
"Arka akan menjadikan Daddy Haris sebagai contoh rumah tangga yang ingin Arka jalani, bersama istri tercinta Arka, Arka akan menerima apapun kekurangan istri Arka" Kini Arka beralih menatap mata mommy nya. "Jangan oernah mengajarkan atau mengurus rumah tangga Arka, karena mommy saja tidak mampu menjaga kehidupan rumah tangga keluarga mommy, jangan hanya karena satu kesalahan istri Arka, mommy membencinya, bukannya mommy yang berniat menjodohkan Arka dengan Hani? kenapa sekarang mommy terlihat begitu benci dengan istri Arka? hanya karena kesalahan itu?"
Malam itu Arka betul-betul meluapkan semua yang dia rasakan selama dia kecil dan tumbuh didalam asuhan kedua orang tuanya.
"Kak" Hani balas menggenggam tangan Arka, dia menggeleng pelan, dia tidak ingin Arka bertengkar dengan ibunya karena membela dirinya, "Mom, maafin Hani dan kak Arka, kak Arka tidak bermaksud untuk mengatakan itu pada mommy, Hani janji Hani akan berusaha untuk berobat pada dokter, Hani akan mengikuti program kehamilan, Hani juga tidak sabar lahir anak yang akan membuat keluarga kita bertambah".
Mommy menatao menantunya itu, memang benar yang dikatakan Arka, dia tidak boleh menyalahkan menantunya itu Hanya karena satu kesalahan nya.
"Mommy juga minta maaf" ujar mommy Arka pelan.
"Udah-udah ayo kita lanjut makannya" mommy Hani menengahi pembicaraan serius itu.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
Tidak jauh beda dengan keluarga Arka dan Hani, Satya juga telah mempersiapkan makan malam untuk keluarganya yang datang dari luar kota, dan keluarga Hana.
Satya sengaja menyewa salah satu restoran milik Arka untuk acara makan malam itu.
suasana makan malam itu tampak sangat hangat, bahkan kakak satya juga hadir bersama istri dan juga anak mereka.
"Jadi kapan ni rencana nya kalian menikah" ibu satya memulai pembicaraan tentang pernikahan Satya dan Hana.
"Benar juga, sudah tidak sabar melihat mereka berdua menikah, rencana kita untuk menjodohkan mereka ternyata berhasil" bunda Hana ikut menambahkan dengan sangat antusias, wajar saja keduanya terlihat begitu bahagia, sejak Hana dan satya dalam perut keduanya memang merencanakan untuk menikahkan mereka berdua.
"Aduhh jangan bahas-bahas pernikahan dulu, Hana masih ingin menikmati kebebasan Hana sebagai pekerja" ucapan Hana membuat kedua ibu-ibu itu terdiam.
"Ngapain kamu kerja Han? kan satya sudah bisa nafkahi kamu? dan lagi kamu juga kerjanya sama Satya, jadi apa lagi yang ditunggu" komentar kakak Satya namanya adalah Satria.
Mengenai usaha bisnis yang Satya miliki kedua keluarga baru mengetahui beberapa minggu lalu dan itu membuat orang tua Satya sangat bangga padanya dan mendukung putra bungsu dari keluarga pratama itu untuk tetap melanjutkan usaha yang dimiliki.
Awalnya kedua orang tua Satya ingin membagi dua usaha mereka untuk putra pertamanya Satria dan putra bungsunya Satya, tapi Akhirnya setelah mengetahui Satya membuat usahanya sendiri dan berkembang sangat pesat, mereka pun ikut mendukung Satya dan ikut menanamkan investasi pada usaha yang Satya miliki.
Dan Hana selama menunggu kelulusan dia sudah menjadi sekretaris Satya, wanita itu juga ikut membantu Satya dalam urusan modeling, Hana yang menggantikan posisi Linda yang sekarang menetap di dalam jeruji besi.
__ADS_1
Makanya melihat keberhasilan kedua orang itu kedua orang tua mereka ingin mereka segera menikah.
"Umurku masih muda kak, lagian aku masih belum ingin punya anak" elak Hana.
mendengar penolakan Hana, Satya sedikit sedih, tapi dia berusaha untuk tetap menerima keputusan Hana.
"Dan urusan pernikahan itu bisa dilakukan jika keduanya sudah siap untuk menjalani rumah tangga" Lanjut Hana lagi.
Akhirnya makan malam itu berakhir dengan damai, kedua orang tua satya sedikit kecewa dengan keputusan Hana, tapi mereka berusaha untuk menerima keputusan itu dan Satya ternyata juga mendukung keputusan Hana dengan sangat terpaksa.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
"Kamu pasti kecewa dengan keputusanku" Hana membuka pembicaraan lebih dulu. sejak di masuk dalam mobil Satya tidak mengajak Hana untuk berbicara sedikitpun.
"Sedikit" balas Satya sedikit ketus, dia masih fokus menyetir mobil.
mengenai Kedua orang tua Satya dan kakak Satya, mereka menginap di hotel milik Arka yang sudah Satya pesan dari Arka. Selama tinggal di kota itu Arka sudah mengratiskan biaya penginapan itu selama mereka berada disana.
Mendengar ucapan Hana, Satya segera menepikan mobilnya, dia ingin membicarakan hal tentang pernikahan yang selama ini Hana hindari.
"Kenapa berhenti disini?" Tanya Hana bingung.
"Kita perlu membicarakan masalah ini dengan lebih serius" ucap Satya, Tanganha segera beralih pada bahu Hana untuk menarik gadis itu agar menatapnya.
"Bicara apa?" Walaupun Hana sudah tau apa yang ingin Satya bicarakan, wanita itu masih tetap berusaha mengalihkan pembicaraan dari topik pernikahan.
"Hal yang barusan kamu katakan, Sekarang katakan kenapa kamu masih belum mau menikah denganku? mengenai pekerjaan aku sudah punya, kamu juga sudah punya, aku juga tidak akan melarang mu untuk mengirimkan seluruh gaji mu kepada kedua orang tua mu setelah menikah, lalu apa lagi masalahnya?" Tanya Satya to the point. Selama ini pria itu selalu bersabar dengan segala tingkah kekanakan yang dilakukan oleh Hana.
Hana tampak sedang berpikir panjang, dia sangat tidak ingin mengatakan alasan yang menjadi penyebab dia ingin menunda pernikahan mereka, selain karena umur salah satu faktornya.
"Katakan Hana, aku sudah capek menunggumu, bukankah akhir dari sebuah hubungan kekasih hanya ada dua satu menikah dan satunya lagi berpisah, jangan bilang kamu ingin memilih, pilihan kedua?"
__ADS_1
Hana segera menggelengkan kepalanya dengan cepat ketika Satya mulai meragukan hubungan mereka.
"A-anak" ucap Hana dengan sedikit terbata.
"Anak? apa maksud nya anak?" tanya Saya dengan kebingungan.
"Setelah menikah kita pasti akan menginginkan anak dan__"
"Kamu tidak menginginkan anak dalam pernikahan kita?" Potong Satya tidak sabaran.
Hana menggeleng, "bukan itu, tolong dengar kan aku sampai selesai" Hana memukuk pelan dada bidang milik Satya karena tadi memotong ucapannya.
"Aku bukan tidak menginginkan itu, tapi Hani masih belum memiliki anak, jadi aku takut membuat saudara kembar ku iri jika kita memiliki anak duluan sebelum dia" ucap Hana akhirnya dengan suara sepelan mungkin.
"Kau masih menyalahkan dirimu atas kecelakaan yang terjadi pada saudara kembar mu?"
Hana mengangguk pelan.
"Hana bukankah kamu tau itu adalah kecelakaan yang direncanakan, itu bukan kesalahanmu!" Bentak Satya pada Hana. Pria itu sedikit emosi mengingat Hana masih merasa bersalah tentang kecelakaan yang menimpa saudaranya.
"Aku tau, tapi tetap saja aku tidak bisa membuat Hani sedih, kau tau beberapa Hari yang lalu Hani bercerita padaku, tentang mertuanya yang berubah sikap menjadi dingin karena belum memiliki anak, jika kita menikah dan memiliki anak lebih dulu, pasti Hani tambah sedih dengan berita itu, lain cerita jika aku ikut bersamanya kecelakaan saat itu" Ucap Hana.
"Kalau kau ikut kecelakaan, kau mungkin bisa tiada, kalian berdua mungkin tidak selamat, jangan menyalahkan dirimu atas kekurangan yang adikmu dapatkan setelah kecelakaan itu, anak itu sudah di atur oleh Tuhan, dan aku yakin Hani akan segera dikaruniai anak, jadi kamu tidak boleh terus menerus menyalahkan dirimu".
Satya menatap lekat gadianya yang tertunduk menatap tangannya yang terus dicengkram.
Tangan satya beralih pada tangan Hana, "Baiklah, jika Hani dikabarkan melahirkan apakah kamu mau menikah denganku?" Satya akhirnya menyerah, dia kembali bersikap lunak pada Hana.
Hana mengangguk antusias memang itu yang dia tunggu selama ini.
Satya segera menarik gadis itu kedalam pelukannya, "Jadi karena alasan ini tidak bisa kau bicarakan dengan orang tua kita makanya kamu mengatakan tentang kebebasan di umur mu itu?"
"Iya, aku tidak bisa menjelaskan alasannya pada mereka, mereka tidak boleh tau, biar saja mereka menyalahkan ku"
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️...