Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 49


__ADS_3

"Sudah jangan bengong, nih coba kamu pilih mana yang cocok," kata Rio menyerahkan beberapa tumpukan baju yang dia bawa ke Nisa dan meminta Nisa untuk memilihnya mana yang cocok untuk dia pakai.


Beberapa wanita di sana memandangnya dengan tatapan iri saat melihat tumpukan baju mahal itu di bawa Rio untuk Nisa.


"Duh beruntung banget sih,"


"Kapan aku punya kekasih seperti itu,"


"So sweet banget sih,"


"Duh buat kita baper deh,"


Itulah bisik-bisik wanita yang iri melihat Rio dan Nisa.


"Ha banyak banget, kenapa aku tidak boleh pulang dulu ke tempat kost terus ambil baju dan barang-barang ku?" Tanya Nisa dengan kaget melihat tumpukan baju itu tak lupa dia menggerutu dengan suara kecil mengingat beberapa baju miliknya yang masih di tempat kost belum dia ambil dan beberapa barang lainnya.


"Ck itu nanti biar di urus sama asisten ku, kamu tinggal pilih dan pakai saja jangan bawel deh pusing aku," kata Rio dengan cuek menghempaskan tubuhnya di atas sofa di samping Nisa.


"Sudah coba dulu," Rio mendorong tubuh Nisa.


"Iya iya," jawab Nisa.


Rio memberi kode kepada 2 karyawan itu untuk membantu Nisa membawa tumpukan baju itu.


Nisa pun berjalan menuju ruang ganti bersama dengan 2 karyawan tadi yang bertugas melayani Nisa.


Tak lama Nisa keluar dengan baju santai berwarna moca yang begitu kontras dengan warna kulit putihnya membuat Nisa semakin cantik.


"Bagaimana?" Tanya Nisa memutar tubuhnya di depan Rio.


"Ok," jawab Rio dengan singkat.


Nisa pun kembali lagi dan memakai baju berbeda lagi dan Rio cuma mengangguk setuju sampai ke 5 kalinya Nisa di buat lelah sedangkan Rio hanya mengangguk setuju saja.


"Aku lelah..." Nisa duduk di dekat Rio sambil mengeluh.


"Ya sudah ayo kita cari makan, pasti kamu lapar," ajak Rio.


"Terus semua baju itu bagaimana?" Tanya Nisa menunjuk ke arah tumpukan baju yang masih di bawa 2 karyawan tadi.

__ADS_1


"Kalian bungkus semuanya," pinta Rio.


"Ayo," Rio mengajak Nisa ke kasir.


Setelah 2 karyawan tadi membungkus dan menjumlahkan semuanya total belanjaan Rio. Rio menyodorkan black card miliknya.


"Kirim saja ke alamat ini," pinta Rio menulis alamat sebuah rumah mewah yang tak jauh dari tempat tinggal sang kakak ipar.


"Ayo," Rio menyeret Nisa untuk kesekian kalinya untuk mengikuti Rio.


Tanpa sengaja Nisa menyenggol seseorang karena dirinya yang tak waspada saat di tarik oleh Rio.


Bugh...


"Ah maaf," kata Nisa menunduk berkali-kali meminta maaf.


Namun beruntung keduanya tidak terjatuh, sedangkan pria tadi belum merespon namun pria tadi tengah asyik menatap wajah cantik Nisa.


"Ehemmm...." Rio berdehem keras membuyarkan lamunan pria tadi.


"I S T R I saya sudah meminta maaf jadi tolong anda jangan menghalangi jalan nya lagi," kata Rio dengan tegas menekankan kata istri agar pria itu sadar kalau Nisa adalah istrinya.


"Eh iya saya juga minta maaf karena tadi saya terburu-buru," kata pria itu dengan canggung apalagi melihat sorot mata Rio yang tak bersahabat seolah-olah ingin memakannya hidup-hidup.


Pria itu dengan buru-buru pergi meninggalkan keduanya, pria itu tak ingin mencari masalah terlebih lagi tatapan tajam pria tadi cukup membuatnya takut.


"Ck ayo cepat jangan tebar pesona terus," kata Rio kepada Nisa dengan nada ketus bercampur kesal.


'Kenapa tuh orang?' batin Nisa menatap Rio yang terlihat aneh.


Nisa memilih diam menurut saja apalagi melihat wajah Rio yang sepertinya sedang kesal.


Sampailah keduanya di restoran.


Keduanya pun duduk tak lupa Rio memanggil pelayan untuk mencatat pesanannya.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Rio.


Nisa memperhatikan tulisan yang ada di daftar menu dengan cermat.

__ADS_1


'Hah ini benar nih harganya, duh mahal banget masa nih ada gambarnya kecil tetapi harganya beh mahal, apa ini sal salmon. Ck ikan begini saja mahal. Nah ini ketemu nasi goreng biasanya kan murah secara kalau di bang Jojo cuma 15 ribu seporsi,' guman Nisa di dalam hatinya memperhatikan menu itu secara teliti.


'Eh buset dah, nasi goreng begini seratus ribu,' grutu Nisa di dalam hati nya lagi kaget saat melihat harga nasi goreng itu. (Wkwk jiwa miskin Nisa meronta-ronta, maklum sejak orang tuanya meninggal dia harus hidup dengan berhemat, agar dia bisa mengirimkan sedikit hajinya untuk membantu paman nya yang sudah dia anggap sebagai pengganti kedua orang tua nya saat ini).


Nisa melotot, sambil menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Sudah jangan di lihat terus, cepat pesan kasihan mbak nya sudah menunggu," kata Rio membuat Nisa akhirnya tersadar.


"Em aku terserah kamu saja lah," jawab Nisa binggung.


"Hmm...."


"Mbak sama kan saja dengan pesanan saya tadi, oh ya minumnya jus mangga saja," jawab Rio karena Rio sempat melihat Nisa beberapa kali meminum jus mangga.


"Baik pak, mohon di tunggu ya," jawab pelayan itu dengan sopan tak lupa menunduk dan pamit undur diri.


Suasana di meja itu terlihat canggung, Rio memilih menyibukkan diri dengan melihat ponselnya berbalas pesan dari asistennya membahas tentang pemasukan maupun ide-ide baru untuk toko kue dan cafe miliknya.


Sedangkan Nisa terdiam, tatapan matanya tertuju ke arah Rio menatap secara intens wajah tampan yang telah resmi menjadi miliknya itu.


'Dia tampan juga ya kalau sedang tersenyum begitu, dia terlihat lebih ramah berbeda dengan kembarannya yang bernama Tio itu lebih menyeramkan. Eh tunggu-tunggu dia senyum-senyum melihat ponsel itu, apa dia berbalas pesan dengan perempuan,' batin Nisa sedikit galau.


Nisa terus saja memperhatikan Rio tanpa sadar.


"Aku tahu aku tampan tetapi jangan sampai segitu nya kamu menatap ku," kata Rio membuyarkan lamunan Nisa.


"Ish PD banget sih, siapa juga yang melihat kamu?" Elak Nisa berusaha menutupi rasa gugupnya karena ketahuan mengagumi sosok di depan nya itu.


"Ck ngaku aja," grutu Rio.


"Terserah deh kamu mau ngomong apa," jawab Nisa pasrah tak ingin berdebat dengan pemuda di depan nya saat ini, terlebih suasana restoran cukup ramai membuat Nisa tak ingin menjadi pusat perhatian.


Tak lama pesanan mereka berdua pun akhirnya datang juga, keduanya menikmati makanan dengan lahap dalam keheningan. Tatapan Nisa berbinar kala menikmati makanan yang menurutnya enak itu.


'Hmm enak banget nih,' batin Nisa berbinar senang kala makanan itu menari-nari di lidahnya saat ini.


.


.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2