Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 58


__ADS_3

Tio dan Amanda keduanya berjalan bergandengan tangan menyusuri indahnya malam di kota K. Suasana begitu ramai banyak para pejalan kaki yang sekedar berjalan menikmati suasana di negara ini ada juga yang ikut memanjakan lidah mereka dengan beraneka ragam makanan yang di jual di sepanjang jalan ini. Ya di sepanjang jalan ini terdapat penjual beraneka ragam makanan atau jajanan khas negara ini.


Sebenarnya Tio merasa malas untuk sekedar jalan-jalan karena tubuhnya masih lelah mengingat selama di dalam pesawat tadi Amanda menjadikan tangan Tio sebagai bantalan, namun karena sang istri yang merengek sedari tadi ingin jalan-jalan jadilah keduanya berada di sini, Tio tak ingin istrinya itu sedih selama berada di negara ini, Tio ingin memanjakan sang istri selama berada di sini.


Sepanjang menyusuri jalanan ini, mata Amanda bergerak melirik ke sana-kemari menatap ke arah makanan yang di jual oleh para pedagang. Memikirkan makanan mana yang di jajakan itu membuat Amanda tak sabar ingin mencicipi semuanya saat ini juga. Semua terasa mengiurkan di mata Amanda saat ini.


"Ah tak sabar rasanya ingin mencicipi semuanya," guman Amanda dengan mata berbinar.


"Emang muat tuh perut," sindir Tio mengelengkan kepalanya melihat sang istri yang seperti anak kecil.


"He he he he he, kan ada kamu yang bantu aku menghabiskan semuanya nanti," jawab Amanda dengan enteng tak lupa tertawa kecil dan begitu terlihat mengemaskan di mata sang suami.


"Dasar...." Celetuk Tio.


"Sayang, ayo kesana." Ajak Amanda menarik tangan Tio dengan erat berlari kecil menuju penjual makanan yang terlihat begitu ramai oleh pembeli.


"Ck....." Tio berdecak kesal karena sang istri begitu antusias menariknya apalagi tatapan berbinar dari sorot mata sang istri. Tio hanya bisa menghela nafas kasar mengikuti langkah kaki sang istri tercintanya itu.


Amanda menerobos masuk ke dalam sana, akhirnya Amanda sampai di depan 0enjual makanan tadi. Dia mengamati menu yang ada di kertas yang tertempel di depan stand makanan itu, dia memilih menu yang akan dia pesan.


"Pak beli 2," kata Amanda menunjuk ke arah makanan yang dia pilih. ( Anggap saja Amanda sedang berbicara dengan bahasa negara K ya gaes).


Tak lupa Amanda menunjuk ke meja yang mereka tempati nanti, di sana sudah ada Tio yang menunggu dengan diam pandangan mata nya tak lepas dari sang istri.


Amanda berdecak kesal melihat pemandangan yang menyulut api di dalam hatinya, bagaimana tidak saat ini ada 2 perempuan dengan pakaian mini dan dandanan yang terlihat begitu waow sedang mencari perhatian dengan sang suami.


"Baru saja di tinggal bentar, sudah ada lalat yang mengerubungi suami ku. Nasib punya suami tampan," guman Amanda kesal, ingin rasanya dia menghampiri dan melempar ke dua ulat bulu itu.

__ADS_1


Setelah selesai memesan makanan itu, Amanda bergegas berjalan menuju ke meja Tio. Namun setelah mengamati ternyata dari jauh, Amanda di buat tersenyum lebar bagaimana tidak sang suami terlihat begitu dingin bahkan tak menanggapi keduanya, ah Amanda bersyukur mempunyai suami seperti kulkas 2 pintu itu, tak akan goyah dengan godaan dari ulat bulu.


Amanda pun sampai ke meja Tio dan langsung duduk di dekat sang suami. "Sayang maaf ya lama menunggu, duuuh di sana ramai banget."


"Iya sayang tidak apa-apa," jawab Tio tersenyum manis berbeda 180 derajat saat berhadapan dengan dua perempuan tadi, terlihat begitu cuek, dingin bahkan menatap ke duanya dengan tajam. Tak lupa Tio pun mengecup pipi sang istri, ah kejadian manis itu membuat kedua perempuan yang tadi mencoba mendekat ke arah Tio terlihat begitu kesal.


Amanda melirik ke arah 2 perempuan tadi yang memilih duduk tak jauh dari meja Tio, Amanda tersenyum sinis ke arah 2 perempuan tadi.


'Ck mau mau merayu suami ku, mimpi,' batin Amanda tak lupa menatap sinis ke arah keduanya.


Amanda memeluk lengan Tio dengan begitu mesra, dia terlihat ingin bermanja-manja dengan Tio dan Tio pun mengelus rambut sang istri dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


Duh siapapun yang melihat mereka pasti di buat iri, termasuk ke dua wanita tadi.


Tak lama pesanan Amanda pun datang.


"Stttt jangan berteriak, tuh lihat dari mereka ada yang menatap heran ke arah sini.


"He he he he he, kelepasan abis lihat makanan ini jadi tak sabar ingin mencicipi nya," jawab Amanda cengengesan.


"Ya sudah ayo makan," kata Tio.


Tiba-tiba Tio memasukkan potongan kecil makanan itu kedalam mulut Amanda saat Amanda mau menjawab ucapan dari Tio.


"Emm mmm mm em m m em em m...." Amanda mengunyah makanan itu terus ingin berbicara memprotes tindakan jahil sang suami namun suaranya terdengar tak jelas karena mulutnya berisi makanan.


"Sttt kunyah dulu, jangan bicara nanti kamu tersedak," kata Tio memperingatkan sang istri.

__ADS_1


Amanda pun menurut, dia memilih melanjutkan makannya dan melupakan kekesalannya tadi. Tangan Amanda sibuk memasukkan makanan itu satu persatu ke dalam mulutnya.


Amanda menyodorkan makanan di dalam sendok yang Amanda genggam itu ke arah Tio.


"Coba icip sedikit saja," pinta Amanda.


Ya sedari tadi Tio tak memakan makanan itu satu pun, Tio lebih memilih menikmati pemandangan sang istri yang makan dengan lahap.


"Aku tidak ingin makan," tolak Tio. Memang Tio sedang tak lapar jadi dia menolak permintaan sang istri.


"Ayolah," Amanda menatap Tio dengan tatapan memelas, tangannya sedari tadi menggantung di depan wajah sang suami hendak menyuapi Tio namun di urungkan karena penolakan dari sang suami.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau, aku cari orang lain saja yang mau aku suapi,"


Wajah Amanda langsung terlihat datar saat mengucapkan kata-kata tadi, dia menarik kembali tangannya karena Tio yang sudah menolaknya.


Mendengar ucapan dari sang istri, Tio langsung melotot dan menatap sang istri tajam.


"Coba saja kalau pria itu berani menerima suapan kamu, ku pastikan besok dia ku masukkan rumah sakit," kata Tio dengan tatapan tajam penuh ancaman.


Glekk


'Serem amat suami ku, eh salah dia sendiri tadi menolak ku suapi,' gerutu Amanda di dalam hati nya saat ini.


Hap...


Tio menarik tangan Amanda kemudian memasukkan makanan di dalam sendok tadi ke mulutnya.

__ADS_1


"Emm lumayan tidak buruk," kata Tio saat mencoba mengunyah makanan itu. Perut yang masih belum lapar ditambah dengan warnah makanan tadi terlihat pedas membuatnya mengurungkan niatnya untuk mencicipi makanan yang tersaji di meja. Tio mengakui ternyata tampilan tidak membuktikan makanan itu ternyata enak menurut Tio, namun setelah merasakan membuat Tio ingin mencicipi lagi namun dia terlihat begitu gengsi.


__ADS_2