
Satu bulan berlalu...
Kini Tio sudah kembali dari bulan madunya,dia turun dari pesawat mengandeng mesra tangan sang istri tentunya dengan wajah berseri-seri.
Keluarga Abraham sudah menunggu Tio dan Amanda sedari tadi, Abraham sibuk dengan ponselnya sedangkan Arin duduk manis sambil menyuapi Andra biskuit, Aurel dan Abrian duduk manis di awasi Doni. Mereka semua duduk menunggu Tio maupun Amanda sampai suara teriakan Aurel membuat semua orang tertuju kepada 2 orang yang sedang bergandengan tangan dengan mesra.
"Om Tio...." Teriak Aurel membentangkan kedua tangannya berlari pelan menghampiri Tio.
"Tuh si bawel kesayangan mu sudah kangen dengan om kulkasnya," canda Amanda dengan suara pelan melirik ke arah Tio.
Tio tak menanggapi ucapan dari istrinya itu, dia justru tersenyum lebar ke arah Aurel.
Saat Tio sudah dekat dengan Aurel, Tio langsung mengendong Aurel dan memutar tubuh kecil itu.
"Ha ha ha ha ha ha ha, om Tio Aurel pusing," teriak Aurel sambil tertawa begitu bahagia.
"Kesayangan om Tio sudah besar ya, baru tidak bertemu selama satu bulan saja om sudah kangen," kata Tio pada Aurel.
Sedangkan Amanda langsung menghampiri Arin, menyapa kakak iparnya itu dengan ramah.
"Ayo jangan main-main, kita harus segera sampai di rumah sebelum malam," kata Abraham membuat Tio langsung menurunkan Aurel.
"Yee kok di turunin sih om, kan asyik," protes Aurel mengerucutkan bibirnya.
"Nanti di rumah lagi ya sayang, om Tio capek," bujuk Arin kepada gadisnya kesayangannya itu.
"Iya ma," jawab Aurel dengan menunduk.
"Ya sudah, biar om Doni saja yang gendong," tawar Doni yang tak tega melihat wajah Aurel sedih.
"Ye ye ye ye ye ye ye, om Doni terbaik," teriak Aurel bertepuk tangan senang.
"Dasar bocil," ledek Abrian.
"Biarin, wle ee...." Balas Aurel menjulurkan lidahnya ke arah sang kakak yang tak lain adalah Abrian.
Semuanya hanya bisa mengelengkan kepalanya melihat kelakuan 2 bocah itu yang selalu membuat suasana terasa ramai.
"Ayel iciik," celoteh Andra tanpa di duga.
"Wah Andra sudah pintar ya, bisa marahi kak Aurel," kata Amanda berseru senang melihat Andra yang berbicara meskipun tak jelas.
"Tuh dengar, Andra saja bilang kamu berisik," sinis Abrian ke arah Aurel.
"Ish Andra mah, kak Aurel tidak mau lagi bagi kue kesukaan Aurel lagi ke Andra," jawab Aurel dengan cemberut.
"Stttt.... Ayo diam semua, kita pulang," titah sang nyonya besar yang tak lain adalah Arin.
Semuanya langsung diam kalau sang nyonya besar sudah meninggikan suaranya, bagai kerbau di cocok hidungnya, semuanya langsung berjalan mengikuti langkah kaki Arin dan Abraham.
Sedangkan di negara lain....
Rio sedari tadi menatap ke arah sang istri yang duduk manis di bangku taman sambil memberi makan burung merpati yang ada di sekitar sana.
__ADS_1
Rio mengambil ponselnya dari saku celana.
Dan....
Cekreeeekkkk....
Satu foto Nisa sudah terpampang cantik di ponsel milik Rio.
"Entah kapan rasa ini tumbuh tetapi aku merasa nyaman berada di dekatmu selama ini, aku tak bisa bayangkan kalau aku kehilangan mu Nisa. Entahlah kenapa akhir-akhir ini perasaan ku tak nyaman tetapi apapun yang terjadi aku tak akan pernah melepaskan mu dari hidupku karena kita sudah menjadi satu. Aku akan mempertahankan mu di sisi ku selamanya," guman Rio di dalam hatinya saat ini, Rio mempunyai firasat yang kurang baik.
Rio pun menghela nafas kasar dan kembali memasang wajah tersenyum manis ke arah Nisa.
"Ini," Rio menyodorkan botol minuman ke arah Nisa.
"Terima kasih," jawab Nisa tersenyum lebar.
"Ayo kita cari tempat lain, di sini sudah mulai panas," ajak Rio.
"Iya saking asyiknya memberi mereka makan sampai aku tidak sadar dari tadi kepanasan," jawab Nisa cengengesan.
"Nih...."
Pluk.... Topi lebar itu sudah mendarat cantik di atas kepala Nisa, tentu saja itu ulah dari Rio.
"Kapan kamu beli ini?" Tanya Nisa memegang topi itu dengan gembira.
Nisa begitu bahagia, dia jujur sudah merasa nyaman selama berada di sini. Hubungannya dengan Rio sudah berjalan dengan lancar, Nisa juga sudah tak canggung mengandeng tangan Rio begitupun sebaliknya.
"Bagaimana kamu suka?" Tanya Rio.
"Suka, bagus banget," jawab Nisa dengan riang.
"Ayo kita foto," ajak Nisa tiba-tiba menarik tangan Rio untuk lebih dekat dengan nya.
Cekreeeekkkk.....
Nisa tersenyum kecil melihat wajah Rio yang terlihat lucu karena Rio belum siap dan Nisa sudah menekan tombol di ponselnya.
"Ha ha ha ha ha, lucu banget sih," Nisa tanpa sadar tertawa lepas.
Rio pun ikut melihat foto dirinya do ponsel sang istri.
"Hapus, jelek banget sih," protes Rio.
"Itsss jangan, lucu tahu," tolak Nisa.
"Ya sudah kita foto lagi, tetapi aku yang ambil saja biar bagus," kata Rio merebut ponsel dari tangan sang istri.
"Peluk aku biar terlihat bagus," perintah Rio ke pada Nisa.
"Tidak," tolak Nisa dengan cepat.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau, kita ganti saja," kata Rio tersenyum licik.
__ADS_1
Cup....
Cekreeeekkkk....
Nisa hanya bisa melotot, kala Rio mencium pipinya dan mengabadikannya di layar ponsel milik Nisa.
"Nah kan bagus," kata Rio dengan bangga.
"Dasar," kata Nisa mencubit gemas lengan Rio.
"Auhhh sakit sayang," Rio mengaduh kesakitan kala Nisa memberinya cubitan manja.
"Rasain, abis kamu iseng banget sih. Gak malu apa di lihatin orang," grutu Nisa.
"Ngapain malu, malahan aku mau minta cium lagi," kata Rio dengan cuek dan malah mendekatkan wajahnya ke arah Nisa.
Nisa dengan cepat memasukan ponselnya lagi ke dalam tas.
"Ye gak kena," ejek Nisa berlari cepat menghindari Rio.
"Awas ya kalau dapat," kata Rio langsung berlari mengejar sang istri.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha..... Ayo tangkap aku."
"Jangan lari," protes Rio.
"Ha ha ha ha, kejar aku wle..." Kata Nisa tertawa tak lupa menjulurkan lidahnya meledek ke arah Rio.
"Awas ya."
Keduanya berlari, Rio berusaha mengejar sang istri, keduanya tertawa begitu lepas tanpa ada beban.
Nisa begitu bahagia sampai dia berkali-kali menoleh ke belakang melihat sang suami yang masih berusaha mengejar dirinya.
"Wle..." ledek Nisa menjulurkan lidahnya untuk kesekian kalinya.
Brugh....
Nisa terjatuh karena tak sengaja menabrak seseorang.
"Aduh maaf ya, saya tidak sengaja," kata Nisa berkali-kali menunduk meminta maaf karena dia merasa tak enak hati telah menabrak perempuan di depannya tanpa sengaja.
Untung saja wanita yang di tabrak Nisa tidak sampai terjatuh karena di tahan oleh pria di sampingnya.
"Kalau jalan hati-hati, pakai mata," bentak pria di samping perempuan tadi dengan wajah galak.
"Maaf saya tidak sengaja," lirih Nisa
"Sudahlah dia tak sengaja," bujuk wanita tadi kepada pria di sampingnya itu.
"Tetapi....." Saat pria itu mau protes, perempuan di sampingnya langsung mengelengkan kepalanya meminta masalah ini tidak di lanjutkan.
Bersambung....
__ADS_1