Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 11


__ADS_3

Di sisi lain.....


Terlihat seorang perempuan cantik itu sedang duduk sendirian di balkon apartemen milik teman laki-laki nya. Dia menatap hamparan langit yang berwana biru itu dengan tersenyum cerah, udara pagi ini begitu segar untuk di hirup.


Apartemen itu memang milik temannya, ah lebih tepatnya bukan teman melainkan sahabat, sahabat yang selalu ada di saat kecil sampai dewasa.


Perempuan itu sesekali menghela nafas berat, seolah beban di pundak kecil itu begitu berat.


Seorang pria menatap itu punggung kecil itu dengan rasa sesak di dada sedari tadi dari kejauhan, tanpa terasa setetes air mata membasahi pipi nya. Dengan cepat pria itu mengusap pipi nya dengan kasar.


"Jangan cengeng, kamu harus tersenyum untuk menghibur dirinya, karena hanya kamu yang dia punya saat ini," lirih pria itu kepada dirinya sendiri dengan suara kecil namun tak sampai di dengar oleh perempuan tadi. Pria itu tak lupa mengusap air mata nya dengan kasar.


Bagaimana tidak sedih, tubuh nya dulu tak sekurus sekarang.


Pria itu menghela nafas berkali-kali sebelum berjalan menghampiri gadis yang dia cintai, ya cinta berbalut persahabatan tanpa ada seorang pun yang menyadarinya termasuk perempuan tadi.


Memang benar kata orang tidak ada persahabatan antara pria dan wanita itu murni berisi pertemanan, pasti ada salah satu diantara mereka yang terselip rasa cinta di hati nya. Namun karena rasa itu harus pria itu pendam di lubuk hatinya yang paling dalam kala dulu perempuan cantik itu masih berstatus kekasih orang.


Tubuh gadis cantik itu nampak kurus, namun gadis tersebut tengah tersenyum manis saat melihat sahabatnya itu tengah berjalan menuju ke arah nya, gadis cantik itu menoleh dan tersenyum ke arah pria di hadapannya saat ini. Bukan senyum tulus dari lubuk hati namun senyum untuk menutupi luka di hati nya saat ini, luka yang harus dia tanggung akibat keinginannya sendiri, luka itu sengaja dia ciptakan untuk kebahagiaan sang kekasih nanti.


Terdapat raut kesedihan di pria itu, dia menguatkan hatinya menatap wanita cantik itu dengan senyum terpaksa, dia tak ingin membuat wanita cantik itu sedih.


"Ayo kita masuk, udara di sini begitu dingin," ajak laki-laki itu dengan lembut namun penuh permohonan.


"Tidak, aku ingin menikmati suasana pagi ini. Aku tak tahu kapan aku bisa menikmati keindahan pagi ini lagi nanti," lirihnya dengan senyum pahit.


"Kalau begitu, pakailah. Biar kamu tetap hangat," ujar pria itu memberikan selimut yang cukup tebal, yang dia bawa sengaja untuk perempuan cantik tadi.


Sejujurnya hatinya sedih melihat perempuan cantik itu sepertinya tidak punya semangat lagi, padahal 5 bulan lalu dia masih melihat senyum ceria di wajah cantik nya.


"Terimakasih," kata wanita itu dengan manis.


'Aku akan merindukan senyum mu suatu saat nanti,' guman pria itu di dalam hati nya.

__ADS_1


"Maaf karena aku, kamu harus berpisah dengan kekasih mu," lirih pria bernama Ardimas.


"Tidak apa-apa, ini semua keinginan ku. Aku tidak ingin merepotkan dia, aku ingin melihat nya bahagia meskipun tidak bersama ku," kata wanita itu dengan senyum namun bukan senyum senang melainkan ada kepedihan di setiap kata nya saat ini.


"Apa kamu tidak menyesal, aku bisa melihat kesedihan di mata kekasih mu itu," kata Ardimas mendudukkan tubuhnya di kursi yang tak jauh dari perempuan itu.


Ardimas ingin membujuk perempuan cantik itu untuk memikirkan nya lagi. Karena akan ada banyak hati yang tersakiti.


"Biarlah, kesedihan itu hanya sesaat. Kalau pun kita bersama nantinya bukan tidak mungkin dia akan semakin hancur melihat kepergian ku. Aku tak ingin membuatnya sedih berkepanjangan, semoga dia menemukan pengganti ku secepatnya," jelas perempuan itu.


Tatapan matanya masih berfokus dengan keindahan langit pagi hari ini.


"Kamu tahu, beredar gosip di sini yang menjelaskan kalau kita sekarang sepasang kekasih," kata Ardimas memberitahu kabar yang beredar di kampus mereka.


"Biarlah, itu memang rencana kita, he he he he he he," kata perempuan itu terkekeh.


"Kenapa kamu tidak jujur saja sama dia, mungkin dia bisa membantu mu untuk pulih bahkan sembuh secepat nya," Ardimas masih membujuk perempuan cantik di depan nya saat ini.


"Itu tidak mungkin, kamu sendiri bisa mendengarnya waktu itu kan. Hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks, mereka bilang hidup ku bahkan tidak akan lama lagi, maka nya aku memilih pergi tidak ingin membuat dia sedih," lirih perempuan cantik itu menjelaskan yang dia pikirkan kepada sahabatnya itu.


Perempuan cantik itu mengelengkan kepalanya sebagai tanda tidak, "Kamu ingat kata dokter Esta waktu itu kan, hidupku tidak lama lagi," kata perempuan tadi dengan nada yang begitu keras seperti membentak.


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks," perempuan itu berjongkok menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan sambil menangis sesenggukan.


"Re.... Maafkan aku," lirih pria itu dengan nada bergetar memeluk tubuh wanita yang dia cintai.


#Flasback on#


Brughhh....


Sosok perempuan cantik itu tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri membuat beberapa mahasiswa yang penasaran pun akhirnya berkerumun, melihat apa yang sebenarnya terjadi kepada wanita cantik itu.


"Hei dim, tuh ada apa ya kok ribut-ribut di sana," tunjuk Glen menepuk pundak Ardimas.

__ADS_1


Ardimas sering di kenal dengan nama Dimas.


"Entahlah, tetapi kok perasaan ku tidak enak ya," lirih Ardimas menyahuti.


"Ya sudah, bagaimana kalau kita lihat dulu," ajak Glen menarik tangan Ardimas dengan kencang.


"Hei ada apa?" Tanya Glen pada perempuan yang ada di kerumunan itu.


"Itu ada yang pingsan," jawab perempuan tadi


Glen yang sudah dilanda penasaran pun menyerobot masuk kerumunan.


"Renata," lirih Glen tak percaya.


"Ha siapa? Renata, jangan bercanda kamu," kata Ardimas tak percaya.


Glen terdiam tak menjawab, dia hanya mengangguk.


Melihat wajah Glen yang aneh, semakin membuat Ardimas penasaran. Dia pun ikut masuk ke dalam kerumunan untuk melihat dengan mata kepalanya sendiri.


DEG


"RENATA," kata Ardimas dengan kaget.


"Minggir, cepat panggil ambulans," teriak Ardimas memeluk tubuh sahabatnya itu.


"Re... Bangun, jangan buat aku cemas," Ardimas berkali-kali menepuk pipi Renata untuk menyadarkan nya namun nihil perempuan cantik itu masih setia menutup mata nya rapat-rapat.


"Kita bawa ke UKK dulu," usul Glen membuat Ardimas mengangguk setuju.


Dengan cepat Ardimas membopong tubuh gadis itu.


"Re bangun, jangan buat aku takut," lirih Ardimas menatap wanita cantik dalam gendongannya.

__ADS_1


Hatinya begitu sakit melihat orang yang di sayangi itu tak sadarkan diri, jujur Ardimas begitu takut terjadi apa-apa dengan sahabat plus orang yang dia sayangi.


Bersambung.....


__ADS_2