
"Ma-af tuan, tadi nona Aurel menangis minta di antar ke sini, kata nya ingin tidur dengan Bu Arin," kata sang pengasuh dengan sedikit tergagap karena ketakutan.
"Huuuu....." Abraham menghela nafas panjang.
"Ya sudah biarkan dia di sini. Kamu pergi saja kembali ke sana jaga Abrian dan Andra," perintah Abraham dengan tegas.
Pengasih itu masih setia menunduk menunggu perintah dari sang majikan.
Dia mengibaskan tangannya ke arah sang pengasuh anaknya pertanda kalau pengasuh itu boleh pergi.
Dengan sedikit gemetar, pengasuh itu berjalan cepat menjauh dari majikannya yang terlihat menyeramkan itu.
"Pa.... Mama belum tidur kan, Aurel ingin tidur di peluk mama," kata Aurel, gadis kecil itu berkedip dengan polosnya menatap ke arah sang Papa.
"Iya mama belum tidur," jawab Abraham dengan pasrah karena mungkin malam ini dia tak akan bisa tidur dengan tenang mengingat bocah itu pasti memonopoli sang istri.
"Asyikk tidur sama mama," teriak gadis kecil itu kegirangan tak lupa melompat-lompat sambil menghampiri sang mama tercinta yang tengah berbaring di atas tempat tidur.
'Ck untung anak sendiri, kalau orang lain sudah ku kirim ke rumah Bimo di kampung biar dia menghitung anak bebek di sana,' grutu Abraham di dalam hatinya karena lagi-lagi kebersamaan dengan sang istri terganggu akibat ulah sang putri.
"Mama... Mama... Aurel datang......." Gadis itu berteriak sambil berlari kecil dengan riang terus berlari masuk dalam kamar dan langsung melompat ke atas ranjang.
"Happ...." Gadis kecil itu sudah mendarat di ranjang.
"Lho Aurel belum tidur nak?" Tanya Arin dengan binggung.
"He he he he, belum ma kan Aurel mau bobok sama mama," kata gadis kecil itu.
"Kenapa tiba-tiba mau tidur sama mama?" Tanya Arin kepada anak perempuan satu-satunya itu.
"Aurel malas di kamar tidak bisa tidur, terus tadi kak Abrian ku bangunin buat temenin Aurel main karena Aurel belum ngantuk, eh kak Abrian malah ngomel-ngomel dan lanjutin tidur lagi," jawab si cerewet itu dengan memanyunkan bibirnya karena kesal.
"Pasti lah kak Abrian marah, lha kamu sih nakal masa bangunin kak Abrian tengah malam begini, ya pasti kak Abrian marah-marah. Kalau misalnya Aurel sedang tidur malam terus kak Abrian bangunin malam-malam bagaimana reaksi Aurel?" Tanya Arin mengusap lembut pipi Aurel tentunya sambil menjelaskan dengan penuh kesabaran agar sang putri mengerti kalau tindakannya itu salah.
"Tentu saja Aurel pukul kak Abrian, masa malam-malam bangunin orang kan Aurel masih ngantuk," ceplos sang putri membuat Arin tersenyum gemas sedangkan Abraham mengelengkan kepalanya mendengar jawaban dari sang putri kesayangannya itu.
__ADS_1
"Nah itu ngerti bagaimana rasanya jadi kak Abrian, jadi nanti tidak boleh di ulangi lagi ya kasihan kak Abrian," kata Arin menjelaskan tak lupa meminta sang anak untuk tidak mengulanginya lagi.
"Iya ma," jawab Aurel menunduk merasa bersalah.
"Ya sudah sini,ayo kita tidur," ajak Arin sambil menepuk kasur di samping nya saat ini.
"Tetapi ma, Aurel belum mengantuk," tolak Aurel yang merasa belum mengantuk sama sekali.
"Sini biar mama elus kepalanya sambil nyanyikan lagu tidur ya," bujuk Arin mengingat waktu sudah begitu malam.
Gadis kecil itu masih engan, melihat itu Abraham ikut membujuk sang putri.
"Ayo kita peluk mama," ajak Abraham yang sudah berada di samping kiri Arin sedangkan Aurel tadi di samping kanan Arin.
"Baik pa," gadis kecil itu mengacungkan jempol nya tanda setuju dengan usulan sang papa.
Keduanya pun memeluk Arin dengan erat membuat Arin hanya bisa menghela nafas panjang, dia harus menahan sesak karena ulah dari kedua orang yang dia sayangi itu. Bagaimana lagi Arin tak bisa bergerak bebas karena keduanya memeluk Arin.
Arin pun pasrah dan melakukan tugasnya sebagai seorang ibu, Arin mengelus rambut bocah itu dengan penuh kasih sayang tak lupa bibirnya bergerak menyanyikan lagu pengantar tidur untuk sang anak.
Hoaam....
Hoammm....
Berkali-kali Aurel menguap membuat Arin tersenyum karena usaha untuk menidurkan sang anak berhasil, benar saja 5 menit kemudian Aurel sudah terlelap ke dalam mimpinya.
Telinga Arin terasa geli saat mendengar suara.
Grooookkk....
Grookkk....
Arin menoleh saat mendengar suara dengkuran halus dari samping nya.
"Ck bukan Aurel saja yang tidur ternyata bayi besar ku juga ikut tidur," grutu Arin saat melihat Abraham sudah terlelap dengan wajah lelah nya.
__ADS_1
Arin memutar tubuhnya agar terbebas dari kedua dan membenarkan posisi mereka agar terlihat nyaman.
Dirasa cukup, Arin pun mendekatkan wajahnya ke kening Aurel bergantian dengan sang suami.
Cup...
Arin mengecup kening Aurel dan Abraham secara bergantian.
"Selamat tidur honey," kata Arin saat mengecup kening sang suami.
"Pasti kamu begitu lelah mengurus semuanya, terimakasih kamu sudah hadir di dalam hidup ku meskipun diawali dengan kesedihan tetapi mungkin itu takdir pertemuan kita," lirih Arin membelai wajah sang suami dengan penuh kasih sayang.
Arin sadar, begitu besar peran Abraham dalam keluarganya terutama membantu menjaga kedua adik dan bundanya. Apalagi setelah hadirnya buah hati mereka.
"Mimpi indah ya sayang," kata Arin saat mengecup kening Aurel sekaki lagi.
Arin pun berpindah posisi di samping Aurel, jadi posisi tidur Abraham, Aurel dan Arin.
Arin membenarkan posisi selimutnya setelah itu dia ikut memejamkan mata nya menyambut indahnya mimpi yang akan mengantarkan dirinya untuk terlelap dalam tidurnya. Tak lupa Arin memeluk sang anak dengan cepat.
Keluarga harmonis itu tersenyum dalam mimpinya.
Sedangkan di kamar sang bunda pun sama, sang bunda sudah terlelap ke dalam mimpinya.
Senyum lebar menghiasi sang bunda apalagi dirinya tengah bermimpi melihat sang suami yang tengah tersenyum begitu lebar tengah berjalan ke arahnya saat ini, bunda mengusap sudut matanya yang sedikit ber air. Sungguh dirinya tak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan sang suami meskipun hanya sekedar lewat mimpi.
"Bunda terima kasih karena bunda telah menjaga dan membesarkan kedua nya, ayah senang bisa menyaksikan keduanya menikah. Maaf karena ayah tak bisa menemani bunda membesarkan mereka, maafkan juga semua kesalahanku karena telah meninggalkan mu sendirian, tolong jaga ketiga anak kita, dan cucu-cucu kita. Ayah akan menunggu bunda sampai tiba saatnya nanti,"
"Hiks hiks hiks hiks hiks,"
Bunda menangis tersedu-sedu dia tak lupa mengangguk saat melihat wajah lelaki yang di cintai nya itu berbicara dan memintanya menjaga ketiga anak dan tak lupa cucu-cucu yang dia sayangi itu.
"Selamat tinggal bunda," Pria yang di cintai nya itu melambaikan tangan nya dan semakin lama pria itu menjauh dan menghilang.
Bunda pun tersentak dan langsung terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
Bersambung....