
Acara kedua pun berlangsung.
Sore ini acara untuk sahabat dan teman-teman nya.
"Eh selamat ya Tio, kalian akhirnya nikah juga. Pusing gue lihat kalian romantis-romantisan di kampus, nah kalau begini kan aman buat kita semua karena kalian bisa mesra-mesraan di rumah dan tidak bikin resah kampus lagi, ha ha ha ha ha ha," kata Rezki salah satu teman satu jurusan Tio.
Plak...
Tiba-tiba Rezki di buat kaget saat pundaknya tanpa sebab di pukul oleh orang di belakangnya.
"Aduuuh sakit ogeb," grutu nya sambil mengusap pundaknya yang sakit dan menatap ke arah belakang untuk melihat siapa yang dengan sengaja memukulnya saat ini.
"Hei jangan buat rusuh ya pernikahan Tio, tuh lihat wajah Amanda sudah seperti kepiting rebus gara-gara Lo," kata Dika melirik Rezki tajam.
Tio pun ikut melirik ke arah teman satu kampus nya itu dengan tatapan kesal terlihat begitu kesal.
"He he he he he he maaf kelepasan bicara," kata Rezki tak enak, dia pun menangkup tangannya di depan Amanda sebagai permintaan maaf.
"Ayo kabur, lihat tuh wajah Tio sudah angker mau makan orang," bisik Dika di telinga Rezki.
Rezki pun merinding di buatnya saat melirik ke arah Tio saat ini dengan cepat.
"Kami pamit mau turun ya, nih nasi nya dah melambai-lambai ingin masuk perut," pamit Dika sambil mengusap perutnya seperti merasa lapar.
Rezki mengangguk setuju.
"He he he he he he, sekali lagi selamat ya bro. Aku mau ikut Dika," kata Rezki ikut melesat kabur meninggalkan kedua mempelai itu.
Keduanya pun cepat melesat pergi meninggalkan Tio dan Amanda yang kebingungan dengan keduanya.
Kini giliran Nino, Reza, Gre, Dea dan Mita yang mengucapkan selamat kepada Tio dan Amanda di atas pelaminan.
"Selamat ya.... Semoga jadi keluarga samawa dan cepat dapat momongan,"
"Selamat ya Tio, Amanda semoga langgeng dan bahagia terus sampai tua,"
"Selamat ya man, Tio. Intinya selalu bahagia dan kalau masalah sebaiknya di selesaikan dengan kepala dingin,"
"Selamat ya, Tio titip teman baik gue jangan pernah buat dia nangis," kata Dea sambil memeluk Amanda tak lupa melirik ke arah Tio.
"Cepat buat anak yang lucu ya, nanti aku mau kok jagain," kata Mita membuat semua mengelengkan kepalanya.
Setelah mengucapkan semua itu. Ke lima orang tadi langsung pergi meninggalkan pelaminan, mereka turun ke bawah membaur dengan semua teman kampus yang sudah ada di sana.
__ADS_1
"Tuh teman kamu begitu amat ya sayang," kata Amanda cekikikan melihat tingkah keduanya.
"Bukan teman ku, entahlah siapa yang buat kedua orang itu nyangkut di kelas aku," protes Tio tak terima dengan ucapan dari sang istri.
"Ha ha ha ha ha ha, gitu aja cemberut," kata Amanda mencolek dagu Tio dengan gemas.
"Ayo duduk, pasti kamu lelah," ajak Tio.
Keduanya pun duduk di singgasana cinta itu menjadi raja dan ratu untuk sesaat.
Suasana begitu hangat, Arin dan kedua anaknya sedang berada di dalam kamar hotel untuk beristirahat mengingat Aurel sudah lelah bermain dan Andra terlihat mengantuk.
Bunda masih menjamu beberapa kerabat yang masih ada di sana.
"Lepaskan aku...."
"Kalian tidak tahu siapa aku,"
"Lepaskan, biarkan aku masuk,"
Suasana menjadi tegang saat mendengar teriakan seseorang dari arah luar.
Banyak orang berbisik-bisik menanyakan apa yang tengah terjadi saat ini.
"Ada masalah apa?"
"Apa yang terjadi di luar?"
Begitulah desas-desus dengan suara-suara kecil yang terdengar di antara para tamu undangan.
Tio menghela nafas panjang karena semua tamu yang hadir saat ini masih kalangan kerabat dan teman maupun sahabat Tio maupun Amanda, untuk rekan bisnis nya undangan nya baru besok, meskipun begitu Tio maupun Amanda ikut geram karena bercampur malu.
Hos hos hos hos hos hos....
Seorang bodyguard tergopoh-gopoh berjalan menuju ke arah pelaminan.
"Maaf bos, ada wanita yang mengacau di depan. Wanita itu ingin bertemu dengan bos, kami terpaksa mengamankan dia karena dia tak mempunyai kartu undang dan mencoba menerobos masuk," lapor pria bertubuh tinggi tegap itu.
Amanda menoleh menatap ke arah Tio, Amanda begitu penasaran karena mendengar berita itu.
"Apa itu pengemar kamu?" Tanya Amanda menatap ke arah Tio.
"Aku tidak tahu, aku juga cuma mengundang para laki-laki saja, mungkin teman mu?" Tanya Tio balik.
__ADS_1
"Tidak, semua teman yang ku undang sudah datang semua, mungkin dia tak terima aku menikah dengan mu, pengemar kamu kan banyak," kata Amanda di sertai sindiran di belakang nya.
"Jangan mengada-ada," kata Tio dengan tegas dan tajam membuat Amanda menelan ludah kasar melihat sang suami yang
"Kamu bawa saja dan interogasi dia, entahlah kenapa dia mengacau di sini," perintah Tio namun baru saja selesai Tio berbicara muncullah perempuan dengan berlari kencang menuju ke arah pelaminan.
"Hentikan wanita itu, jangan sampai dia membuat kerusuhan," teriak Abraham dengan lantang suara menggelegar memberi perintah kepada anak buahnya yang sudah menyebar di sudut ruangan itu.
"Hei lepaskan aku...." Perempuan itu masih berteriak tak karuan karena dia tak ingin rencana gagal karena dia harus di usir.
"Nak biarkan saja, bunda ingin tahu kenapa wanita ini berteriak tak jelas," bunda tiba-tiba datang melerai saat anak buah Abraham sudah menarik tangan perempuan pembuat onar itu.
Melihat situasi yang sedikit menguntungkan dirinya, dia pun melanjutkan aksinya. Apalagi dia menyebut bunda ke arah Tio.
'Pasti itu... Bunda pria itu,' batin Lilis senang.
Ya wanita itu adalah lilis, dia sudah berusaha untuk datang sampai tempat waktu ke sini namun apa daya keberuntungan tak berpihak kepada nya saat ink, dia datang ketika akad susah selesai.
"Bunda, jangan dekati wanita itu. Aku takut dia ke sini karena punya niat tak baik," kata Abraham mencoba membujuk mertuanya agar tidak membiarkan wanita itu mendekat.
"Nak, bunda mohon," kata bunda memelas.
Abraham melirik ke arah Tio dan Tio pun akhirnya mengangguk karena pasrah.
Abraham melirik ke segala arah, semua tamu tengah memperhatikan ke atau mereka.
"Sebaiknya kita bicarakan di dalam saja," kata Abraham.
Amanda pun menarik tangan Tio seolah ingin ikut melihat kejadian ini.
Kedua orang tua Amanda pun sudah mendekat ke arahnya.
"Kenapa nak? Apa kamu kenal dengan wanita ini?" Tanya papa Amanda.
Amanda dan Tio mengelengkan kepalanya bersamaan.
"Papa tenang saja, biar aku yang urus. Tolong papa temani tamu saja," pinta Tio.
Sedangkan perempuan tadi sudah di tarik bodyguard Abraham menuju ke sebuah ruangan di ikuti oleh Abraham dan sang bunda.
Abraham bisa melihat ada niat tak baik perempuan itu terlihat dari gelagatnya yang begitu mencurigakan.
Bersambung....
__ADS_1