
Hani tampak gelisah dalam tidurnya, sejak tadi dia terus saja bergerak sana sini, Arka yang mengetahui itu segera memeluk tubuh Hani.
"Ada apa?" Tanya Arka lembut sambil merapikan beberapa anak rambut yang menempel dimuka Hani.
Hani hanya menggeleng dan tersenyum, tangannya semakin mengeratkan pelukan pada Arka.
"Katakan sayang ada apa? apa kamu masih memikirkan pembicaraan mommy saat makan malam tadi?" Selidik Arka dengan mata yang memicing.
"Sedikit" Hani kembali tersenyum untuk menutupi kesedihannya.
"Kenapa kita masih belum memiliki anak ya kak? apa ada yang salah padaku?" tanya Hani, air matanya hampir saja mengalir keluar, Hani dengan cepat menghapus air mata itu.
"Baby kan kakak sudah bilang, kakak akan tetap bersamamu, walaupun kita belum dikaruniai anak, lagian kakak masih ingin berpacaran berdua dengan istri cantik kakak" Arka berusaha membuat lelucon agar Hani tidak terlihat sedih. Tapi itu terlihat sia-sia, wajah hani masih terus menunjukkan kesedihan.
"Kak, bagaimana kalau besok kita ke rumah sakit? seperti kata mommy, kita program kehamilan di sana" pinta Hani dengan sedikit takut-takut. Wanita itu tidak ingin menyinggung suaminya, dia takut Arka salah paham padanya.
"Kamu yakin?" tanya Arka, dia tau istri tercintanya itu selama ini takut bertanya mengenai program kehamilan karena takut menyinggung nya. padahal alasan sebenarnya terletak pada istrinya itu.
"i-iya tidak apa kan kak?" pinta Hani sekali lagi.
"Baiklah tapi bukan besok mungkin dua Hari lagi baru bisa".
☘️☘️☘️☘️☘️
Dua hari berlalu begitu cepat, Arka sudah mempersiapkan semuanya, pria itu sengaja memutuskan dua hari karena dia ingin mengatur banyak hal, seperti memilih dokter yang terpercaya dan dapat diajak kerja sama.
Awalnya Arka meminta si dokter mengatakan bahwa yang sulit mendapatkan anak adalah dirinya, tapi kata dokter pengobatan laki-laki dan perempuan berbeda, tidak akan berfungsi apapun jika dia yang di obati, maka dari itu Arka memutuskan dokter mengatakan keduanya yang sulit untuk punya anak, karena dokter bisa melakukan pengobatan pada Hani dan wanita itu juga tidak terlalu menyalahkan dirinya jika Arka juga dikatakan sama dengannya.
.
Arka dan Hani sudah sampai di parkiran rumah sakit, wajah hani terlihat sangat tegang, dia sangat ketakutan saat ini.
"Tidak apa sayang semua akan baik-baik saja, ayo" Arka mencoba memberi semangat pada Hani. sebelah Tanggannya telah menggenggam tangan Hani untuk menyalurkan energi pada istrinya itu sebelah lagi dia gunakan untuk merangkul Hani.
.
Tepat dihadapan dokter Hani menceritakan semuanya, dan dokter bergerak seperti perintah Arka, mereka berdua memang diperiksa, tapi fakta dan kenyataan penyebab sebenarnya dokter hilangkan dan hanya mengatakan tentang kesulitan mendapatkan anak dan dokter mengatakan itu untuk kedua nya.
__ADS_1
Hani sedikit terpukul mendengar kenyataan walau itu adalah kenyataan karangan dari Arka, tapi tetap saja faktanya Hani kemang kesulitan memiliki anak.
"Pengobatan ada banyak cara mau yang alami dengan cara mengatur pola hidup sehat dan cara paling cepat dengan melakukan bayi tabung_" penjelasan dokter dipotong dengan ucapan Hani.
"Bayi tabung? apakah kami bisa melakukannya dok?" Hani begitu semangat ketika dokter mengatakan bayi tabung.
"Ya tentu bisa, tapi menurut saya kalian berdua masih terlalu muda dalam pernikahan, ada baiknya mengambil jalan pertama" usul dokter tersebut.
Arka mengangguk setuju, "aku juga setuju sayang, jangan terlalu memikirkan omongan mommy, kita jalani saja dulu, semua pasti ada jalannya, kamu dengar sendiri kan kata mommy dan daddy mu, mereka juga seperti kita kesulitan memiliki anak tapi akhirnya diberikan juga".
" Tapi kak_"
Arka dengan cepat menggeleng dan menggenggam tangan Hani, "percaya padaku, kita hanya harus memilih pilihan pertama".
Setelah Arka memutuskan dokter segera memberikan beberapa suplemen dan tata cara hidup sehat yang harus Hani dan Arka lakukan, walaupun dihatinya Hani sangat ingin melakukan bayi tabung tapi Hani memilih mengalah, dia akan percaya dengan keputusan Arka.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
Pukul sepuluh malam Hana dan Satya baru pulang dari bekerja, mereka hari itu harus ikut syuting yang ditujukan untuk promosi barang yang akan Satya jual.
"Kamu capek?" tanya Satya sambil mengelus pipi Hana dengan lembut.
"Kita pulang ke apartemen ku saja bagaimana?" tawar Satya pada Hana yang sudah hampir menutup rapat matanya.
"Iya" Jawab Hana singkat dia beralih menggenggam tangan Satya yang tadi Satya gunakan untuk mengelus pipinya.
.
Sampai di apartemen mereka segera melepas sepatu tanpa menyalakan lampu ruangan, hanya ada cahaya bulan yang masuk melalui celah jendela.
Hana tiba-tiba saja memeluk Satya dan mencium bibir pria itu, "Terima kasih untuk semuanya ya" ujar Hana disela ciuman mereka.
"Buat apa?" tanya balik Satya tapi masih belum melepaskan pelukan Hana.
"Untuk menyetujui keputusan gilaku" Jawab Hana dan kembali mengecup bibir Satya sekilas.
Hana begitu senang, ketika Satya mengatakan kepada kedua orang tuanya bahwa mereka masih belum mau menikah, tadi siang saat makan siang bersama keluarga Satya, Satya menceritakan bahwa dirinya lah yang sebenarnya tidak ingin menikah cepat, dan keputusan itu membuat keluarga Satya akhirnya tidak menyalahkan Hana.
__ADS_1
"Kalau begitu ini masih belum cukup" Satya kembali mencium Hana, kali ini sedikit lebih ganas.
Mereka berdua berciuman sambil melangkah masuk menuju sofa yang terletak di apartemen itu.
Keduanya masih asik berciuman dan terlihat sangat panas, jika ada orang lain yang melihat.
Hana dan Satya sampai di sofa, Satya segera menjatuhkan badan Hana dan menindih nya, pria itu kembali mencium Hana dengan gairah yang mulai memuncak.
Satya merasakan ada yang menonton dia saat ini, dan pria itu berhenti mencium Hana, tapi Hana masih memejamkan matanya dan mencium Satya, Satya mengangkat sedikit badanya untuk dapat melihat bayangan yang dia lihat.
Seketika itu badan Satya menjadi kaku, dia tidak lagi membalas ciuman yang diberikan Hana.
Sedangkan Hana, yang merasa heran kenapa Satya tidak lagi menciumnya dan Satya fokus menatap sesuatu di atas kepalanya, Hana segera melihat apa yang membuat Satya menjadi seperti itu.
"bun-bunda" gumam Hana menyebutkan nama panggilan yang selama ini dia ucapkan pada ibunya itu.
Hana kembali mengalihkan wajahnya memeluk Satya, dia sangat malu saat ini, dia kepergok oleh bundanya sendiri.
"Sayang lepas" bisik Satya pelan, berusaha mengajak Hana untuk berdiri.
Bunda Hana masih diam, menatap tajam dua orang yang tadi asik berciuman mesra.
"Tegak kalian berdua!" perintah bunda segera dilaksanakan Hana dan Satya. Lampu segera dinyalakan dan Hana berdiri sejajar dengan Satya.
__ADS_1
"Ini yang katanya Menikmati kebebasan?" Suara bunda terdengar mengerikan.
...☘️☘️☘️☘️☘️...