Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 74


__ADS_3

"Siapa sih?" Tanya Amanda dengan mata masih setia terpejam.


"Rio," jawab Tio langsung beranjak mendekati sang istri, langsung masuk ke dalam selimut.


"Kenapa malam-malam begini menghubungimu?" Tanya Amanda penasaran. Matanya yang tadi masih mengantuk dan masih terpejam pun langsung terbuka. Amanda pun langsung mendekat ke arah sang suami. Rasa kantuk itu langsung hilang dengan sendirinya.


"Sudah jangan di pikirkan, ayo tidur,'' ajak Tio memeluk sang istri.


Amanda pun menurut, dia pun masuk ke dalam pelukan sang suami. Amanda memejamkan matanya kala rasa menghampirinya. Keduanya pun terlelap dalam tidur dalam kondisi tidur saling berpelukan.


Sedangkan di tempat Rio.


Rio mengetuk pintu kamar miliknya.


Tok tok tok tok tok tok....


Karena tak ada sahutan dari dalam, Rio pun mendorong pintu kamar dengan pelan.


Ceklek....


Rio menatap ke arah ranjang dan ternyata sang istri saat ini sedang tidur terlelap di balik selimut.


"Ternyata dia tertidur," guman Rio menatap ke arah ranjang.


Rio tersenyum mendekati ke ranjang, dia naik ke atas ranjang dan mengelus pelan rambut sang istri dengan rasa sayang.


Cup.... Rio mengecup kening Nisa dengan sayang.


"Maaf sayang, mungkin kamu bosan menunggu ku sampai kamu tertidur begini," lirihnya.


Rio pun teringat sesuatu.


Rio pun mengambil laptop miliknya, jari-jarinya begitu lihai menari-nari diatas keyboard. Tak lama seutas senyum terbit di wajah Rio.


"Selamat bersenang-senang," guman Rio sambil menatap ke arah laptop.


"Hoammm....." Baru jam segini kenapa aku mengantuk.


Rio menoleh ke arah Nisa. " Ini karena melihatmu tertidur pulas jadi aku mengantuk," gumannya.


Rio meletakkan laptop itu ke tempat semula, karena dirasa dia sudah selesai. Rio pun memeluk Nisa dengan erat, aroma tubuh Nisa begitu memabukkan , Rio menatap wajah Nisa yang terlihat begitu cantik membuat Rio semakin tenggelam di dalam pesona sang istri.


Rio pun ikut memejamkan matanya, aroma tubuh sang istri membuatnya nyaman.


Sedangkan di tempat lain....


"Maaf bos, kami gagal,"

__ADS_1


Tanpa di duga.


Bugh....


Pria itu memberi bogem mentah ke anak buahnya, sampai sang anak buah terhuyung akibat pukulan keras itu.


"Stttt ...." Pria itu hanya mendesis merasakan sakit atas pukulan dari pria yang dipanggil dengan sebutan bos tadi.


Bruaak.... Kursi kayu tak jauh dari sana pun tak luput dari amukan pria tadi.


"Brengsek..." Teriaknya begitu menggema penuh dengan emosi.


"Kalian semua bodoh, di kasih tugas begitu gampang saja kalian gagal ha...." Bentak pria yang dipanggil bos itu.


"Cuma menculik satu orang saja kalian tak becus," bentak pria itu lagi dengan kesal tatapan mata seakan ingin memakan orang itu hidup-hidup.


Pria yang di bentak itu merasa takut dan gemetar apalagi melihat amarah dari bos mereka semakin membuat nyali pria itu menciut. "Maaf bos, tadi Carl sudah berhasil membujuk dan membawa perempuan itu tetapi saat perempuan itu akan masuk mobil, dia terlihat ragu dan mengurungkan niatnya jadi Carl menariknya paksa namun semua gagal karena suaminya muncul dan menghajar Carl," jelasnya kepada sang bos dengan takut-takut.


"Aku memerintahkan Carl membawa banyak orang bukan hanya satu tetapi 15 orang yang dia bawa tetapi kalian malah kembali cuma 5 orang dan bilang kalian gagal melakukan tugas kecil seperti itu," teriak pria itu penuh emosi.


"Kami melihat banyak teman kami yang kalah jadi melarikan diri karena pria itu begitu kuat dan dia tak sendiri, dia juga membawa begitu banyak pengawal. Kami memilih tak muncul dari persembunyian dan memilih pergi karena kami semua masih ingin hidup," jelasnya dengan menunduk karena takut jawaban yang dia berikan itu tidak sesuai keinginan sang bos.


Mendengar jawaban dari suruhannya tadi, pria itu semakin emosi. Dia meraih gelas di atas meja dan membantingnya kasar ke tanah untuk meluapkan emosinya saat ini.


Pyarrrr.... Gelas itu pecah menjadi pecahan kecil-kecil yang menyebar ke lantai.


Kini asbak yang ada di tas meja yang terbuat dari kaca itu pun tak luput dari amukan pria tadi.


Pyarrrr.... Dia membanting asbak dengan kencang ke lantai.


"Aaahhhhh....." Pria itu berteriak, menjambak rambutnya dengan frustasi.


"Pergi kalian, dasar tak berguna," teriaknya mengusir sisa anak buah yang masih tersisa di sana dengan marah, kesal bercampur emosi.


Kelima pria itu bergegas pergi saat mendengar kemarahan yang keluar dari pria yang mereka panggil bos itu.


"Dasar tidak berguna, percuma aku selama ini mengeluarkan uang untuk kalian. Bahkan menculik satu orang pun tak bisa."


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks, aku gagal."


"Nisa sayang, tunggu aku datang."


"Nisa......"


"Aku akan membawa mu kembali kedalam pelukan ku,"


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha,"

__ADS_1


Pria itu berteriak, meracau berbicara tak jelas. Siapapun yang melihatnya pasti akan mengatakan kalau pria itu sudah gila sedari tadi berbicara dengan berteriak bahkan tertawa seperti orang yang kurang sehat akalnya.


Tiba-tiba pria tadi duduk di kursi, dirinya menunduk sedih, tangannya menopang keningnya dan menjambak rambutnya frustasi.


"Ahhhh......"


Tut....


Pria itu merogoh saku jas miliknya dan menekan tombol terima.


"Halo...."


"Maaf tuan Ansel, perusahaan kita yang di Negara B di bajak," kata pria di sebrang telephon dengan nada terlihat cemas.


"Ha apa maksud kamu, cepat bicara dengan jelas," bentak pria itu.


"Semua data perusahaan kita di sana di retas oleh seseorang, hal itu membuat perusahaan begitu kacau. Dia juga meninggalkan pesan yang aneh menurut saya," jelas pria di sebrang sana.


"Pesan apa?" tanya Ansel.


"Pe-san...." Pria itu terlihat ragu untuk berbicara.


"Cepat katakan," bentak Ansel dengan tak sabar.


"Jangan pernah mengusik apa yang sudah menjadi milikku, atau aku akan menghancurkan hidup mu sampai ke akar-akarnya dan kamu akan menangis bersujud kepada ku," jelas pria di sebrang sana mengatakan dengan jelas tanpa ada dikurangi atau di tutupi.


"Apa tuan telah menyinggung seseorang?" Tanyanya dengan ragu.


Ansel tertegun sejenak, dia tahu maksud pria itu. Ansel tahu siapa yang melakukan semua ini.


Tut....


Tak di sangka panggilan itu di putus sepihak oleh Ansel.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha, ternyata aku kalah," Ansel tertawa seperti orang gila.


"Hiks hiks hiks hiks hiks, aku kalah ma. Pria itu mengambil Nisa ku," kini Ansel menangis tubuh pria itu merosot ke lantai.


Pria yang sedari tadi mengamuk karena anak buahnya gagal menjalankan tugasnya adalah Ansel Harvis.


Pria itu bagaikan orang yang tak punya semangat hidup. Dia menangis sambil memanggil nama Nisa.


"Nisa.... Hiks hiks hiks hiks hiks..."


"Nisa kembalilah...."


"Nisa....."

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2