Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 16


__ADS_3

Sedangkan di tempat berbeda....


Seorang wanita sedang berjalan bergandengan tangan dengan seorang pria.


"Sayang bagaimana menurut kamu?" Tanya sih wanita dengan penuh rayuan.


Wanita itu berkali-kali menggoyangkan lengan si kekasih nya itu karena tak kunjung mendapat jawaban dari kekasihnya, dia begitu kesal. Pria itu pun menghela nafas panjang mendengar permintaan dan kekasih yang menurutnya sangat konyol itu.


" Sebenarnya sih aku tak rela kalau kamu harus melakukan itu semua, jujur saja kalau untuk menghidupi kamu sih aku mampu meskipun pekerjaan ku cuma mandor di pabrik dan aku bukan orang kaya tetapi aku masih mampu membuatkan rumah sederhana untuk keluarga kecil kita," jelas pria itu meyakinkan kekasihnya.


"Sayang, ini kesempatan kita untuk bisa kaya. Meskipun nanti pria itu meminta menikah dengan ku tetapi tenang saja karena cinta ku hanya untuk kamu," bujuk sang wanita.


"Lilis sayang, jujur aku tak rela melihat mu bersanding dengan pria lain di pelaminan nanti," pinta laki-laki itu yang tak lain adalah kekasih dari Lilis saat ini.


Ya wanita itu tak lain adalah Lilis, karena kemiskinan membuatnya terobsesi menjadi Lilis yang serakah akan harta. Saat ini Lilis sedang bersama kekasih nya yang tak lain adalah Toni, Lilis berusaha membujuk Toni agar mau membantu rencananya agar dia berhasil.


"Ish mas Toni mah tidak percaya banget sih sama Lilis," grutu Lilis mencebikkan bibirnya.


"Bukan nya begitu, aku begitu sayang sama kamu, aku takut kamu melupakan ku dan lebih memilih pria itu," jelas Toni mengungkapkan kegelisahan yang ada di pikirannya saat ini.


"Sudahlah, kesempatan bagus tidak datang 2x, aku sudah meminta orang untuk menyelidiki pria itu dan kamu tahu sayang kalau pria itu ternyata orang kaya, ya dia pengusaha muda yang sukses dan besok dia akan mengadakan resepsi pernikahan di hotel mewah, aku tidak ingin kesempatan ini hilang begitu saja," jelas Lilis dengan mata berbinar tanpa memikirkan perasaan kekasih nya saat ini.


Meskipun Toni sedikit kecewa dengan permintaan sang kekasih, namun demi rasa cinta nya dia pun sanggup memenuhi permintaan kekasihnya itu.


Toni menghela nafas panjang, dia berusaha menerima keinginan kekasihnya itu.


"Fyuuh... Baiklah, tetapi kamu harus berjanji kalau kamu selamanya tidak akan meninggalkan ku," pinta Toni.


"Tenang saja sayang," kata Lilis terdengar penuh percaya diri.


Lilis pun memeluk sang kekasih.


'Ha ha ha ha ha ha ha, kalau aku sudah bisa menguasai pria itu sepenuhnya tentu saja aku akan meninggalkan mu,' batin Lilis tertawa jahat di dalam hatinya.


Lilis pun melepaskan pelukannya menatap sang kekasih dengan senyum puas.


"Ayo kita belanja lagi," ajak Lilis.


"Tetapi makanan mu belum habis," kata Toni saat melihat makanan di meja masih banyak.


"Aku kenyang, aku masih ingin belanja tas," rengek Lilis dengan suara manja nya itu.


"Hmm... Ya sudah, ayo," jawab Toni dengan pasrah sambil mengusap lembut pipi Lilis dengan begitu lembut.


"Tunggu di sini sebentar, aku mau bayar dulu," pinta Toni.


Toni pun berlari menuju ke arah kasir.


"Ck enak punya pacar bucin bisa di manfaatin," kata Lilis sambil menatap Toni dari kejauhan dengan senyum meledek.


Tak lama Toni pun menghampiri Lilis.


"Ayo," ajak nya.

__ADS_1


Keduanya pun bergandengan tangan meninggalkan tempat itu.


...-----------...


Sore hari.....


Tepatnya jam 16.00


Denis sudah bersiap di depan menunggu kedatangan Nisa.


Berkali-kali denis melihat ke arah pergelangan tangannya dengan tak sabar, menanti datangnya wanita yang sudah mencuri hatinya dalam hitungan waktu beberapa minggu tersebut.


Game berkali-kali menatap kearah pintu menantikan sosok wanita cantik itu.


"Bay..."


Teriak Nisa melambaikan tangan nya ke arah Rere.


Terdengar suara wanita yang tak begitu asing telinganya pembuatan melewati bah bibirnya tersenyum manis.


"Nisa..."


Denis berteriak cukup keras membuat Nisa menoleh ke arahnya.


Dengan kikuk Nisa menghampiri Denis.


"Lho kamu belum pulang," tanya Nisa heran.


"Kenapa?"


"Sudah jangan banyak tanya, pokonya aku ingin antar kamu pulang titik, tidak ada penolakan," jelas Denis dengan sedikit paksaan membuat Nisa pun pasrah di buatnya.


Denis membuka pintu mobil mempersilahkan Nisa untuk masuk.


"Silahkan tuan putri," kata Denis membuat Nisa meleleh di buatnya dengan perhatian kecil itu.


Nisa pun masuk ke dalam mobil.


Brakkk....


Pintu mobil pun di tutup, Denis berjalan santai memutar ke arah pintu satunya dengan senyum cerah, secerah matahari pagi.


"Denis...."


Teriak seseorang membuat Denis pun menoleh menatap ke arah pria itu dengan seulas senyum.


"Hei apa kabar?" Sapa Denis saat pria itu sudah berada di depan nya saat ini.


"Alhamdulillah baik, kamu bagaimana?" Tanya pria itu balik.


"Seperti yang kamu lihat," jawab Denis senyum tak luntur dari wajahnya.


"Ck terlihat sekali dari wajah mu," sinis pria itu.

__ADS_1


Sedangkan Nisa memperhatikan obrolan mereka dari dalam mobil.


Matanya terbelalak kaget saat melihat wajah pria itu. Tiba-tiba keringat dingin muncul di wajah Nisa.


"Di-a tetapi kenapa terlihat berbeda, gaya rambut nya sama seperti terakhir ku lihat di hotel waktu itu sedangkan kemarin gaya rambutnya berbeda, aneh....." Guman Nisa dengan lirih namun di sertai kebingungan.


Di luar mobil.


"Kapan nih nyusul Tio?" Tanya Denis kepada pria di depannya yang tak lain adalah Rio.


"Ha ha ha ha ha ha ha, nunggu wanita itu lelah bersembunyi," canda Rio saat ini.


"Ha ha ha ha ha ha, ada-ada saja kamu," jawab Denis ikut tertawa.


Sedangkan Nisa semakin berdebar mendengarkan ucapan dari pria itu.


Deg...


"Apa dia tahu mengenai aku."


Nisa di buat ketakutan sendiri, meskipun malam itu tidak terjadi apa-apa.


"Siapa tuh perempuan, cepat banget sih move on kamu," kata Rio melirik ke dalam mobil tetapi Rio tak bisa melihat perempuan itu dengan jelas karena kaca mobil tak begitu jelas tertutup debu.


"He he he he he, masih pdkt do'a kan saja biar aku cepat nyusul Tio," kata Denis menggoda Rio.


"Om Rio...." Teriak Aurel begitu kencang.


"Eh ku tinggal dulu ya, tuh anak kak Abraham dah rewel," kata Rio berpamitan pergi.


Brak....


Denis pun masuk ke dalam mobil.


"Eh itu siapa?" Tanya Nisa berpura-pura.


"Oh itu Rio teman ku," jelas Denis sambil memasang sabuk pengaman.


"Rio??"


"Iya Rio, dia itu kembar," kata Denis menjelaskan.


"Eh kamu pasti tak mengerti kan, jangan di pikirin, kamu juga gak kenal dengan dia," kata Denis membuat Nisa terpaksa mengangguk.


Niatnya ingin mencari tahu tentang pria itu namun Denis tak mau menjelaskan lagi, Nisa bertanya-tanya dalam hati apa yang bertemu dengan dia itu Rio tetapi kenapa nama di KTP itu Tio.


'Ah sudahlah, itu bukan urusan ku,' batinnya.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2