Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 98


__ADS_3

Drap drap drap...


Suara langkah kaki terdengar nyaring akibat ketukan sepatu heels yang menggema di sepanjang jalan.


"Hei sayang tunggu," teriak Tio saat Amanda dengan cepat berjalan menuju ke arah lift.


Tio pun beralih menatap tajam perempuan yang ada di samping nya. Perempuan itu merasa tak bersalah dan masih biasa saja membuat Tio semakin kesal di buatnya.


"Aaah ini semua gara-gara kamu. Mulai hari ini saya pecat kamu," bentak Tio menunjukkan ke arah wanita cantik di depannya.


"Pak maafkan saya, tolong jangan pecat saya," pinta perempuan itu memelas meminta maaf, dia baru sadar kalau atasannya itu begitu marah.


"Nino mulai besok aku tidak ingin melihat wajah perempuan ini," teriak Tio.


"Hiks hiks hiks hiks pak jangan pecat saya," perempuan itu meminta belas kasihan, dia mencoba memegang tangan Tio untuk meminta maaf namun dengan cepat Tio menepisnya.


"Minggir," bentak Tio mendorong perempuan tadi yang mencoba menghalanginya itu sampai perempuan itu tersungkur di lantai.


Tatapan Tio beralih ke arah Nino yang tak jauh dari sana menatapnya dengan binggung.


"Bereskan semua barang ku di ruangan tadi dan antarkan ke bawah, aku ingin menyusul istri ku dulu," perintah Tio kepada Nino.

__ADS_1


Tio langsung berlari mengejar sang istri namun sayang lift sudah turun ke lantai dasar. Dengan perasaan kesal Tio terpaksa melewati tangga agar dia bisa menyusul sang istri.


Sedangkan Nino masih binggung dengan apa yang terjadi, dia menatap punggung Tio yang sudah pergi menjauh. Nino pun beralih ke arah perempuan cantik di depannya saat ini.


"Apa yang telah kamu perbuat sampai pak Tio marah seperti tadi?" Tanya Nino penasaran.


"Hiks hiks hiks hiks hiks," perempuan itu hanya bisa menangis sesenggukan dan mengelengkan kepalanya, dia tak berani berbicara jujur.


Nino menghela nafas panjang setelah itu menatap kasihan perempuan di depannya saat ini.


"Sekarang kamu ke HRD ambil gaji kamu bulan ini, mulai hari ini kamu di pecat sesuai keputusan pak Tio dan besok kamu di larang datang ke kantor ini," kata Nino dengan tegas.


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks."


Tio sampai di bawah namun dia clingak-clinguk mencari keberadaan sang istri namun dia ak menemukan keberadaan nya.


"Sayang kamu di mana?" Lirih Tio merasa cemas.


Tio merogoh sakunya, dia bersyukur tidak meninggalkan ponselnya di ruangannya tadi jadi tak perlu bolak-balik ke atas lagi, dia hanya perlu menunggu Nino membawakan laptop dan hasil pekerjaan tadi yang belum selesai ke dalam tas.


Tio menghubungi Amanda berkali-kali namun Amanda selalu merijek panggilannya.

__ADS_1


Tut...


Tut...


Tut...


Tut...


"Ahhh kemana sih kamu sekarang," kesal Tio.


Tiba-tiba terlintas nama supir yang tadi mengantarkan dirinya ke kantor.


Tut....


"Halo..." Jawab supir di sebrang sana.


"Kamu di mana?" Tanya Tio tanpa basa-basi.


"Maaf tuan saya sedang mengantarkan nyonya Amanda," jawab sang supir takut-takut, supir pun melirik ke belakang di mana saat ini Amanda menatap dirinya tajam.


"Bilang ke tuan kamu untuk jangan cari aku, aku mau pulang," kata Amanda dengan keras sampai terdengar ke telinga Tio sendiri.

__ADS_1


"Ya sudah kamu hati-hati bawa kendaraannya, jangan sampai nyonya kamu lecet sedikit pun," kata Tio di akhiri dengan ancaman membuat sang supir gemetar ketakutan mendengarnya.


Bersambung....


__ADS_2