Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 95


__ADS_3

"Mau," tawar Nisa menyodorkan sebuah sosis bakar yang sudah di gift separuh itu ke depan mulut Rio.


Rio menghela nafas panjang, bagaimana tidak sekarang istrinya itu doyan sekali ngemil dan yang lebih parahnya seperti ini. Nisa akan menyodorkan makanan ke depan nya kalau Rio menolaknya Nisa akan sedih, menangis atau menuduhnya macam-macam. Rio akan semakin di buat pusing sendiri, terus kalau Rio menerima suapan dari sang istri justru akan semakin bahaya buat dirinya, bagaimana tidak bahaya karena Nisa akan menyuapi dirinya terus sampai sosis bakar yang ada di piringnya habis dan Nisa hanya memakannya satu tusuk saja. Hebat kan (wkwk nasib mu Rio).


"Hadeh mulai lagi serba salah menghadapi tingkah laku bumil, harus bergadang lagi buat olahraga untuk membakar lemak akibat cemilan bumil. Sabar Rio demi anak mu, moga aja kalau sudah keluar kelakuannya tidak aneh-aneh," guman Rio tentunya di dalam hati.


"Aaakkk dong sayang, buka mulutnya lebar-lebar. Apa kamu tidak mau makan makanan sisa ku ya," tanya bumil yang sudah sensi gara-gara pak suami yang tak kunjung membuka mulutnya.


"Mau kok, nih ku buka mulutnya lebar. Kalau kurang lebar bawa karung saja," kata Rio tersenyum manis agar bumil itu tidak berfikiran yang lain.


"Aaa....." Dan benar saja Rio membuka mulutnya lebar sesuai permintaan dari sang istri.


Mmmm.... Rio mengunyah sosis itu dengan pelan agar Nisa tak menyuapi dirinya lagi.


"Ayo sayang cepat dong makannya, ini masih banyak," kata Nisa dengan senang menunjukkan tumpukan sosis di atas piring.


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks...." Ingin rasanya Rio menangis di dalam hati, dia tidak akan bisa tidur karena perutnya kekenyangan dan harus berolahraga untuk membakar lemak itu nanti. Ah membayangkan saja Rio sudah ngeri.


"Masa tiap malam aku olahraga, aku harus menolak dengan halus atau bagaimana? Ahh pusing," grutu Rio di dalam hatinya.


Tiba-tiba muncul ide di otaknya saat ini.


"Bentar yang ini belum abis," protes Rio.


"Dih lelet banget sih, biasanya kan kamu makannya cepat," kata Nisa yang masih menunggu Rio selesai mengunyah.


"Aa...." Rio membuka mulutnya lagi.


Namun saat sosis itu baru mau masuk ke dalam mulutnya, tiba-tiba Rio mundur ke belakang.


"Kenapa sayang?" Tanya Nisa mengerutkan keningnya.


"Aduh duh duh.... Kok tiba-tiba perutku sakit ya," kata Rio memegang perutnya dan merintih menahan sakit.

__ADS_1


"Ha kenapa? Kamu kok bisa mendadak sakit begini sih? Bagaimana ini, apa ku panggilkan Mr Albert ke sini untuk memanggilkan dokter ," tawar Nisa dengan wajah cemas, sosis di tangannya itu berpindah tepat kembali ke atas piring membuat Rio yang melihatnya tersenyum di dalam hati.


Saat Nisa menoleh ke arahnya, Tio buru-buru merintih lagi.


"Ah tidak perlu, aku cuma mulas karena terlalu banyak makan sambal mungkin tadi pagi," tolak Rio dengan cepat.


"Kamu sih nakal,sudah tahu tak bisa makan sambal sebanyak itu masih saja di habiskan," kata Nisa dengan lancar menyalahkan sang suami.


Rio yang mendengarnya itu semakin miris dengan dirinya sendiri. Padahal tadi pagi dia terpaksa makan semua sambal itu gara-gara kelakuan sang istri yang menuangkan semua sambal itu ke dalam mangkuk dan mencampurnya dengan bumbu rujak dan tak lupa juga irisan buah yang siap meluncur ke dalam mangkuk. Rio terpaksa harus menghabiskan semuanya karena Nisa baru saja mencicipi 5 suap namun Nisa langsung bilang kalau rujak itu terlalu pedas dan dia tidak mau anak di dalam perutnya nanti bisa kepedasan, dengan alasan mubazir jadi Nisa meminta Rio menghabiskan semuanya.


"Ya sudah aku ke toilet dulu ya," kata Rio cepat berlari ke toilet karena tak ingin mendengar celotehan sang istri yang sedikit menyebalkan seperti tadi.


Rio pun masuk ke dalam kamarnya, bukannya pergi ke toilet Rio justru berjalan menuju ke kulkas kecil di sudut kamar dan mengambil minuman dingin dan di bawa menuju ke arah balkon kamarnya.


Dia bersantai sambil menikmati udara sore hari di temani minuman dingin untuk menyegarkan pikirannya saat ini.


"Untung saja aku punya alasan buat kabur ," kata Rio dengan tersenyum lebar.


~Flashback on~


"Ssyyyyytt..... Hu ha hu ha hu ha hu ha.... Pedas," kata Nisa mendesis karena kepedasan.


"Sayang ini terlalu pedas, kamu habiskan saja ya. Tidak baik membuang-buang makanan," kata Nisa dengan senyum manisnya.


G L E E K....


Rio tak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya bisa menelan ludahnya kasar melihat biji cabai itu membuatnya bergidik ngeri sendiri.


"Aaakk sayang," kata Nisa menyuapi Rio rujak buatannya tentunya bukan rujak biasa karena dia membuatnya dengan 50 cabai.


"Enak sayang?" Tanya Nisa dengan polosnya.


"Emm....." Kata Rio mengangguk.

__ADS_1


Satu suapan,


Dua suapan


Tiga suapan


Sampai ke 10 suapan keringat Rio mulai bercucuran.


"Eh sayang itu apa?" Kata Rio menunjukkan ke arah atas pohon mangga.


Keduanya saat ini sedang berada di taman menikmati indahnya pagi dengan rujak buatan sang istri.


Melihat Nisa yang mengikuti jari telunjuknya, tangan Rio yang satunya dengan cepat mengambil sisa rujak yang ada di atas piring dan memasukkannya ke dalam plastik.


"Mana tidak ada apa-apa," kata Nisa yang memperhatikan pohon tadi.


Nisa langsung menoleh ke arah Rio, Rio bernafas lega karena dia sudah berhasil memasukkan Bulusan plastik yang berisi rujak itu ke dalam saku celana pendeknya.


"Oh tidak ada ya, tadi ku kira ada tupai," elak Rio.


"Oh mungkin dia sudah lari," jawab Nisa dan di angguki cepat oleh Rio.


Nisa pun beralih menatap ke arah piring. "Lho kok tinggal 4 sih, perasaan tadi masih banyak," kata Nisa dengan heran menatap ke arah piring dan meja.


"Kamu kan tidak sadar kalau semuanya sudah kamu suapi ke aku," kata Rio meyakinkan.


"Em mungkin juga sih," kata Nisa.


"He he he he he, untung Nisa sangat polos dan percaya saja kalau tidak bisa mulas aku makan segitu banyaknya,"


~Flashback off~


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2