Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 47


__ADS_3

Kini ruangan nampak sunyi sepi terlihat mencekam tak ada yang berani memulai berbicara.


Semua memilih terdiam menunggu sang kakak ipar sang kepala keluarga itu membuka mulutnya.


Ya di ruangan ini Abraham meminta Arin untuk mengundang Tio, Amanda, Rio dan Nisa untuk datang ke sini.


"Ehemm...." Abraham berdehem membuat semuanya menoleh menatap ke arah Abraham.


"Kalian tahu kenapa aku minta kakak kalian untuk mendatangkan kalian ke sini?" Kata Abraham menatap semuanya dengan wajah serius.


Sedangkan Arin mengelengkan kepalanya melihat tingkah sang suami yang memasang wajah datar dan serius itu. Ingin rasanya Arin menjitak kepala sang suami agar tidak mengerjai kedua adiknya itu.


"Aku ingin menghukum kalian karena kalian berdua aku harus membatalkan kunjungan ku ke negara Z," kata Abraham dengan serius.


"Ha kok salah kita sih kak?" Protes Rio binggung.


Sedangkan Amanda yang sudah sedikit tahu mengenai Abraham memilih diam menunduk, berbeda dengan Nisa yang juga diam namun sedikit takut melihat aura yang di miliki Abraham.


'Nih orang siapa sih, duh serem amat tuh wajahnya ya meskipun cakep sih. Eh tunggu-tunggu tadi dia bilang kakak? Apa jangan-jangan dia kakaknya Rio, ah pantas saja Tio dan Rio datar kek papan gini ternyata kakaknya lebih parah,' batin Nisa.


Tio menatap sang kakak ( Arin) seolah meminta pertolongan. Arin mengelengkan kepalanya berpura-pura tak mau ikut campur padahal dia sedari tadi menahan tawa melihat wajah memelas kedua adiknya itu.


"Ya salah kamu, kamu kan yang mengadakan acara pernikahan dadakan. Harusnya kamu tahu jadwal kakak cukup padat," kata Abraham mencari-cari alasan padahal Abraham tak ada acara kunjungan kerja atau apapun ke negara Z, Abraham sudah mengosongkan jadwal nya selama sebulan ini dan memilih agar Hendra yang menghandle semua urusan kunjungan kerja ke luar negeri. Abraham tinggal duduk di kantor dan menerima hasilnya.


"Ini hukuman kalian," kata Abraham menyodorkan 2 amplop coklat berukuran besar kepada Tio dan Rio.


Glek...


'Nih apa ya, apa tumpukan berkas pekerjaan ya,' batin Tio bertanya-tanya dalam hati nya.


'Mana amplopnya besar begini, di dalam nya isinya apa ya?' batin Rio juga di buat bertanya-tanya seperti Tio tadi.


"Ini apa ya kak?" Tio memberanikan diri untuk bertanya.


"Jangan banyak tanya ataupun protes, kalian kerjakan saja hukuman kalian,"


Bukannya Abraham yang menjawab melainkan Arin yang menjawab karena kesal melihat sang adik engan untuk menerima amplop pemberian dari suaminya itu.

__ADS_1


"Kak...." Tio masih menatap sang kakak penuh harap.


"Ck lama, buka saja jangan banyak protes," grutu Arin kesal.


Rio menatap ke arah Tio, Tio mengangguk. Keduanya pun membuka kertas itu secara bersamaan.


Dan....


Keduanya melotot tak percaya dengan apa yang di lihatnya, Rio melirik ke arah Tio memastikan dia juga mendapatkan hal yang sama. Tio mengangguk ke arah Rio.


Sedangkan sang istri masing-masing pun ikut penasaran dan mengintip, Amanda tersenyum lebar melihatnya berbeda dengan Nisa di buat kaget tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


'Tiket liburan,' batin Nisa.


"Kak ini apa maksudnya?" Tio kali ini berbicara menatap ke arah Abraham meminta penjelasan.


"Itu tiket liburan kalian, Tio kalian ke negara K seperti keinginan Amanda yang suka negara tersebut dan kakak ipar kalian juga sudah menyiapkan rumah di sana, tentunya dengan para bodyguard dan asisten rumah tangga jadi terserah kalian mau liburan di sana beberapa hari," jelas Arin karena tak mungkin Abraham yang menjelaskan mengingat suami kutub nya itu malas berbicara panjang lebar.


"Terima kasih kak," jawab Tio dan Amanda bersamaan karena begitu antusias.


"Eeitsss jangan senang dulu," kata Arin kepada keduanya.


"Kamu juga jangan lupa ya dengan pekerjaan kamu di sini, jadi batas waktu liburan kamu 2 Minggu, mengerti?" Jelas Arin terkekeh saat melihat wajah Tio yang masam.


"Ck kirain kita liburan di sana sepuasnya, padahal aku mau di sana 2 bulan," grutu Tio.


"Ngapain di sana 2 bulan, mau ikut gabung jadi member di sana," sinis Arin.


"He he he he he, bukan kak.... Mau ngamen di sana kali aja pulang dapat uang banyak," canda Tio yang menjabat jitakan dari Arin.


Tuk...


"Dasar adik aneh," grutu nya.


Kini Arin beralih ke arah Rio.


"Nah kamu, Rio tujuan kamu ke negara P. Ajak Nisa menikmati indahnya negara itu, sama seperti Tio tadi, kakak juga sudah menyediakan rumah lengkap beserta maid dan bodyguard jadi kalian tak perlu khawatir dan untuk kalian liburan di sana selama 4 Minggu ya," jelas Arin membuat Rio menganggukkan kepalanya tak mau protes.

__ADS_1


'Wah liburan sampai 4 Minggu, ck memang orang kaya gak main-main,' batin Nisa takjub apalagi semuanya sudah di sediakan tinggal berangkat saja.


"Lho kok Rio 4 Minggu sih kak, sedangkan aku cuma 2 Minggu?" Protes Tio.


"Ck kamu tuh ya protes terus," grutu Arin.


Sedangkan Amanda mendelik ke arah Tio.


"Kamu tuh lupa sama perusahaan kamu kalau di tinggal lama-lama kasihan asisten kamu, lagian kamu kan dah lama pacaran dengan Amanda jadi tak perlu pendekatan lagi. Berbeda dengan Rio tuh anak nikah dadakan, pasti Nisa dan Rio sedikit canggung jadi liburan di sana tuh biar mereka semakin dekat," jelas Arin.


"Ayo sayang kita pergi yuk, bosen aku dengar Tio protes mulu," kata Arin mengandeng lengan sang suami untuk mengajaknya pergi tak lupa Arin juga melirik Tio terus menatap sinis adiknya itu.


Setelah kepergian Abraham dan Arin.


"Kamu sih protes mulu, liburan 2 Minggu juga lama kok," kata Amanda mencoba menenangkan sang suami.


"Ayo kita siap-siap," ajak Amanda menarik tangan Tio dengan antusias ke luar menuju ke kamarnya.


Sedangkan Nisa dan Rio masih terdiam dua orang itu sedikit canggung.


"Ayo kita belanja untuk kebutuhan kita nanti di sana, bagaimana kalau kita ke mal," usul Rio.


"Eh iya," jawab Nisa mengikuti langkah dari Rio yang sudah resmi menjadi suaminya.


"Apa kamu sudah urus surat resign?" Tanya Rio.


"Belum,"


"Cepat kamu urus, nanti setelah liburan kita pindah ke rumah ku sendiri dan kamu ikut aku saja membantuku di toko," jelas Rio.


'Toko?' batin Nisa.


"Em aku ingin bilang, aku sebenarnya cuma punya usaha toko bukan seperti Tio yang punya perusahaan takutnya kamu kecewa," lirih Rio.


"Aku tak mempermasalahkan pekerjaan mu asal kamu nyaman," jawab Nisa.


Nisa tak mempermasalahkan mau Rio kaya atau tidak, karena Nisa sudah resmi menjadi istri Rio mau bagaimanapun Rio, Nisa akan mencoba menerima nya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2