
Pagi ini....
Suasana terlihat begitu sepi, bunda masih terdiam di dalam kamarnya, entahlah dia merasa binggung harus sedih atau senang karena kedua anaknya telah menemukan tambatan hatinya.
"Kenapa tuh anak minta di nikahkan pagi ini," grutu bunda karena dia binggung tak tahu harus melakukan apa.
Tok tok tok tok tok tok tok tok....
Ketukan pintu itu terdengar nyaring membuat bunda yang sedang melamun itu pun tersentak kaget.
Bunda berjalan ke arah pintu.
Ceklek....
"Eh Arin, ada apa nak?" Tanya sang bunda.
Bunda menyergit heran melihat putrinya sudah rapi di depan kamar nya saat ini.
"Ayo masuk," ajak bunda menarik tangan sang anak.
"Kenapa nak tumben masih pagi sudah ke sini?" Tanya bunda saat Arin sudah duduk manis di sofa.
"Bunda pasti binggung karena pagi ini adalah acara pernikahan Rio," kata Arin seakan tahu dilema yang tengah dialami bunda nya saat ini.
"Iya bunda juga binggung, kemarin tuh anak di tanya kapan nikah bilang nya nanti, terus bunda dengan beberapa waktu lalu dia baru putus dengan Renata, eh tadi malam minta restu mau nikah. Bagaimana bunda gak syok di buatnya, untung bunda tidak jantungan," grutu bunda menjelaskan isi hatinya saat ini.
Arin dengan pikirannya masih membaca situasi, dia ingin memancing sang bunda agar mengetahui sampai sejauh mana bunda nya itu tahu masalah yang di hadapi oleh Rio saat ini.
"Apa tuh anak tidak bilang alasan dia ingin menikah pagi ini?" Tanya Arin sekali lagi.
"Tuh anak kan tertutup, dia cuma bilang kalau dia cinta sama wanita yang bernama Nisa jadi meminta restu dari bunda untuk menikah dengan nya pagi ini, ya meskipun dengan alasan yang tak masuk akal," grutu bunda.
"Ha alasan apa Bun?" Tanya Arin sedikit khawatir, Arin begitu takut sang bunda tahu semuanya akan mempengaruhi kesehatan nya.
"Kata nya biar tidak di serobot pria lain,"
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha...."
Arin di buat terbahak mendengar ucapan dari sang bunda, bagaimana bisa sang adik mencari alasan yang nyeleneh begitu.
.
.
Sedangkan di tempat atau kamar berbeda.....
Hoaaammmm.....
Seseorang menguap berkali-kali saat mata tu terbangun.
Mengedarkan seluruh matanya untuk memastikan semua yang dialaminya itu benar dan bukanlah mimpi.
__ADS_1
Dia menoleh ke samping ke arah ranjang mendapati seorang pria tampan yang masih tertidur, dengan beberapa potongan-potongan ingatan dia pun ingat kalau dia sudah resmi menjadi istri dari Tio yang tak lain adalah pria yang begitu Amanda cintai saat ini maupun nanti.
Amanda juga ingat bagaimana pergulatan mereka kemarin membuat dia menjadi malu sendiri. Pipinya yang semula biasa saja pun berubah jadi merah karena malu.
"Dasar mesum kenapa kamu justru yang ingat bagian itu," kata Amanda kepada dirinya sendiri, tentu mengingat kegiatan itu berlalu cukup lama.
"Ssttttt..... Aahhh...." Amanda mendesis saat dia hendak turun dari arah ranjang.
Tio tersentak kaget saat mendengar suara seseorang sedang mendesis kesakitan.
Tio langsung membuka mata nya dan duduk dengan cepat, menoleh ke samping memastikan semuanya ternyata Tio melihat sang istri sedang kesakitan.
"Sayang kenapa?" Tanya Tio penuh rasa khawatir.
"Ini rasanya perih buat bergerak," lirihnya.
"Apa aku terlalu semangat ya tadi malam?" Tanya Tio menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Mendengar itu Amanda di buat mendelik sebal ke arah nya.
"Auh ah gelap," kesal Amanda.
"He he he he he he he, maaf ya abis kamu manis banget sih," jawab Tio cengengesan.
"Ishhh.... Terus aku bagaimana ini, aku ingin buang air kecil," rengek Amanda.
"Maaf ya sayang, aku gendong ya," tawar Tio.
Tio pun turun dari ranjang menghampiri sang istri.
Plukkk....
Tio kaget saat Amanda menimpuk dirinya dengan bantal.
"Apa sih sayang, kaget tahu," kesal Tio tiba-tiba bantal itu melayang ke wajahnya.
"Ishhh kamu mah mesum," kata Amanda sambil menutup wajahnya yang memerah malu.
"Mesum kenapa?" Tanya Tio binggung padahal dia tak melakukan apapun.
"Itu pake baju dulu," tunjuk Amanda ke arah baju Tio yang berserakan di lantai.
Tio binggung terus melihat ke arah lantai ternyata ada baju nya terus dia menatap ke tubuhnya.
Deg...
Tio batu sadar kalau dia masih belum memakai baju, dengan gesit bercampur malu dia pun memakai baju nya.
"He he he he he he he maaf ya sayang," kata nya cengengesan.
"Sudah belum?" Tanya Amanda yang masih menutup ke dua matanya dengan kedua tangan nya.
__ADS_1
"Sudah," jawab Tio.
Amanda pun membuka mata nya dan benar saja Tio sudah memakai baju nya, Amanda menghela nafas panjang bagaimana tidak pagi-pagi dia harus melihat pemandangan yang membuat jantung nya tidak aman.
"Ayo bantu aku," pinta Amanda dengan memelas sambil menahan sakit.
Tio pun dengan senang hati mengendong Amanda ke dalam kamar mandi.
'Hi hi hi hi hi, lumayan bisa mandi bareng,' guman Tio di dalam hatinya memikirkan bagaimana nanti.
Pikiran kotor Tio pun berkelana jauh.
Di dalam gendongan Tio.
Tio senyum-senyum tak jelas sendiri.
"Kenapa tuh muka senyum-senyum tak jelas, hayooo pasti kamu lagi memikirkan hal yang aneh-aneh ya," tuding Amanda saat melihat wajah aneh suaminya.
"Ha...."
Tio tersentak kaget dalam lamunannya.
"Mikirin apa, tidak kok," elak Tio.
Bagaimana mungkin Tio berbicara jujur kalau dia memikirkan hal kotor di otaknya saat ini, bisa-bisanya sang istri mengatainya mesum. Ohhh tidak jangan sampai sang istri tahu pikirannya.
Tio memilih diam cuek tak menanggapi ucapan dari sang istri.
Amanda menghela nafas kesal, melihat suaminya diam kembali dalam mode kulkas 2 pintu lagi.
"Sayang mana baju ku buat ganti?" Pinta Amanda. saat teringat dirinya tak membawa baju ganti.
"Oh ada kok semua sudah ku siapkan di dalam koper itu," kata Tio menunjuk ke arah koper di dekat lemari.
"Oh, aku pakai baju santai atau kita masih ada acara lagi?" Tanya Amanda.
"Masih ada acara lagi tetapi bukan untuk kita, pokoknya pasti kamu akan suka melihatnya," jawab Tio dengan ambigu membuat Amanda menyergit heran.
"Acara apa?'' Tanya nya penasaran.
"Ada deh, sudah jangan tanya terus. Buka pintu kamar mandinya," pinta Tio saat kedua nya sudah sampai di depan kamar mandi.
Ceklek...
Tio pun menurunkan Amanda di depan pintu kamar mandi.
Dengan langkah pelan Amanda memasuki kamar mandi.
Tio tersenyum-senyum sendiri mengingat kegiatan yang telah mereka lakukan malam itu, meskipun awalnya tak tega melihat wajah cantik itu menangis.
"Terima kasih karena aku yakin pertama," guman Tio dengan wajah yang begitu bahagia.
__ADS_1
Bersambung....