
"Kamu tidurlah," bujuk Rio sambil mengelus rambut sang istri dengan lembut.
"Aku takut," lirih Nisa.
"Tenanglah ada aku di sini," kata-kata Rio begitu menenangkan Nisa saat ini. Rio benar-benar masih merasa marah karena dia tidak bisa melindungi istrinya, andaikan dia tadi terlambat mungkin
Setelah itu Nisa naik membaringkan tubuhnya di atas kasur, Rio masih setia menemani sang istri yang masih terlihat ketakutan.
"Tidurlah,"
Nisa mengelengkan kepalanya tidak mau memejamkan matanya, dia semakin erat mengengam tangan Rio. Nisa tak ingin Rio meninggalkan dirinya di sini sendirian. "Jangan tinggalkan aku."
"Kamu lapar?" Tanya Rio mengalihkan pembicaraan. Dia baru ingat kalau tadi sang istri menuliskan pesan kalau dia keluar untuk mencari makan.
"Hmmm...." Kata Nisa sedikit malu.
Rio menepuk keningnya pelan, dia tadi lupa kalau sudah meminta untuk dikirimkan makanan ke kamarnya.
"He he he he, tadi aku sudah meminta seseorang untuk mengantarkan makanan ke sini. Kamu sabar ya mungkin sebentar lagi datang."
"Apa nanti kamu akan meninggalkan ku di sini sendirian?" Lirih Nisa bertanya kepada suaminya, Nisa mendongak menatap mata Rio dengan intens.
"Kenapa dari tadi kamu berfikir kalau aku akan meninggalkan mu?" Tanya Rio balik yang tak mengerti isi pikiran istrinya saat ini.
"A a-ku..." Nisa engan melanjutkan ucapannya saat ini.
"Aku akan selalu di samping mu, tidak akan pernah meninggalkan mu," tegas Rio.
"Aku takut kamu meninggalkan ku di sini sendirian untuk menemui pria tadi, ka kalau aku sendirian di sini, aku takut nanti teman-teman pria itu datang ke sini, aku takut sendirian hiks hiks hiks hiks jangan pernah jauh-jauh dari aku...." Kata Nisa panjang lebar menjelaskan apa yang dia rasakan saat ini.
Nisa langsung memeluk erat Rio membuat Rio tertegun sejenak, dia tak menyangka Nisa memeluknya terlebih dahulu.
Tok tok tok tok tok tok tok....
Rio mau beranjak berdiri karena mendengar ketukan pintu dari luar.
"Mungkin pengantar makanan," guman Rio pelan.
"Jangan pergi," pinta Nisa, dia masih merasa ketakutan.
"Aku hanya ingin membuka pintu saja, aku tidak akan kemana-mana kok."
"Tetapi....." Kata Nisa terpotong kala Rio dengan cepat menaruh jari telunjuknya di bibir Nisa.
"Stttttt...."
"Jangan takut, mereka semua tidak akan menggangu kamu lagi," kata Rio.
__ADS_1
"Biarkan aku membuka pintu itu," pinta Rio menunjuk ke arah pintu, Rio mencoba melepaskan pelukan Nisa yang cukup erat.
Tap tap tap tap tap...
Ceklek ...
"Tuan ini pesanan anda tadi," kata bodyguard tadi yang di minta Rio membelikan makanan. Bodyguard itu menyodorkan paper bag berisi makanan dengan menunduk hormat.
"Hmm.... Terima kasih," kata Rio singkat.
Brak....
Setelah itu Rio menutup pintunya tanpa basa basi lagi, dia pun berjalan menuju ke arah Nisa.
Rio membuka paper bag itu dan mengeluarkan semua makanan itu dan menatanya di meja.
"Ayo kita makan," ajak Rio.
Nisa pun menurut, dia turun dari ranjang dan berjalan menuju sofa.
"Makan yang banyak," kata Rio menyodorkan sekotak berisi nasi dan lauk.
"Terima kasih,"
Keduanya pun makan dengan lahap, keduanya diam menikmati setiap siapa nasi yang entah terasa begitu enak, apa karena mereka benar-benar lapar atau makan berdua dengan pasangan bisa membuat makanan semakin lezat.
"Apa kamu masih merasa takut?" Tanya Rio.
Nisa menjawab dengan mengangguk saja.
"Bagaimana kalau kita pergi dari sini dan tinggal di mansion kak Abraham saja selama di sini," kata Rio menanyakan pendapat Nisa saat ini.
"Tetapi bagaimana? Kita baru di sini sebentar. Oh ya aku juga baru ingat kalau kita di sini menginap di hotel beberapa hari, apa kita gak rugi?" Cicit Nisa pelan dengan nada polos membuat Rio terkekeh pelan di buatnya.
"He he he he he he, tenang saja lagian kak Abraham juga tidak akan bangkrut," kata Rio terkekeh gemas mendengar jawaban dari sang istri yang menurutnya lucu itu.
"Ya kan menginap di hotel berbintang itu mahal apalagi ini di negara lain," kata Nisa.
"Hotel ini juga milik teman kak Abraham, jadi pasti tidak akan rugi," canda Rio mengurai suasana.
"Alhamdulillah sih, jadi uang bisa kembali," teriak Nisa semangat.
"Ya mana ku tahu," jawab Rio enteng.
"Ha masa gak tahu sih," grutu Nisa.
"Iya tidak apa-apa, kamu tenang saja. Pasti kak Arin maupun kak Abraham akan mengerti karena kita harus pindah dari sini terpaksa mengingat keamanan hotel ini yang masih biasa di tembus oleh orang yang lain," jelas Rio panjang lebar agar Nisa tak merasa tak enak.
__ADS_1
"Tetapi....." protes Nisa namun Rio dengan cepat menaruh jari telunjuknya di depan bibir Nisa.
"Sttttt..... Sudah jangan protes mulu."
"Kamu ingin istirahat dulu atau kita langsung pindah ke mansion saja?" Tanya Rio mengalihkan pembicaraan agar sang istri tidak lagi berdebat masalah hotel. Tak lupa Rio menatap lembut ke arah sang istri.
"Apa kamu masih mengantuk?" Bukannya menjawab justru Nisa malah bertanya balik ke arah sang suami, mengingat tadi Rio dengan cepat tertidur pulas.
"Tadi sih masih mengantuk tetapi sekarang sudah tidak," jujur Rio.
"Emmmm......! Aku sih terserah kamu. Baiknya bagaimana," jelas Nisa memasrahkan semua keputusan kepada sang suami, apapun itu pasti terbaik untuk dia.
"Bagaimana kalau sekarang kita istirahat saja dulu. Mungkin nanti sore sekitar jam 3 kita akan berangkat ke mansion," putus Rio.
"Kenapa harus sore?" Tanya Nisa dengan alis mengkerut.
"Karena aku takut kamu lelah, jarak mansion juga cukup jauh dari sini," jelas Rio membuat Nisa mengangguk mengerti.
"Ayo kita tidur," ajak Rio.
Nisa pun menurut.
"Jangan jauh-jauh, ayo tidur di sampingku," pinta Rio saat melihat Nisa masih duduk di ujung kasur.
Deg deg deg deg deg....
Jantung Nisa berdetak sangat kencang, apalagi senyum Rio begitu memabukkan membuat Nisa salah tingkah di buatnya saat ini.
"Emm emmm aku akuuu...." Nisa tergagap binggung harus menjawab apa.
Tinggg.... Muncullah untaian kata-kata saat ini di pikiran Nisa.
"Kenapa hmmm....." Tanya Rio dengan heran apalagi melihat tingkah Nisa yang aneh menurutnya.
"Aku aku takut kamu terganggu tidurnya, ya tidurmu nanti tidak nyaman karena aku," elak Nisa tak ingin tidur berdekatan dengan sang suami. Bukannya tidak mau tetapi tidak aman untuk jantungnya saat ini.
"Tidak kok, justru tidur ku akan lebih nyaman saat berada di dekat mu. Ayo sini jangan banyak alasan, tenang saja aku tidak akan memakan mu,"
Blusshhhh....
Wajah Nisa langsung bersemu merah.
Rio yang sudah tak sabar langsung menarik Nisa dalam dekapannya.
"Tidurlah," lirih Rio yang langsung memejamkan mata nya.
Nisa memilih diam tak bergerak, dia mencoba memejamkan matanya meskipun sulit apalagi posisi keduanya membuat Nisa sedari tadi di buat deg-degan.
__ADS_1
Bersambung....