
Brugghhh...
"Ahhh....." Pria itu tersungkur, dia meringis pelan saat tubuhnya membentur lantai karena tendangan super kuat dari Rio.
"Siapa kamu? Berani-beraninya kamu menghalangi rencana ku," teriak pria itu murka.
"Cih dasar, beraninya melawan wanita," sinis Rio.
Ya pria yang memukul bodyguard palsu itu adalah Rio.
~Flash back on (Satu jam yang lalu)~
Rio terbangun entah kenapa dirinya merasa gelisah. Baru beberapa menit dirinya tertidur namun Rio merasa tak nyaman, gelisah, semua rasa bercampur jadi satu.
"Kemana dia?" Lirih Rio bergumam pelan kepada dirinya sendiri, karena tak menemukan keberadaan sang istri (Nisa).
Rio dengan cepat bangun dan mencari keberadaan Nisa saat ini, dia membuka pintu kamar mandi namun nihil Nisa tak ada di sana. Dia pun teringat ucapannya kepada Nisa tadi sebelum rasa kantuk melanda.
Rio pun bergegas mencari kertas atau apapun yang bisa dia temukan, entahlah tiba-tiba perasaannya menjadi tak tenang. Seakan ada bahaya yang sedang mengintai dirinya maupun sang istri.
Rio menyergit heran kala menemukan selembar kertas berisi pesan dari Nisa. Rio dengan cepat menghubungi beberapa bodyguard yang ditugaskan oleh sang kakak ipar, Rio mengeram kesal karena jawaban dari bodyguard itu. Mereka bilang tak tahu keberadaan Nisa karena memang mereka sedang beristirahat. Mereka berfikir tuan nya itu lelah dan beristirahat jadi mereka tak memantau keduanya. Rio meluapkan semua kekesalannya dengan memarahi ketua dari mereka karena mereka melalaikan tugas yang di perintahkan sang kakak ipar. Rio pun dengan cepat mematikan sambungan telepon nya dan mengubungi Gre dengan cepat.
Tut....
Tut...
"Halo...."
2 kali akhirnya panggilan itu terhubung.
"Cepat kamu cari keberadaan Nisa sekarang," titah Rio dengan tegas namun syarat penuh kecemasan saat ini.
"Wait... Wait... Apa maksud kamu. Nisa?? Bukannya dia ada bersama kamu? Kenapa kamu meminta ku mencari keberadaannya, ah jangan bilang kalau Nisa kabur dari kamu?" Cerocos Gre tanpa filter.
"Sudah jangan banyak bicara kosong, cepat kamu cek cctv cari keberadaan Nisa. 5 menit dari sekarang, kalau tidak ku pastikan besok kamu akan di kirim ke kutub Utara oleh kak Abraham," ancam Rio karena kesal dengan Gre terlalu cerewet, sehingga semakin menunda waktu.
__ADS_1
"Haiiss....! Dasar tukang mengadu. Baik tunggu di sana duduk manis," jawab Gre memanyunkan bibirnya kala Rio selalu mengancam dirinya.
Tut.....
Panggilan itu di putus oleh Rio secara sepihak.
"Dasar es batu, kurang ajar. Seenaknya saja dia mencari ku kalau keadaan terdesak begini dan dengan seenaknya dia memutuskan sambungan telepon secara sepihak," grutu Gre kesal tak lupa mulutnya mengomel.
"Nasib-nasib jadi bawahan, tiap mau cari pacar, aja aja masalah," kata Gre dengan pasrah mengelengkan kepalanya lesu. Mau tak mau Gre pun bergerak cepat sesuai dengan perintah Rio untuk mencari keberadaan Nisa.
Benar saja 5 menit kemudian Gre mengirimkan sebuah rekaman cctv di depan kamar tadi, dia menatap curiga ke arah rekaman itu karena melihat Nisa sedang berbicara dengan seseorang dan entah kenapa Nisa bisa mengikuti pria tadi.
Rio curiga melihat gerak-gerik pria itu begitu mencurigakan.
"Ck dasar Gre, harusnya ini ada suaranya jadi aku bisa mendengar percakapan mereka," grutu Rio kesal.
Rio sedikit kesal, karena di sana cuma terlihat gambar saja namun tak bisa mendengar percakapan diantara keduanya saat itu.
Rio yang curiga langsung bergegas keluar dari kamar dan berjalan cepat menuju titik lokasi keberadaan sang istri. Rio berlari menuju ke lobby hotel karena titik lokasi keberadaan Nisa saat ini berhenti di sana.
Dan.....
Brugghhh.....
Tubuh pria itupun tersungkur karena tendangan Rio yang begitu kuat.
~Flash back off~
"Hiks hiks hiks hiks hiks...." Nisa berlari ke arah Rio, dia langsung berhambur memeluk tubuh Rio mencoba mencari rasa aman.
Rio membalas pelukan Nisa tak kala erat, tak lupa Rio mengusap pelan punggung Nisa mencoba menenangkan sang istri.
"Stttt jangan nangis, jangan takut karena aku sudah berada di sini," kata Rio menenangkan sang istri yang sempat menangis.
"He he he he he, kamu tidak mengenal wajahku," Rio terkekeh sinis, pandangannya menatap ke arah pria itu dengan sorot mata tajam seakan ingin menguliti pria itu hidup-hidup.
__ADS_1
Prok prok prok prok prok....
Pria itu bertepuk tangan, tak lama muncul 10 orang pria berpakaian seperti preman muncul. Pria itu tersenyum lebar seolah tengah menang karena melihat Rio sendiri sedangkan dia membawa banyak orang. Ya pria itu berfikir kalau Rio sendirian.
Para keamanan yang melihat itupun mendekat ke arah Rio untuk menawarkan bantuan. Namun Rio memberi isyarat tangan kalau dia bisa mengatasi semuanya.
"Kalian pergilah. Aku bisa mengatasinya sendiri," jawab Rio tegas membuat mereka mengangguk mengerti dan memilih kembali bertugas sebagian dan sebagian lagi mengamankan kondisi di sekitar.
Rio menatap pria itu dengan remeh.
"Kamu pikir kamu saja yang punya anak buah, ha ha ha ha ha.... Kamu lupa siapa aku?" Kata Rio terkekeh, wajahnya terlihat begitu menyeramkan saat marah.
Rio begitu kesal, dia tak suka ada orang yang berani mengusiknya.
Prok prok prok prok prok....
Rio bertepuk tangan dengan keras, muncullah 20 pria berpakaian hitam dengan earpiece di telinganya. Inilah bodyguard bayangan milik Abraham, wajah tampan, tinggi dengan postur tubuh tegap berotot. Mereka sempat mendapatkan semprotan dari Rio karena mereka semua tadi kecolongan karena tak mengira Nisa akan keluar dari kamar. Mereka berfikir Nisa akan beristirahat di kamar depan Rio mengingat jam terbang yang cukup lama menuju negara ini. Mereka mengira keduanya beristirahat karena lelah.
"Ka-ka-li-an," pria itu tergagap, dia tak menyangka mereka akan muncul.
"Maaf tuan Rio, karena kami sempat melalaikan tugas kami," jawab mereka semua serempak.
"Kalian urus pria itu dan aku ingin dia hidup-hidup. Bawa ke mansion milik kak Abraham yang ada di negara ini, dan kamu tunggu perintah dari ku selanjutnya. Kalian bisa melakukan apapun kepada mereka tetapi jangan lupa pesan ku," kata Rio dengan tegas.
Inilah sifat asli Rio, pria itu yang sering terkenal ramah namun sering menyembunyikan sifat kejam yang dia miliki. Sama seperti Tio, Rio juga punya sisi kejam. Keduanya saudara itu akan mengeluarkan aura kekejaman di dalam dirinya kala melihat orang-orang yang mereka sayangi terusik atau sengaja di usik.
"Ayo kita ke kamar, kamu masih lapar kan? Nanti biar aku yang pesan makanan," ajak Rio masih memeluk Nisa yang mungkin masih takut.
"Kenapa pria itu ingin menculik aku? Di-a tadi mengaku kalau dia bodyguard dari kak Abraham dan sengaja berpakaian biasa agar tidak jadi pusat perhatian. Aku dengan begitu saja percaya saat dia menawarkan bantuan. Hiks hiks hiks hiks hiks aku takut," lirih Nisa meracau tak jelas karena masih ketakutan.
Tangan Rio terkepal Erta mendengar ucapan dari sang istri. Rio tak akan memaafkan mereka yang berani mengusik dirinya.
"Stttt....! Ada aku di sini jadi jangan takut, nanti aku akan meminta semua bodyguard itu menghadap agar kamu bisa memperhatikan wajah mereka dan kamu tidak tertipu lagi," kata Rio menenangkan.
Bersambung...
__ADS_1