
☘️☘️☘️☘️☘️
📱"Nomor yang and__" Arka memgacak rambutnya frustasi sudah berkali-kali dia menghubungi Hani dan juga Hana tapi telepon nya tidak diangkat juga.
"Ar, tenang semua baik-baik saja, Hani tidak akan semarah itu padamu, pasti dia lupa bawa ponselnya atau ponselnya dalam mode silent" Gumam Sandy berusaha menangkan Arka yang sudah tampak gelisah.
"Jahat sekali jadi istri buat suami cemas seperti itu" gumam Meli pelan, namun Arka tidak menggubris ucapan Meli.
Saat ini di otaknya hanya ada nama istrinya, perasaan sangat cemas, seolah-olah ada sesuatu yang terjadi pada istrinya, nafas Arka mulai tidak beraturan, dia berusaha mengambil nafas sebanyak banyaknya untuk menormalkan detak jantung dan nafasnya saat ini.
Arka kembali menghubungi Hana, ketika terlihat panggilan itu diangkat Arka segera menelpelkan benda pipih itu ditelinganya.
📱"Halo ar, ini aku Satya" Terdengar suara Satya dari sana.
📱"Kenapa kamu yang angkat?" Rasa cemas Arka kembali memuncak.
📱"Kau sedang menyetir?" Bukannya menjawab Satya malah melemparkan pertanyaan pada Arka.
📱"Tidak, yang menyetir Sandy" Jawab Arka langsung.
📱"Kalau begitu kau bisa ke rumah sakit xxx sekarang" Jantung Arka serasa diremas, pikiran pikiran buruk mulai bermunculan didalam otaknya.
📱"kenapa harus ke rumah sakit xxx? apa yang terjadi?" Suara Arka terdengar cemas.
Sandy yang mendengar nama rumah sakit yang disebutkan Arka, segera menjalankan mobilnya tanpa perintah Arka. dia seolah tau pasti terjadi sesuatu, dan dia harus secepatnya sampai disana.
📱"Istrimu kecelakaan" Ponsel Arka terjatuh. Pikiran buruk yang tadi bermunculan dikepalanya menjadi kenyataan, Nafas pria itu mulai tercekat, tangannya mencengkram dada dan teriakan Arka mulai keluar.
📱"Halo Arka! Arka!" suara Satya dari dalam ponsel terdengar juga oleh Sandy dan Meli.
Sandy memilih mempercepat laju kendaraan nya agar bisa sampai didepan rumah sakit. dia masih tidak tau apa yang terjadi tapi melihat Arka yang susah berteriak histeris dibelakang, pasti terjadi hal yang membuat pria itu histeris.
Meli lebih memilih diam, dia takut berbicara macam-macam, takutnya dia akan menjadi sasaran pelampiasan kemarahan.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
Sekitar sepuluh menit kemudian, mobil Arka sampai didepan rumah sakit, tanpa berkata apapun Arka segera melompat keluar dari dalam mobil. dia segera berlari menuju ruang UGD. Sedangkan Sandy dan Meli tertinggal didalam mobil.
.
Dengan kecepatan yang luar biasa, Arka sampai didepan UGD, lampu UGD masih menyala, didepan ruangan itu tampak Hana yang menangis dipeluk oleh Satya.
Baju kedua orang itu penuh darah, tapi tidak tampak luka apapun pada mereka.
Arka melangkah pelan menuju kedua orang itu.
"Arka..." panggil Satya pelan.
__ADS_1
Arka diam menatap kedua orang itu dengan intens berusaha mencari luka pada keduanya tapi masih tidak tampak.
Pria itu mengacak rambutnya, matanya mulai merah entah dia menahan amarah atau tangis, tampak semua emosi Arka bercampur aduk di dalam pandangan mata itu.
"Aku menyuruhmu menjaganya... " Lirih Arka pelan, menahan amarah yang mulai memuncak.
"Maaf.. " Hana kembali terisak kemudian dia kembali dipeluk Satya.
"Tenang dulu aku bisa menjelaskan semuanya" Ucap Satya berusaha menenangkan Arka.
'Bukkk' sebuah pukulan melayang kearah pipi Satya.
Pelakunya adalah Arka. pria itu tertawa sinis, "tenang? tenang Katamu!!" teriakan Arka cukup kencang, membuat beberapa orang di sana mulai menonton mereka.
Arka hendak kembali memukul Satya, tapi gerakannya ditangan oleh Sandy.
"Arka! Hentikan itu!" Sandy mencekal Tangan Arka hingga, tangan yang tadi mengepal kembali terbuka.
'Ceklek' pintu UGD terbuka, keluar seorang dokter dari dalam sana.
"Siapa suami pasien?" tanya sang dokter.
Arka segera mendekati dokter itu, "Saya dok".
" Begini, saat ini terjadi pendarahan akibat benturan keras pada perut pasien, janin di dalam perut pasien tidak dapat bertahan, kami harus melakukan aborsi pada pasien, apakah bapak menyetujuinya?"
"Janin? istriku Hamil?" Air mata kembali mengalir di pipi Arka, padahal dia sangat menunggu berita itu, tapi sekarang dia harus menghadapi kenyataan bahwa janin itu harus digugurkan.
"Akkhhhhkk!" Arka berteriak menarik rambut nya. Sandy segera memeluk Arka membisikkan kata-kata penyemangat walau Sandy tidak yakin bahwa itu dapat menguatkan Arka.
"Lakukan apapun dok, tapi selamatkan istriku" lirih Arka, pria itu terduduk kaki sudah tidak bisa lagi menahan bobot badannya, dia menangis dan juga tertawa disaat bersamaan, hatinya sangat hancur saat ini.
.
" Begini, saat ini terjadi pendarahan akibat benturan keras pada perut pasien, janin di dalam perut pasien tidak dapat bertahan, kami harus melakukan aborsi pada pasien, apakah bapak menyetujuinya?"
Hana terduduk kembali, tangannya segera membekap mulutnya sendiri untuk meredam teriakan yang mungkin keluar dari mulutnya, Satua segera mendekati Hana dan memeluk gadis itu.
pikiran Hana kembali berterbangan pada ingatan sebelum kecelakaan itu terjadi.
"Dek kamu gak lagi hamil kan?" pertanyaan spontan yang Hana ucapkan kembali muncul di otak Hana.
"Fix Hamil" pikiran Hana berkali-kali tentang sikap Hani.
Hana berkali-kali mengatakan itu pada Hani, tapi Hana masih bimbang, jika dia tau akan keadaan Hani yang sedang berbadan dua, Hana pasti melarang Hani untuk menyetir mobil, Hana pasti akan ikut menjaga keponakannya.
Padahal otaknya sudah berkali-kali mengingatkan dirinya tapi Hana tetap tidak menggubris pikiran itu.
__ADS_1
.
'Ceklek' kembali pintu UGD terbuka, dari dalam pintu itu keluar seorang suster.
"Disini apakah ada yang memiliki golongan darah B plus? karena pasien sangat membutuhkan stok darah itu sekarang" ujar suster itu terburu-buru.
Hana segera berdiri, "Saya Sus, golongan darah saya sama dengan saudara kembar saya, ambil darah saya sekarang" Hana menunjuk dirinya sendiri.
"Baik, silahkan ikut saya untuk pemeriksaaan".
Hana segera mengikuti suster itu dengan dipapah Satya disebelah nya.
"Jika masih ada, yang lainnya tolong segera menghubungi kami, karena stok darah yang dibutuhkan saat ini sangat banyak" ujar suster itu kembali sebelum menghilang bersama Hana.
.
"Ayo cepat sayang!" Mommy Hani tampak berlari sambil menarik tangan suaminya.
Langkah mereka semakin cepat ketika sampai didepan rumah sakit. Tadi Satya sempat menghubungi kedua orang tua Hana dan Hani.
Dibelakang kedua orang tua Hani juga tampak ayah dan bunda yang berlari kencang menuju ruang UGD.
.
"Arka!" panggil Daddy Hani dari jauh.
Arka segera tegak untuk menghampiri keempat mertuanya.
"Dad, tolong darah Arka tidak sama dengan Hani, dia membutuhkan darah golongan B plus lebih banyak" lirih Arka pada mertuanya.
Daddy Hani dan ayah Hana segera berlari menuju ruang pendonor ketika mendengar ucapan Arka tadi.
Sedangkan mommy Hani dan Bunda Hana berpelukan dan menangis histeris. mereka berdua berusaha saling menguatkan.
.
Sudah dua jam tapi operasi masih terus dilakukan disana, para orang tua duduk didepan UGD sedangkan Arka Duduk didepan pintu dia tampak mengasingkan diri dari sana.
Tangannya terus terkepal memohon agar istri tercintanya selamat dari operasi yang dilakukan, Arka tidak peduli bagaimana pun keadaan Hani setelah operasi, yang Arka pedulikan hanya Hani masih hidup dan bernafas, dia tidak peduli hani cacat, karena dia yang akan menyempurnakan Hani.
"Nak istirahat lah dulu" gumam Ayah Hana pelan sambil menepuk bahu Arka pelan.
Arka menggeleng lemah, "Kalian saja, aku akan tetap disini menunggu Hani" ujar Arka pelan.
Mata Arka kembali terpejam, dia berusaha menahan dirinya agar tetap kuat, walau Hati nya hancur.
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️...