
Buggh...
"Dasar kalian tidak bisa di andalkan, mencari Nisa yang notabene hanya seorang wanita saja tak bisa," teriak Rio dengan nada tinggi menatap tajam 4 pria berbadan kelar di depannya saat ini.
Bruaaakkk....
Pyarrrr .....
Meja di samping Rio tak luput dari amukan Rio saat ini, bahkan gelas dan piring berisi buah di atas meja jatuh dan pecah sedangkan gelas tadi yang berisi minuman tumpah mengotori lantai, buah menggelinding ke lantai. Keempat pria di depannya saat ini terlihat ketakutan, tubuhnya bergetar hebat melihat Rio yang marah dan menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya saat ini.
Keempat pria di depannya saling senggol, melirik satu sama lain agar mau berbicara kepada Rio. Keempat pria itu merasakan hawa dingin seperti menyebar di dalam ruangan, mereka tak tahan ingin kabur dari tempat ini.
"Menurut saya, nona Nisa tak berada jauh dari rumah sakit tadi tuan. Kami semua sedari tadi berjaga di luar rumah sakit dan kami tidak melihat nona Nisa baik sendiri atau bersama dengan seseorang," jelas pria di depannya dengan menahan rasa takut.
Rio langsung mendongak menatap tajam pria tadi, kalaupun benar semua yang dikatakan oleh mereka. Berarti Nisa masih berada di sekitar sana atau lebih tepatnya mungkin saat ini dia sengaja bersembunyi sampai dirinya pergi. Ah ternyata begitu pemikiran istrinya, Rio langsung paham.
"Kalian periksa cctv di rumah sakit tadi, Nisa pasti masih berada di sana atau tak jauh dari tempat itu. Aku tidak mau tahu sebelum Nisa ketemu, kalian tidak boleh kembali," perintah Rio dengan suara lantang membuat semuanya yang berada di sana mengangguk serempak dengan patuh tanpa ada yang berani membantah kalau tidak mungkin nasib mereka akan berakhir dengan pemecatan.
__ADS_1
"Baik Tuan," jawab mereka serempak.
"Kalian boleh pergi," kata Rio berbalik pergi menuju ke arah ranjang.
Keempat orang itu langsung berlari keempat pria itu saling mendorong saat melewati pintu, terlihat seperti anak kecil yang berebut ingin keluar duluan.
"Keluar," teriak Rio menggelegar memenuhi ruangan bahkan beberapa pekerjaan yang sedang bersih-bersih di mansion saja mendengar suara Rio langsung ketakutan.
Sementara masih di rumah sakit.
"Bagaimana kalau kamu ikut bersamaku," tawar Ansel.
Nisa terdiam sebentar, dia pun teringat sesuatu untuk mengalihkan 0embucara yang cukup canggung ini.
"Aku sakit apa?" Tanya Nisa yang baru sadar kalau tadi Ansel belum menjawab pertanyaannya tadi.
"Kamu...." Ansel terdiam menggantung jawabannya, dia merasa begitu keluh untuk meneruskan ucapannya.
__ADS_1
"Apa?" Tanya Nisa semakin penasaran.
"Apa aku sakit keras," batin Nisa sedikit ketakutan.
"Kamu hamil," jawab Ansel singkat, dia memperhatikan raut wajah perempuan cantik di depannya saat ini, Ansel ingin tahu reaksi apa yang akan Nisa keluarkan.
Hamil, dia hamil ulang Nisa dalam hatinya antara kaget, senang dan juga binggung menjadi satu.
Nisa terdiam, pikirannya langsung kosong.
"Apa benar aku hamil?" Tanya Nisa memastikan takutnya dia salah dengar.
"Kamu benar-benar hamil, aku saja juga masih belum percaya kalau kamu hamil padahal aku sudah meminta orang untuk mencari informasi tentang kamu dan orang itu bilang kalau kamu terpaksa menikah dengan pria itu ternyata...." Ucap Ansel dengan getir.
"Memang awalnya aku terpaksa, namun bagaimana pun dia sudah resmi menjadi suamiku," kata Nisa terdiam menghela nafas panjang, Ansel melihat itupun terdiam.
"Aku tak tahu kalau dia masih menyimpan perasaan untuk mantan kekasih nya kalau aku tahu tentu aku lebih memilih untuk tidak menerima permintaannya untuk menikah," lirih Nisa dengan sendu. Ansel mendengar itupun mengepalkan tangannya secara kuat.
__ADS_1
Bersambung......