Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 34


__ADS_3

Rio berjalan dengan perasaan berkecamuk di dalam hatinya, setelah dia keluar dari kamar sang kakak (Arin) pikirannya pun bukannya tenang justru semakin di buat bimbang dengan ucapan sang kakak tadi, entahlah mungkin benar yang dikatakan oleh kakak kalau Rio hanya menganggap perempuan itu sebagai pelarian saja, Rio tidak mungkin jatuh cinta kepada wanita itu secepat ini.


Yang Arin rasakan adalah perasaan begitu takut kalau yang Rio rasakan saat ini bukannya cinta melainkan tanggung jawab karena pernah mencoba melecehkan wanita itu, namun saat Arin tahu kalau Rio juga sudah putus dengan Renata pun berfikir kalau wanita itu hanya pelarian adiknya saja, entahlah Arin juga ikut pusing di buatnya.


Arin takut adiknya itu salah menilai rasa yang ada di hatinya saat ini, untuk itu Arin meminta sang adik untuk merenungkan sesaat apa yang di rasakan, Arin ingin sang adik memastikan perasaannya agar dia tak menyesali semuanya nanti.


Lamunan Rio terhenti saat mendengar seseorang berteriak dari arah yang cukup dekat dengan nya saat ini.


"Aku minta maaf,"


Alis Rio mengkerut saat terdengar suara seperti orang sedang mengobrol dari arah depan, Rio pun melangkahkan kakinya dengan pelan, entahlah dia begitu penasaran dengan apa yang tengah mereka bicarakan.


Rio mengedarkan pandangannya saat ini ke seluruh arah.


''He he he he he he he he, kenapa kamu jadi kepo begini sih,'' kata Rio kepada dirinya sendiri saat ini.


Rio terkekeh lucu mengelengkan kepalanya saat merutuki kekonyolannya ingin menguping pembicaraan orang lain saat ini.


DEG


Rio terpaku sesaat saat melihat siapa yang tengah berdebat di sana.


''Denis...''

__ADS_1


Sungguh Rio tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.


"****....'' Rio mengumpat kesal saat mengetahui siapa yang di lihat nya saat ini.


Rio mengepalkan tangan nya dengan begitu kuat, entahlah Rio begitu kesal melihat pemandangan di depannya.


Apalagi Rio dengan jelas mendengar setiap kata yang terucap dari kedua orang itu.


Rio mendengus kesal.


"Sungguh malang nasib mu, baru saja memulai hubungan sudah di tinggal kan, ck dasar Denis sialan," grutu Rio lalu meninggalkan tempat itu, dia sudah muak melihat drama di depan nya saat ini mengingat wajah Nisa membuat Rio kasihan.


Rio memilih pergi, dia tak ingin semakin di landa emosi melihat itu semua.


.


.


Hiruk pikuk ruangan itu sedikit berkurang mengingat hari semakin gelap.


Beberapa tamu sudah pulang dan Tio melirik ke arah Amanda yang sudah terlihat kelelahan.


"Ayo kita masuk," ajak Tio menatap ke arah sang istri penuh senyuman.

__ADS_1


"Tetapi masih ada beberapa orang," lirih Amanda.


"Biarkan saja, kesehatan kamu lebih penting," kata Tio terdengar begitu menyejukkan hati Amanda saat ini.


Bunda melihat menantunya itu pun ikut mendekat ke arah mempelai.


"Kenapa nak?" Tanya bunda.


"Ini Amanda sudah lelah, jadi Tio ingin mengajak Amanda ke kamar tetapi di tolak karena dia merasa tak enak meninggalkan tamu-tamu yang masih tersisa di sini," kata Tio menjelaskan.


"Serahkan saja semua sama bunda dan kak ipar mu, kalian berdua kembali lah ke kamar untuk istirahat," kata bunda penuh perhatian.


"Tetapi bunda juga harus jaga kesehatan, aku tak ingin bunda kelelahan," protes Tio.


"Bunda tidak apa-apa biar aku yang menjaganya, lagian tinggal satu jam lagi mungkin semua tamu akan pulang," jelas Abraham menyahuti pembicaraan mereka.


"Terima kasih kak," kata Tio mengucapkan terima kasih karena Tio tak mungkin membantah keputusan kakak ipar nya itu.


Tio maupun Amanda berjalan meninggalkan aula pesta, tubuh nya sudah lelah tersenyum manis menyambut ratusan mungkin lebih para tamu.


Amanda sering mengeluh sedari tadi karena tamu tak kunjung habis.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2