Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 28


__ADS_3

Rio pun mendekat ke arah Amanda saat ini dan dengan cepat karena saat ini dia tepat berada di dekat keduanya.


Meskipun awalnya ragu tetapi Rio pun menyakinkan dirinya untuk melangkah mendekat ke arah Amanda dan Nisa berada saat ini.


Wajah Rio pun terlihat penasaran bercampur rasa panik, saat melihat Amanda yang berteriak memanggil nama Denis namun semua itu tak membuahkan hasil.


Denis tak bergeming sama sekali, menoleh pun saja tidak dia lakukan.


Jarak Denis terlalu jauh dan suara di aula itu cukup berisik mengingat ada beberapa penyanyi yang sedang bernyanyi untuk mengibur para tamu yang hadir di pernikahan Tio dan Amanda.


Semua orang sibuk saling mengobrol satu sama lain, ini juga kesempatan bagi mereka untuk bisa dekat dengan keluarga Abraham atau dengar pebisnis lainnya.


Kedua orang tua Amanda juga tengah sibuk menyapa tamu dan kerabat mereka.


Pesta besar ini sengaja Tio adakan di hotel milik Abraham mengingat sang kakak (Arin) telah mendesak untuk menyiapkan semuanya, Tio hanya tinggal menunggu hasilnya saja.


Benar saja baik Tio maupun Amanda pun puas dengan hasilnya.


Tap tap tap tap tap tap....


Rio berjalan beberapa langkah agar bisa mendekat ke samping Amanda saat ini untuk memastikan apa yang terjadi sebenarnya sehingga Amanda berteriak seperti tadi.


"Ha kenapa ini man?" Tanya Rio juga ikut panik saat melihat Nisa yang merintih kesakitan.


Rio pun menatap Amanda dengan tatapan seolah meminta penjelasan,apa yang terjadi saat ini.


Rio dengan cepat mengalihkan pandangan nya ke arah Nisa.


Namun saat melihat ke arah Nisa perempuan itu justru memalingkan wajahnya dengan cepat, seolah dia menghindari dari tatapan mata Rio dengan perasaan gugup.


Ya Nisa begitu terlihat gugup saat mata itu tak sengaja bertabrakan dengan tatapan mata Rio, dia seketika lupa dengan kebohongan yang dia rencanakan saat ini, dia dengan cepat berpura-pura merintih dan matanya bergerak ke kanan-kiri dengan gelisah.


Seketika bayangan masa lalu itu muncul, samar-samar wajah perempuan itu terlihat jelas, dia juga berteriak memohon ampun ke arah Rio waktu itu. Setelah itu Rio tak ingat lagi apa yang terjadi.


'Hmmm ternyata itu benar kamu,' batin Rio menatap ke arah Nisa saat ini.

__ADS_1


Namun Rio menaruh curiga saat melihat gelagat aneh dari perempuan itu, sepertinya dia berusaha untuk menghindari nya saat ini.


'Hemmm ternyata kamu menipuku, kelinci kecil,' guman Rio di dalam hatinya saat ini.


'Ha ha ha ha ha ha semakin menarik,' Rio justru semakin ingin mengetahui tentang wanita di depan nya itu.


'Akan ku ikuti permainan mu gadis nakal, ah bukan gadis lagi mungkin, he he he he he he,' batin Rio terkekeh geli.


"Hei Manda, kamu harus tenang jangan panik, lihatlah mereka semua menengok ke arah kita," kata Rio mencoba memberitahu Amanda kalau mereka jadi pusat perhatian.


Amanda dengan cepat melirik dan benar seperti yang di ucapkan oleh Rio saat ini.


Benar Nisa pun menoleh ke arah lain, banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka saat ini. Wajah Nisa semakin pucat entahlah karena malu atau karena takut.


"Ha..." Amanda menghela nafas panjang untuk mengurangi rasa paniknya saat ini.


Di tempat cukup jauh, Tio sempat melirik ke arah Amanda dan Nisa namun demikian, Tio dengan cerdik justru mengajak Denis untuk lebih menjauh, Tio hanya ingin memberikan kesempatan kepada kembarannya untuk menemukan kebahagiaan lain. Ya Tio bisa melihat kalau Amanda adalah gadis yang baik.


Tio tersenyum melihat Rio mendekat ke arah keduanya tadi.


Kembali ke Amanda, Rio dan Nisa saat ini.


"Terus kita harus bagaimana?" Tanya Amanda menatap ke arah Rio saat ini seolah meminta jawaban.


"A-ku bisa pulang sendiri," sahut Nisa dengan cepat.


Nisa tak ingin terjebak dengan pria itu untuk kedua kalinya.


"Tidak, aku tidak akan membiarkan mu pulang dengan keadaan begini," kata Rio terdengar nada khawatir dari suaranya.


Amanda pun mengangguk setuju dengan usulan dari Rio tadi.


"Tidak, aku tidak ingin merepotkan kalian. Aku bisa kok pulang sendiri," lirih Nisa merasa tak enak hati.


"Terus nanti kalau ada apa-apa dengan kamu atau sesuatu terjadi kepada mu bagaimana?" Tanya Amanda merasa khawatir.

__ADS_1


"Sudah jangan banyak protes, kamu akan pulang dengan ku, kamu takut aku apa-apain kamu? Tenang aku gak doyan sama modelan kayak kamu," kata Rio melirik tubuh gadis itu seolah tak bernafsu, Rio berpura-pura menatap jengah ke arah Nisa yang sedari tadi menolak tawaran nya, Rio sengaja berbicara seperti itu agar Nisa tak terus protes dengan perkataan darinya.


Bohong kalau dia tak tertarik dengan Nisa, wajah Nisa terlihat begitu cantik dengan kulit seputih susu dan body yang lumayan berisi, pasti membuat siapa pun akan tertarik saat melihat nya pertama kali.


"Iya kamu percaya kalau Rio itu baik kok, dia adalah sahabat ku jadi aku tahu betul siapa dia," jelas Amanda menyakinkan Nisa agar menerima permintaan dari Rio saat ini.


'Iya baik kalau tidak dalam keadaan mabuk,' batin Nisa menatap ke arah Rio dengan sedikit sinis.


Amanda menatap Nisa dengan penuh permohonan.


"Tetapi....." Nisa tak ingin terlibat lagi dengan pria ini.


"Atau kamu takut karena kamu pura-pura sakit," kata Rio menatap penuh selidik.


"Ah auhh... Sakit," Nisa berpura-pura menahan sakit.


"Ayo Rio cepat bawa Nisa," pinta Amanda.


Tentu dengan senang hati, Rio pun melakukan perintah Amanda.


"Aahh...." Nisa memekik saat tubuhnya tiba-tiba melayang diangkat oleh Rio tanpa bertanya terlebih dahulu apakah dia mau atau menolak.


"Sudah jangan banyak protes, atau aku akan mencium mu di sini," bisik Rio tepat di dekat telinga Nisa namun kata-kata itu terdengar seperti sebuah ancaman.


Nisa hanya pasrah saat tubuhnya di bawa oleh Rio.


"Titip Nisa ya, kalau ada apa-apa cepat kamu hubungi aku," kata Amanda sebelum Rio melangkah tadi.


Rio mengangguk setelah itu dia berjalan cepat menuju ke dalam kamar hotel yang di sediakan untuk tamu.


"Lho kita kok ke sini, harusnya kita keluar ke pintu sana," protes Nisa ke arah Rio yang membawanya ke tempat lain.


"Diam jangan banyak protes atau kamu sengaja ingin dapat ciuman dari ku. Mungkin kamu sudah ketagihan dengan ciuman dari ku," kata Rio menyeringai lebar ke arah Nisa.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2