Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 6


__ADS_3

Akhirnya Rio sampai di kediaman mewah milik Abraham.


"Wessss kembaran ku pulang," sindir Tio kesal karena dompet milik Tio tertukar dengan dompet saudara kembarnya itu.


"Kenapa? Kangen..." Jawab Rio menaik turunkan alisnya.


Rio hanya membalas dengan merotasi bola matanya malas mendengar ucapan dari kembarannya itu.


"Aduh kalian baru juga bertemu sudah seperti kucing dan tikus," grutu bunda melihat kedua anak nya itu bertegur sapa.


"Kalau nggak begini kan enggak kasih bunda jawab jawab Rio sambil terkekeh.


Rio pun segera menghampiri seng bunda dan mencium tangan nya tak lupa memeluk wanita yang melahirkannya itu dengan penuh rasa kangen.


" Rio kangen dengan bunda, apakah bunda baik-baik saja? Maaf Rio bukan anak yang baik selalu saja buat bunda khawatir," kata Rio di penuhi kegetiran.


Sebagai seorang ibu tentu bunda tahu, dari nada bicara anak nya itu, bunda bisa mengerti kalau sesuatu sedang terjadi pada anaknya saat ini.


"Ayo masuk, kita sarapan pagi bersama," ajak bunda mengalihkan pembicaraan dan perhatian kedua anaknya.


"Ayo kita masuk," Tio merangkul pundak Rio.


"Terus ini bagaimana," tanya Rio menunjukkan koper yang dia bawa.


"Sudah taruh sini saja nanti biar di bawa mbak ke atas," kata Tio melirik ke arah art yang tak jauh dari sana.


Melihat kode dari Tio, art itu pun segera mengambil koper milik Rio dan membawanya menuju ke atas di mana kamar Rio berada. Tentunya cuma di tarik di depan kamar karena hanya kepala pelayan yang bisa masuk ke dalam kamar Tio dan Rio.


Keduanya pun berjalan beriringan menuju meja makan. Sedangkan bunda yang melihat keduanya akrab pun tanpa sadar meneteskan air mata nya.


'Ayah lihatlah kedua putra kembar kita sudah dewasa, andai ayah masih berada di sini pasti ayah bahagia melihat keduanya,' batin bunda tiba-tiba begitu kangen dengan suami yang telah pergi meninggalkan dia untuk selamanya.


Keduanya pun sampai di meja makan di sana sudah ada Arin, Abraham dan kedua anak kakak nya itu yang tak lain adalah si kembar.


Rio pun duduk di samping Tio. Dia mengambil nasi dan lauk namun dengan pandangan kosong, pikirannya seolah bukan di sini melainkan di tempat lain. Sedangkan Tio saat ini sedang membalas pesan dari Amanda sambil tersenyum membuat dia yang jomblo hanya bisa menghela nafas berat.


"Tumben nih meja sunyi biasanya tuh rame ngalahin pasar,"


Kata itu keluar dari Arin sang kakak namun seperti sindiran dan tak lupa pandangan mata Arin pun menatap ke arah Rio dan Tio saat ini seolah kata itu untuk keduanya saat ini.


Rio pun menoleh menatap Tio seolah meminta jawaban, namun Tio justru mendelikkan bahu nya cuek. Sedangkan Rio memilih diam karena saat ini dia tak ingin bicara apapun karena suasana hatinya yang tidak begitu baik.


Rio sempat melirik Arin yang justru menatap kakak iparnya itu dengan aneh.


Abraham pun ikut mendelikkan bahu nya seperti Tio membuat Rio mengelengkan kepalanya.

__ADS_1


'Memang tak ada yang bisa mengelabui kakak Arin,' batin Rio.


Rio yang sedang asyik dengan pemikirannya sendiri pun di kaget kan dengan suara bocah kecil yang tak lain adalah Aurel gadis cantik yang cerewet.


"Om Rio sariawan atau sakit gigi? Tumben tidak cerewet dan gangguin Aurel?"


Rio mengerutkan keningnya mendengar ucapan Aurel dan beralih menatap kembarannya yang cekikikan.


"Pffffttt... Ha ha ha ha ha ha, om Rio memang sedang sariawan sayang,"


Rio mendelik sebal mendengar Tio menjawab terasa menjengkelkan di telinga nya.


"Benar nak kamu sakit?"


Terlihat raut bunda begitu khawatir.


"Eh .... Tidak Bun, mana ada? Tuh Tio saja yang ngarang, Rio sehat kok cuma lagi banyak pikiran saja. Banyak kerjaan," Rio mencoba mengelak, dia tak ingin jujur dengan keluarga nya saat ini, dia belum siap.


"Oh... Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa, jangan terlalu bekerja keras nanti kamu sakit,"


Tio tersenyum mendengar ucapan dari bundanya itu yang di penuhi rasa khawatir.


"Iya bunda," jawab Rio mencoba tersenyum agar semuanya tidak semakin curiga atau khawatir.


Rio terkekeh mendengar kembarannya itu berbicara seperti itu.


"Sama saja," jawab bunda.


"Eh Rio? Mana KTP ku?"


Rio menoleh melihat Tangan Tio sudah menengadah ke arahnya meminta KTP yang tak sengaja dia bawa kemarin.


"Oh ya, he he he he he maaf kelupaan,"


Rio terkekeh menutupi rasa tak enaknya.


"Ck apa kamu pakai macam-macam nih KTP ku, misalnya merampok bank,"


Ucapan Tio membuat Rio terdiam pucat, lidahnya terasa keluh.


Glekkk ...


Tenggorokan Rio terasa kering, dia sungguh tak dapat menampik omongan saudara kembarnya, meskipun yang di bilang salah namun tak sepenuhnya salah. Entahlah Rio langsung pucat di buatnya.


"Ck aku hanya bercanda,"

__ADS_1


Rio bernafas lega karena Tio hanya bercanda.


Plakkk...


Rio kaget melihat sang kakak Arin memukul jari Tio dengan sendok yang di pegang.


"Aduuh kak sakiiit ,"


Rio terkekeh melihat ke keakraban kedua saudara itu, dia lalu beralih menatap sang kakak ipar. Abraham yang menyadari itu mengangguk membuat Rio bernafas lega.


"Bundaaa, nih kak Arin sudah kdrt sama adiknya,"


Rio mengabaikan kegaduhan di meja makan, dia masih sibuk memikirkan wanita itu.


"Rasain, salah sendiri nuduh Rio macam-macam, Rio itu adik mbak yang paling manis,"


"Ck iya-iya, cuma Rio saja adiknya sedangkan aku adik pungut,"


Ha ha ha ha ha ha ha ha.


Bunda, Arin dan Rio terkekeh mendengar itu ucapan dari Tio saat ini.


"Oh om Tio itu mungut di tong sampah ya Oma, seperti sinetron yang sering di lihat Oma ya?"


Kata yang keluar dari mulut si kecil itu membuat Rio yang tadi galau pun tak bisa menahan tawanya.


"Ha ha ha ha ha,"


"Ayo makan, jangan berisik,"


Semua langsung terdiam mendengar ucapan dari kepala keluarga ini, ya siapa lagi kalau bukan kak Abraham yang penuh wibawa.


Setelah selesai makan, semua pamit sibuk dengan urusan masing-masing.


Tio pasti menemui Amanda sedangkan bunda memilih menyibukkan dirinya untuk menghilangkan kebosanan sedangkan Arin sibuk dengan keluarga kecilnya.


Rio pun termenung masih belum percaya kisah cintanya kandas padahal dia sudah merencanakan pelaminan yang mewah untuk sang kekasih.


Rio pun berandai-andai, menutupi rasa sakit di hatinya.


"Kenapa sesakit ini," lirih Rio memegang dadanya yang terasa sesak.


"Ayo Rio bangkit, kamu harus cari wanita itu," kata Rio menguatkan dirinya sendiri agar tidak terpuruk terus menerus.


B E R S A M B U N G....

__ADS_1


__ADS_2