nanti sebelum kue kesukaan Aurel di habiskan sama orang-orang itu," Aurel menarik jas Abraham agar Abraham segera menuruti permintaannya itu.


"Hmmm...." Jawab Abraham singkat setelah itu dia pun bergegas menuju pintu.


Ceklek....


Braakk.


Setelah pintu tertutup rapat.


"Ma apa benar itu adikku, mama tidak salah kan takutnya dia tertukar di rumah sakit dulu," tanya Abrian menatap ke arah Arin dengan wajah penasaran.


"Ha ha ha ha ha ha ha, kamu ada-ada saja. Ini bukan seperti sering mbak Dewi tonton," jelas Arin kepada sang anak takutnya Abrian sering melihat pengasuhnya itu menonton televisi.

__ADS_1


"Kirain seperti itu ma, habis tingkah Aurel kadang suka ngeselin," jawab Abrian dengan wajah cemberut.


"Sudah sekarang kamu tidur saja, nih mama lihat dari tadi kamu menguap.


Abrian pun menuju ke arah kasur dimana sang adik kecilnya masih tertidur lelap.


Di aula pesta.


Tio berjalan menuju para tamu sambil mengandeng Amanda yang sudah cantik dengan balutan baju berwarna putih begitu mewah namun tampak anggun, keduanya begitu memukau.


Sedangkan sang bunda memilih untuk beristirahat saja di kamarnya.


Denis menarik tangan Nisa untuk mendekat ke arah Tio untuk mengucapkan selamat, mengingat sedari tadi Denis tak menemukan keberadaan Tio maupun Amanda jadi Denis masih engan pulang.


"Ayo kita temui mereka dan mengucapkan selamat," kata Denis menarik tangan Nisa dengan tergesa-gesa.


"Eh jangan cepat-cepat nanti aku jatuh, tuh lihat kaki ku," kata Nisa mengingatkan Denis.


Denis pun berhenti dan melihat ke arah kaki Nisa dan benar saja Nisa saat ini memakai high heels, Denis tak tahu kalau Nisa memakainya karena biasanya Nisa lebih suka memakai sepatu biasa.


"He he he he he, maaf aku terburu-buru ke sana tanpa memperdulikan kesulitan mu berjalan karena aku sudah tak sabar untuk mengucapkan selamat kepada keduanya," jawab Denis dengan wajah merasa sedikit bersalah.


"Iya tidak apa-apa, kamu bisa berjalan duluan aku akan menyusul," usul Nisa takut Denis kecewa.


Tatapan Denis tiba-tiba berbinar cerah.


"Iya, santai saja," jawab Nisa mencoba tersenyum manis.


Denis pun melepaskan tangannya dan berjalan menuju ke arah Tio dan Amanda.


"Ternyata aku tak sebegitu penting untukmu," gumannya lirih.


Denis pun menghampiri Amanda dan Tio, tak lupa mengucapkan selamat tak lama Nisa pun muncul di belakang Denis dan mencoba tersenyum dan mensejajarkan diri di samping Denis.


Denis pun menoleh dan tersenyum.


"Oh ya itu siapa?" Tanya Amanda kepada Denis saat melihat keberadaan wanita cantik yang berada di samping Denis.


"Ini Nisa," kata Denis memperkenalkan Nisa ke Tio dan Amanda.


"Selamat ya," kata Nisa.


Nisa pun menjabat tangan Amanda tetapi tidak dengan Tio mengingat Tio yang cuek dan tak menggubrisnya.


'Untung dia lupa dengan ku,' lirih Nisa di dalam hati nya.

__ADS_1


"Jangan ambil hati, dia itu memang terkenal dingin jadi jangan heran dia begitu dengan perempuan," jelas Denis berbisik.


"Oh aku mengerti sekarang, semoga kamu cepat menyusul ya," kata Amanda dengan tulus.


"Doakan saja dia mau dengan ku," kata Denis menatap ke arah Nisa.


Nisa pun tersenyum kecut tak tahu harus bagaimana, dia pun milih diam saja tak menanggapi ucapan Denis saat ini.


Kring....


Tiba-tiba ponsel Tio berbunyi.


Dengan malas Tio merogoh saku celananya.


Tio mengerutkan keningnya saat melihat si pemanggil ternyata adalah Rio yang tak lain adalah kembarannya.


"Nih orang dah tahu kalau aku sedang menyapa beberapa tamu dan teman-teman kita bukannya membantu malah dia meminta panggilan video.


Mau tak mau Tio pun meminta izin untuk menjauh.


"Rio," bisik Tio di telinga Amanda.


Tio pun menjauh dari sana membiarkan Amanda berbincang dengan Denis dan Nisa berbincang.


"Halo," kata Tio saat melihat wajah saudaranya dari sebrang sana melalui ponsel mewah nya.


"Apa aku bebaskan saja wanita ini karena dia sudah menjelaskan semuanya," kata Rio meminta pendapat.


Lilis mendengar itupun merasa lega dan saat tanpa sengaja dia pun melihat ke layar ponsel yang menampilkan wajah Tio.


Tanpa sengaja ponsel Tio bergerak menyorot Nisa dari jauh.


"Nisa tolong aku...." Teriak Lilis saat melihat sekelebat wajah Nisa.


"Hah..." Rio yang melihat itupun memperhatikan ke layar ponsel, dari jauh dia melihat sekelebat wajah wanita cantik mengobrol dengan Amanda.


"Eh itu siapa yang bicara dengan Amanda?" Tanya Rio.


"Oh itu adalah Nisa, Denis yang membawanya ke sini," jelas Tio membuat Rio tersenyum menyeringai.


"Oh ya kamu tahan dia, aku ingin berbicara dengan dia," pinta Rio.


Tut.....


Panggilan terputus sepihak.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2