Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 71


__ADS_3

Rio turun dari mobil, pandangan nya menatap bangunan yang sudah lama tak dia kunjungi.


Bangunan itu masih terlihat mewah dan kokoh.


Para pelayan berjejer rapi menyambut kedatangan Rio dan Nisa.


"Selamat sore tuan, nona selamat datang?" Sapa kepala pelayan itu dengan ramah.


"Dimana kamar kami?" Tanya Rio singkat.


"Kamar tuan ada di lantai 2, mari saya antar," kata kepala pelayan yang bernama Mr Albert.


Sedangkan Nisa memilih diam, dia begitu kagum dengan bangunan ini terlihat gagah dan mewah.


'Seberapa kaya nya keluarga mereka,' batin Nisa merasa kagum sekaligus.


'Jujur aku merasa minder, aku merasa tak pantas bersanding dengan orang kaya seperti mereka,' batin Nisa merasa ragu.


"Ayo," ajak Rio mengengam tangan Nisa karena Rio tadi melihat Nisa tak kunjung beranjak mengikuti dirinya.


"Eh...." Nisa tersentak kaget kala tangannya ada yang menarik.


"Kamu sedang memikirkan apa? Ayo kita ke kamar dan jangan terus melamun tak jelas," kata Rio masih menarik Nisa mengikuti dirinya.


Tap tap tap tap tap.... Langkah kaki ketiganya menggema di sepanjang lorong. Ada 6 kamar di lorong ini. Ketiganya berhenti di pintu kamar bercat putih.


"Kalau begitu saya permisi dulu tuan," pamit Mr Albert.


"Terima kasih Mr Albert," kata Rio dengan senyuman.


"Kamarnya banyak ya," kata itu yang muncul dari bibir Nisa saat ini, karena sedari tadi dirinya hanya memperhatikan pintu-pintu itu tertutup rapat.


"Memang."


"Kenapa pintunya catnya berwarna berbeda-beda?" Tanya Nisa heran melihat semua pintu itu tidaklah sama.


"Ya karena pemilik kamar suka warna yang tidak sama," jawab Rio.


"Maksudnya?" Tanya Nisa semakin binggung mendengar jawaban sang suaminya yang seperti berputar-putar saja.


"Ini kamar ku, yang bercat pink itu kamar si bawel Aurel, terus yang berwarna abu-abu itu kamar milik Abrian, yang hitam di pojokan sana itu milik Tio, yang berwarna hijau muda itu milik Bunda," jelas Rio.


"Ah aku tahu yang berwarna coklat itu pintu kamar kak Arin kan?" Tebak Nisa menyela ucapan suaminya saat ini.


"Ck bukan, itu milik pengasuh Abrian dan Aurel. Nah kalau ini kamar kita," kata Rio menunjuk kamar di depannya saat ini.

__ADS_1


"He he he he he, mana ku tahu. Aku kan cuma asal tebak saja," grutu Nisa mengerucutkan bibirnya kesal.


"Ya sudah ayo masuk, jangan cerewet nanti ketularan bawel seperti Aurel."


"Siap kapten," jawab Nisa bercanda.


"Kamu istirahat saja, kalau lapar kamu bisa menghubungi kepala pelayan yang tadi untuk menyiapkan makanan dan minta juga untuk mu," pinta Rio mengusap gemas rambut Nisa lebih tepatnya mengacak gemas rambut Nisa karena gadis itu bertanya dengan tatapan yang begitu polosnya itu kalau dalam mode mengemaskan.


"Mau kemana?" Tanya Nisa yang sedikit merasa takut apalagi dia merasa asing di tempat besar ini.


"Tenang saja, aku masih di sini. Eh maksudnya aku masih duduk di sini sambil melihat wajahmu yang sedari tadi terlihat cantik apalagi dengan bibir manyun seperti itu," kata Rio penuh gombalan receh.


"Ish yang benar?" Tanya Nisa dengan selidik.


"Aku ada pekerjaan di bawah," bohong Rio.


Tap tap tap tap tap... Dengan tergesa-gesa Rio.


Sampailah Rio di tempat, aula yang cukup besar itu. Rio jujur masih terlihat begitu kesal.


"Di mana semua bajingan itu?" Tanya Rio dengan datar saat dia sedang berada di dekat Mr Albert .


"Ada di paviliun belakang tuan," jawaban itu begitu sopan.


Rio akhirnya berjalan santai menuju ke arah paviliun, Rio tak sabar ingin bertanya sesuatu kepada mu, di mansion sampai teriakan sang anak berubah keduanya berwajah menjadi datar.


"Ah sudahlah kenapa aku harus ikut campur," guman Nisa lirih langsung melanjutkan memejamkan matanya yang masih mengantuk itu.


Ceklek....


"Seperti permintaan anda tuan."


"Tuan....."


Mereka semua menunduk saat seorang pria tampan masuk ke dalam ruangan, tak ada yang berani bersuara sampai pria tampan itu bertanya.


Krieetttt....


Pria tampan itu duduk di kursi di depan para tawanan mereka. Pria itu tak lain adalah Rio dan saat ini dia menatap satu persatu pria yang sudah terikat di kursi depan wajah lebam akibat pukulan.


"Katakan siapa yang menyuruhmu menculik istri ku?" Tanya Rio dengan tatapan tajam.


Bugh


Krekkk

__ADS_1


Ahhhh....


Teriakan itu menggema kala Rio dengan tajam memukul pria-pria itu bahkan Rio tak sungkan menendangnya sekalipun.


"Cepat katakan siapa yang menyuruh kamu?" Bentak Rio dengan penuh emosi, dia masih belum puas menghajar mereka.


Rio mencengkeram erat kerah baju leher pria itu.


"Cepat katakan karena kesabaran ku ada batasnya," ancam Rio.


Rio memang terkenal suka bercanda, jahil kepada temannya namun di balik semua itu Rio juga punya sifat yang sama dengan Tio sang kembaran. Rio tak segan-segan dengan orang yang berani mengusik dia maupun keluarganya meskipun lewat jalan kekerasan sekalipun Rio akan melawannya.


"Cih, tidak akan," pria itu bukannya menjawab justru meludah seolah meremehkan Rio.


"Oh jadi kamu memilih ingin bermain-main dengan ku ya, emmm baiklah ayo kita mulai," kata Rio dengan senyum miring senyum yang terlihat mengerikan di mata semua bodyguard yang menyaksikan semuanya.


"Ha ha ha ha ha ha ha," Rio tertawa keras membuat siapapun merinding di buatnya.


"Gre kamu ambil salah satu koleksi kita di lemari itu," perintah Rio menunjuk ke arah lemari kayu besar yang terlihat tua.


"Ok."


Gre pun berjalan menuju lemari.


Krieeeetttt.....


Suara decitan pintu lemari itu terdengar nyaring dan menyeramkan bagi yang tahu isi di dalamnya.


"Bagaimana kalau ini?" Tanya Gre menunjukkan gergaji kayu di tangannya.


Beberapa orang di sana melihatnya bergidik ngeri, semua menggigil ketakutan kala melihat senyuman Rio maupun Gre yang begitu menyeramkan.


'Apa yang akan mereka lakukan? Kenapa mereka mengambil gergaji,' batin para tawanan yang masih binggung.


Tentu bagi orang awam mereka akan binggung namun bagi yang sudah tahu pasti langsung memilih kabur dari tempat itu secepatnya.


"Ha ha ha ha ha, kalian mau memotong kayu," ejek salah satu pria yang duduk terikat di kursi.


'Ck mereka cari mati,' batin bodyguard A.


'Ha ha ha ha, kalau mereka tahu itu buat apa pasti mereka langsung kabur,' batin bodyguard B.


"Aku ingin melukis jadi ambil pisau kecil saja, gergaji itu terlalu berat karena hari ini aku sedang malas memegang gergaji, aku ingin yang ringan-ringan saja," kata Rio kepada Gre cepat.


"Nih, jangan lupa sisakan buat ku," kata Gre saat menyerahkan pisau kecil yang terlihat begitu tajam.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2